Blog

  • Pengenalan Pengukuran Keberhasilan Kampanye Sosial

    Dipaparkan oleh Emilia Tiurma Savira pada workshop ketiga Revolusi Digital Kampanye Sosial, 1 April 2022

  • Menyusun Strategi Amplifikasi Digital

    Dipaparkan oleh Barajiwa Anggit Sentausa pada workshop kedua Revolusi Digital Kampanye Sosial

  • Infografis, Dari Bahasa Verbal ke Visual

    Dipaparkan oleh Yosep Suprayogi, Pemimpin Redaksi Teras.id, Tempo Institute, pada sesi 4 Serial Pelatihan Menulis Laporan Efektif, 29 Maret 2022

  • Prinsip dan Teknik Menulis Laporan Efektif

    Dipaparkan oleh Philipus Parera (Redaktur Eksekutif Tempo English) dan Yandhrie Arvian (Redaktur Eksekutif Koran Tempo) di Serial Pelatihan Menulis Laporan Efektif sesi 2.

  • Kalimat Efektif

    Dipaparkan oleh Uu Suhardi, Redaktur Senior Bahasa Tempo, pada Sesi 1 Serial Pelatihan Menulis Laporan Efektif, 22 Maret 2022

  • Workshop #3 Revolusi Digital Kampanye Sosial \”Mengukur Dampak dan Efektivitas Kampanye Sosial Digital\”

    Tidak sedikit kampanye sosial yang tersebar di media sosial, baik yang berhasil maupun yang tidak. Sebelum menjalankan kampanye, kita mesti tahu metode untuk mengukur dampak positif bahkan negatifnya. Pertanyaannya, mengapa hal ini penting? 

    Nah, topik tersebut diangkat oleh Emilