Blog

  • Serial Pelatihan “Menulis Laporan Efektif” Sesi 4-6

    Mitra yang terhormat,

    Salam sejahtera,

    Serial Pelatihan Menulis Laporan Efektif memasuki pertemuan minggu kedua. Setelah belajar bagaimana menyunting tulisan, mengenal prinsip laporan efektif, dan mendalami teknik menulis ringkasan eksekutif, kali ini Pengajar dari Tempo Institute akan mengajak peserta bagaimana mengemas data dan memanfaatkan infografis.Laporan tak hanya berbentuk tulisan, tapi juga menampilkan infografis yang menarik dan informatif. Dengan demikian, laporan akan menjadi lebih mudah dipahami oleh para pembaca.

    Anda pasti tidak mau melewatkan pertemuan minggu kedua yang akan dilaksanakan pada:

    Yuk, segera daftar di bit.ly/MenulisEfektifTempo
  • Kelas Meditasi Kesehatan dan Ketenangan ke-8

    Workshop \”Meditasi Kesehatan dan Ketenangan\” kembali hadir bersama Program Lingkar Madani—yang didukung The David and Lucile Packard—bekerja sama dengan Bali Usada.

    Kita akan memasuki pertemuan kedelapan, dan merupakan pertemuan terakhir dari rangkaian Workshop Meditasi Kesehatan dan Ketenangan yang telah berlangsung sejak 5 Februari 2022.

    Workshop Meditasi Kesehatan dan Ketenangan pertemuan ke-8 akan dilaksanakan pada:
    Hari, Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
    Pukul : 09.00 WIB – 11.00 WIB
    Platform: Zoom Meeting
    Instruktur: Martinus Christianto (Instruktur Senior Bali Usada)
    Anda dapat mengikuti pertemuan kedelapan ini dengan menggunakan link join meeting yang sama seperti pertemuan sebelumnya.
    Kami berharap para Mitra Program Lingkar Madani dapat mengikuti seluruh rangkaian, agar mendapatkan hasil yang maksimal dan menerapkan keterampilan untuk menjaga kesehatan yang terbentuk dari keharmonisan antara mental, fisik, dan spiritual kita.
    Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Sudarwanto via Whatsapp di +62-852-7200-1222.
    Terima kasih dan Sampai jumpa!
    Salam,
    Tim Lingkar Madani
  • Workshop #2 Revolusi Digital Kampanye Sosial \”Strategi Menyusun Amplifikasi Digital\”

    Ada kosakata “amplifikasi” pada judul pelatihan seri Revolusi Digital Kampanye Sosial Sesi Kedua. Kata tersebut mempunyai arti perluasan atau pengembangan, jika dikaitkan dengan topik, bermakna, kampanye sosial yang terjangkau luas, atau bisa dikatakan banyak dibaca atau dilihat orang. Barajiwa Anggit Sentausa, Editor KokBisa, narasumber pelatihan sesi kedua, memberikan materi bagaimana Strategi Menyusun Amplifikasi Digital, pada tanggal 25 Maret 2022 via Zoom Meeting.

    Menurut Barajiwa, kebanyakan konten edukasi yang bertebaran di media sosial itu berbentuk video. Tidak mudah membuat video, kita perlu menyusun alur, dan hal lainnya. Namun, hal itu menjadi tantangan, ditambah bagaimana memproduksi konten edukasi yang ditonton orang banyak. 

    Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali audiens atau persona. Sebab, setiap konten punya audiens masing-masing. Kita harus tahu tujuan atau cita-cita, kesibukan dan hobi, tontonan yang disukai, misalnya, juga kapan waktu menonton dan platform yang mereka gunakan. Dari persona tersebut, kita dapat menggali elemen-elemen untuk menentukan topik, judul, gaya penyampaian, sampai soal musik, figur yang disukai, dan durasi konten, dan sebagainya. Lalu, Barajiwa dan tim campaign.com memberikan worksheet yang perlu diisi oleh peserta. Beberapa kolom yang perlu diisi tidak hanya segmentasi, target, dan posisi, tapi juga persona tentang gender, usia, lokasi, dan pekerjaan, kebiasaan, serta kanal yang sering dipakai. 

    Langkah kedua, setelah konten dipublikasi, kita melakukan analisa, mengapa sedikit ditonton atau sebaliknya. Setiap platform mempunyai alat analisis yang bisa digunakan sebagai ukuran seberapa besar konten yang tersebut menjangkau audiens, misalnya. 

    Langkah ketiganya, bikin konten. Kunci dari konten yang berhasil adalah kekuatan cerita. Kita harus berpikir kreatif agar konten edukasi tidak membosankan, tapi justru menarik perhatian. Barajiwa bilang walaupun konten yang disampaikan edukatif, namun, perlu disampaikan secara menghibur. Contoh bikin video biologi dengan judul Kisah Duel Abadi Ayam vs Telur. Atau konten pelajaran fisika dengan judul Kisah Keajaiban Pesawat Terbang. Bagaimana menurut kamu, menarik, ‘kan? Pada bagian ini yang terpenting ialah konten harus logis. 

    Membuat storytelling yang menarik perhatian, tidak hanya menyontek dari literatur, tapi kita perlu memahami, dan rajin membaca buku, atau majalah, atau koran, bahkan postingan orang lain. Serunya, narasumber tidak pelit membagikan “rahasia” kesuksesan storytelling-nya KokBisa. Tenang saja, kamu yang tidak ikutan workshop kedua, kami akan bisikan di sini. Ssst, tahan nafas, ya. 

    Kunci menyusun storytelling, pertama, entertaining first, tahu, kan Bahasa Indonesianya? Jadi, bikin dulu orang penasaran dengan pembukaan yang menghibur atau jenaka, baru berikan edukasinya. Kedua, hindari jargon atau istilah rumit, gunakan bahasa sederhana. Kita menulis untuk dimengerti, bukan untuk terlihat pintar. Kalau mau tetap pakai jargon, kita harus menjelaskannya. Ketiga, gunakan analogi biar pesan yang ingin disampaikan semakin dipahami audiens. Keempat, berikan contohnya. Kelima, gaya bercerita atau penyampaian yang menarik, antusias, dan menggunakan perspektif kita agar pembaca merasakannya.

    Selamat mencoba, ya, teman-teman. Kalau  gagal, bikin lagi, sampai kita semua sukses mengkampanyekan program-program organisasi.

     

    Baca juga: Workshop #3 Revolusi Digital Kampanye Sosial \”Mengukur Dampak dan Efektivitas Kampanye Sosial Digital\”

  • WORKSHOP #2 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “STRATEGI MENYUSUN AMPLIFIKASI DIGITAL”

    Ada kosakata “amplifikasi” pada judul pelatihan seri Revolusi Digital Kampanye Sosial Sesi Kedua. Kata tersebut mempunyai arti perluasan atau pengembangan, jika dikaitkan dengan topik, bermakna, kampanye sosial yang terjangkau luas, atau bisa dikatakan banyak dibaca atau dilihat orang. Barajiwa Anggit Sentausa, Editor KokBisa, narasumber pelatihan sesi kedua, memberikan materi bagaimana Strategi Menyusun Amplifikasi Digital, pada tanggal 25 Maret 2022 via Zoom Meeting.

    Menurut Barajiwa, kebanyakan konten edukasi yang bertebaran di media sosial itu berbentuk video. Tidak mudah membuat video, kita perlu menyusun alur, dan hal lainnya. Namun, hal itu menjadi tantangan, ditambah bagaimana memproduksi konten edukasi yang ditonton orang banyak.

    Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali audiens atau persona. Sebab, setiap konten punya audiens masing-masing. Kita harus tahu tujuan atau cita-cita, kesibukan dan hobi, tontonan yang disukai, misalnya, juga kapan waktu menonton dan platform yang mereka gunakan. Dari persona tersebut, kita dapat menggali elemen-elemen untuk menentukan topik, judul, gaya penyampaian, sampai soal musik, figur yang disukai, dan durasi konten, dan sebagainya. Lalu, Barajiwa dan tim campaign.com memberikan worksheet yang perlu diisi oleh peserta. Beberapa kolom yang perlu diisi tidak hanya segmentasi, target, dan posisi, tapi juga persona tentang gender, usia, lokasi, dan pekerjaan, kebiasaan, serta kanal yang sering dipakai.

    Langkah kedua, setelah konten dipublikasi, kita melakukan analisa, mengapa sedikit ditonton atau sebaliknya. Setiap platform mempunyai alat analisis yang bisa digunakan sebagai ukuran seberapa besar konten yang tersebut menjangkau audiens, misalnya.

    Langkah ketiganya, bikin konten. Kunci dari konten yang berhasil adalah kekuatan cerita. Kita harus berpikir kreatif agar konten edukasi tidak membosankan, tapi justru menarik perhatian. Barajiwa bilang walaupun konten yang disampaikan edukatif, namun, perlu disampaikan secara menghibur. Contoh bikin video biologi dengan judul Kisah Duel Abadi Ayam vs Telur. Atau konten pelajaran fisika dengan judul Kisah Keajaiban Pesawat Terbang. Bagaimana menurut kamu, menarik, ‘kan? Pada bagian ini yang terpenting ialah konten harus logis.

    Membuat storytelling yang menarik perhatian, tidak hanya menyontek dari literatur, tapi kita perlu memahami, dan rajin membaca buku, atau majalah, atau koran, bahkan postingan orang lain. Serunya, narasumber tidak pelit membagikan “rahasia” kesuksesan storytelling-nya KokBisa. Tenang saja, kamu yang tidak ikutan workshop kedua, kami akan bisikan di sini. Ssst, tahan nafas, ya.

    Kunci menyusun storytelling, pertama, entertaining first, tahu, kan Bahasa Indonesianya? Jadi, bikin dulu orang penasaran dengan pembukaan yang menghibur atau jenaka, baru berikan edukasinya. Kedua, hindari jargon atau istilah rumit, gunakan bahasa sederhana. Kita menulis untuk dimengerti, bukan untuk terlihat pintar. Kalau mau tetap pakai jargon, kita harus menjelaskannya. Ketiga, gunakan analogi biar pesan yang ingin disampaikan semakin dipahami audiens. Keempat, berikan contohnya. Kelima, gaya bercerita atau penyampaian yang menarik, antusias, dan menggunakan perspektif kita agar pembaca merasakannya.

    Selamat mencoba, ya, teman-teman. Kalau  gagal, bikin lagi, sampai kita semua sukses mengkampanyekan program-program organisasi.

  • Workshop Menulis Laporan Efektif Sesi 2-3 \”Prinsip Laporan Efektif dan Ringkasan Eksekutif\”

    Kahoot.it, sebuah aplikasi interaktif, membuka  pelatihan untuk mengingat materi hari kemarin. Media pembelajaran ini sebetulnya sederhana, tapi interaksi yang tercipta dan soal yang diciptakan Tim Pengajar Tempo Institute, merangsang peserta melihat kemampuan diri tentang kalimat efektif dan menyunting tulisan. 

    Pada hari kedua, Serial Pelatihan Laporan Efektif, Sesi Kedua, bersama dua narasumber yang terbagi lagi menjadi dua materi, yakni, pertama, Prinsip Laporan Efektif dengan pengajar Philipus Parera, yang dimulai pukul 9 sampai 12 siang, dan kedua, Teknik Menulis Ringkasan Efektif, Yandhie Arvian, 13.00—15.00 WIB. 

    Selain laporan harus mudah dipahami dan menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik, kita juga harus tahu sasaran pembaca, penggunaan informasi yang tepat, gaya laporan, dan berpikir impak yang akan diperoleh. Menurut Philipus, laporan efektif itu menyampaikan permasalahan yang bisa dimengerti oleh pembaca, sama halnya dengan penggunaan data atau informasi. Judul, ringkasan eksekutif, dan pendahuluan pun harus selaras. 

    Kemudian, ia menjelaskan bahwa judul laporan mempunyai peran besar. Maka, sebuah judul perlu menggambarkan masalah yang dihadapi atau dapat menyampaikan pesan utama. Philipus memberikan contoh-contoh judul yang dapat mudah ‘ditangkap’ pembaca dan yang tidak. 

    Pembahasan selanjutnya tentang “ringkasan eksekutif” yang terdapat pada laporan, sebelum bab pertama. Ringkasan eksekutif adalah pernyataan singkat mengenai persoalan yang dibahas, mengapa penting, serta gambaran mengenai kesimpulan dan rekomendasi. 

    Lantas, Philipus membeberkan Tiga Prinsip Laporan Efektif, yaitu: TemSetiap bagian harus terkait logis dengan tujuan atau pertanyaan laporan (judul, ringkasan eksekutif, isi, dan penutup),

    1. Pastikan pembaca yang sibuk, dapat memahami dengan mudah dan cepat (penggunaan kalimat deduktif dan efisien, dan mengenal audiens).
    2. Gunakan sebanyak mungkin bantuan untuk memudahkan pembaca, seperti infografis, foto, dan desain. 

    “Ketika kita meneliti, kita menulis, dan kita berpikir seperti pembaca,” pesan Philipus kepada peserta, sebelum memberikan latihan soal. 

    Siang harinya, materi dibawakan oleh Yandhie Arvian. Peserta mendapatkan latihan soal kembali. Kali ini, waktu yang diberikan cukup 5 menit. Peserta diminta membuat satu kalimat yang mencakup permasalahan atau pesan yang ingin disampaikan dan mengapa penting. 

    Pembahasan selanjutnya, ia mencerahkan peserta perihal betapa pentingnya angle tulisan dan kesalahan penulisan yang sering kali terjadi. 

    Pada hari ketiga (sesi 3), 24 Maret 2022, delapan hasil tulisan dari peserta yang telah masuk, disortir, lalu ditampilkan dan diulas oleh Philipus sehingga peserta dapat mempelajari bagian yang tepat dan tidak tepat.

    Baca juga: Workshop Menulis Laporan Efektif Sesi 4 \”Dari Data Jadi Visual Infografis yang Menarik\”

  • Workshop #2 \”Menyusun Strategi Amplifikasi Digital\”

    Apa itu strategi amplifikasi digital untuk kampanye sosial? 

    Setelah workshop #1 Mengangkat Isu Keberlanjutan di Era Digital, untuk mensukseskan kampanye isu sosial organisasi, kami akan mengajak kamu memahami makna dan strategi  “amplifikasi”, serta membuat konten kampanye, termasuk storytelling yang memikat.

    Yuk, bergabung
    Workshop #2: Menyusun Strategi Amplifikasi Digital
    Jumat, 25 Maret 2022 | 08.30 – 11.00 WIB 

    Narasumber:
    Barajiwa Anggit Sentausa, Editor KokBisa

    Fasilitator: 

    Intan Siagian, Program Officer Campaign.com
    Laras Sabila, Communication Manager Campaign.com

    Silakan Registrasi:
    bit.ly/WorkshopRevolusiDigital-02

    Barajiwa Anggit Sentausa berpengalaman membuat strategi dan konten kampanye sosial yang banyak dilihat jutaan orang. KokBisa, di mana ia bekerja sebagai editorial, telah memproduksi ribuan konten edukasi yang menarik dan seru.  Ia akan mengajak kita semua mempunyai timeline internet yang bikin kamu dan audiens bertambah pintar setiap harinya. 

    Serial Pelatihan “Revolusi Digital Kampanye Sosial” ini merupakan kerja sama Program Lingkar Madani dan Campaign com, yang berupaya memenuhi kebutuhan para mitra untuk berkampanye  sosial di berbagai platform digital. 

    Kami tunggu kehadiran teman-teman. 

    Untuk informasi pelatihan atau rangkaian kegiatan Lingkar Madani lainnya, silakan menghubungi Sudarwanto via email di sudarwanto@penabulu.id atau Whatsapp +62 852-7200-1222.

    Terima kasih dan Sampai Jumpa. 

     

    Salam,
    Tim Program LIngkar Madani

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 2-3 “PRINSIP LAPORAN EFEKTIF DAN RINGKASAN EKSEKUTIF”

    Kahoot.it, sebuah aplikasi interaktif, membuka  pelatihan untuk mengingat materi hari kemarin. Media pembelajaran ini sebetulnya sederhana, tapi interaksi yang tercipta dan soal yang diciptakan Tim Pengajar Tempo Institute, merangsang peserta melihat kemampuan diri tentang kalimat efektif dan menyunting tulisan.

    Pada hari kedua, Serial Pelatihan Laporan Efektif, Sesi Kedua, bersama dua narasumber yang terbagi lagi menjadi dua materi, yakni, pertama, Prinsip Laporan Efektif dengan pengajar Philipus Parera, yang dimulai pukul 9 sampai 12 siang, dan kedua, Teknik Menulis Ringkasan Efektif, Yandhie Arvian, 13.00—15.00 WIB.

    Selain laporan harus mudah dipahami dan menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik, kita juga harus tahu sasaran pembaca, penggunaan informasi yang tepat, gaya laporan, dan berpikir impak yang akan diperoleh. Menurut Philipus, laporan efektif itu menyampaikan permasalahan yang bisa dimengerti oleh pembaca, sama halnya dengan penggunaan data atau informasi. Judul, ringkasan eksekutif, dan pendahuluan pun harus selaras.

    Kemudian, ia menjelaskan bahwa judul laporan mempunyai peran besar. Maka, sebuah judul perlu menggambarkan masalah yang dihadapi atau dapat menyampaikan pesan utama. Philipus memberikan contoh-contoh judul yang dapat mudah ‘ditangkap’ pembaca dan yang tidak.

    Pembahasan selanjutnya tentang “ringkasan eksekutif” yang terdapat pada laporan, sebelum bab pertama. Ringkasan eksekutif adalah pernyataan singkat mengenai persoalan yang dibahas, mengapa penting, serta gambaran mengenai kesimpulan dan rekomendasi.

    Lantas, Philipus membeberkan Tiga Prinsip Laporan Efektif, yaitu: TemSetiap bagian harus terkait logis dengan tujuan atau pertanyaan laporan (judul, ringkasan eksekutif, isi, dan penutup),

    1. Pastikan pembaca yang sibuk, dapat memahami dengan mudah dan cepat (penggunaan kalimat deduktif dan efisien, dan mengenal audiens).
    2. Gunakan sebanyak mungkin bantuan untuk memudahkan pembaca, seperti infografis, foto, dan desain.

    “Ketika kita meneliti, kita menulis, dan kita berpikir seperti pembaca,” pesan Philipus kepada peserta, sebelum memberikan latihan soal.

    Siang harinya, materi dibawakan oleh Yandhie Arvian. Peserta mendapatkan latihan soal kembali. Kali ini, waktu yang diberikan cukup 5 menit. Peserta diminta membuat satu kalimat yang mencakup permasalahan atau pesan yang ingin disampaikan dan mengapa penting.

    Pembahasan selanjutnya, ia mencerahkan peserta perihal betapa pentingnya angle tulisan dan kesalahan penulisan yang sering kali terjadi.

    Pada hari ketiga (sesi 3), 24 Maret 2022, delapan hasil tulisan dari peserta yang telah masuk, disortir, lalu ditampilkan dan diulas oleh Philipus sehingga peserta dapat mempelajari bagian yang tepat dan tidak tepat.

  • Online Presence for NGO

    Dipaparkan oleh Sugeng Wibowo pada Pelatihan \”Online Presence for NGO\”, 21 Maret 2022

  • Create Sustainable Campaign

    Dipaparkan oleh Juris Bramantyo pada Workshop #1 Revolusi Digital Kampanye Sosial dengan topik \”Mengangkat Isu Keberlanjutan di Era Digital\”, 18 Maret 2022

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 1 “KALIMAT EFEKTIF DAN SUNTING TULISAN LAPORAN EFEKTIF”

    Kita sudah tidak asing lagi dengan laporan, tapi apakah laporan yang kita tulis mudah dipahami pembaca? Laporan efektif pun tidak hanya dilihat dari sisi pemahaman, tapi juga kalimat efektif yang digunakan dan pesan yang tersampaikan. Berlatar belakang hal tersebut, Program Lingkar Madani berkolaborasi dengan Tempo Institute menggelar Serial Laporan Efektif sebanyak 6 sesi. Pada sesi pertama, 22 Maret 2022, topik yang dibawakan oleh pengajar kita adalah kalimat efektif dan menyunting tulisan.

    Awal pelatihan, Uu Suhardi, Editor dan Koordinator Redaksi Bahasa di Tempo Media Grup, memberikan kuis tentang kata baku, mana yang baku dan tidak, dari 20 pasangan kata. Mas Uu  lebih memilih box chat sebagai tempat peserta menjawabnya. Kumpulan kata baku yang diberikan itu sering kali bikin kecoh bila kita tidak mengenalinya, contoh: antara akta dan akte; resiko dan risiko; atau penalti dan pinalti. Kata tidak baku itu bukan berarti salah dan tidak boleh digunakan, tapi biasanya dipakai sebagai bahasa pergaulan atau bentuk tidak formil. Biar tidak tersesat antara baku dan tidak baku, kita bisa cek di laman:  https://kbbi.kemdikbud.go.id/

    Kemudian, Mas Uu menerangkan kalimat sempurna yang sekurang-kurangnya memiliki subjek (siapa) dan predikat (apa), yang bisa juga ditambahkan penjelasan (bagaimana dan mengapa). Contoh, kemarin saya pergi ke Gedung Tempo, Jakarta, menumpang mobil teman untuk mengikuti kelas menulis. Terlihat, kan, bagian subjek dan predikatnya?

    Kalimat efektif sendiri adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, dan lengkap serta cermat. Singkat berarti hanya menggunakan unsur yang diperlukan; padat, tidak berisi penggulangan kata; jelas, strukturnya teratur; lengkap, mengandung semua unsur pembentuk kalimat; dan cermat, menggunakan tanda baca dan pilihan kata yang tepat serta tidak menyimpang dari kaidah. Selain mengacu pada teori, tulisan yang efektif juga dilahirkan dari latihan menulis yang terus-menerus.

    Kalimat efektif pun tidak lepas dari penggunaan tanda baca. Kesalahan yang biasanya terjadi, misalkan dalam kalimat: Tahun ini, Joko sudah melakukan perjalanan ke Sumba, Flores dan Lombok. Yang  benar adalah “Tahun ini, Joko sudah melakukan perjalanan ke Sumba, Flores, dan Lombok.” Lebih jauh soal tanda baca, huruf kapital, kata serapan, dan lainnya, bisa kunjungi laman https://puebi.js.org/

    Tepat pukul dua belas, kegiatan dihentikan sementara untuk isoma, yang kemudian dilanjutkan pukul satu dengan  topik menyunting tulisan. Karena belajar menulis harus pratek, Mas Uu membagi beberapa kelompok untuk latihan menyunting. Tugas masing-masing kelompok langsung ditampilkan, loh biar peserta bisa belajar. Wah, seru banget pelatihan ini. Usai pelatihan bisa jadi editor, nih. Hehehe. Pastinya, setiap yang hadir pada pelatihan, mendapatkan materi yang diberikan via surel. Nyesel nggak ikutan?  Makanya, rajin cek surel dari kami, atau WAG Lingkar Madani.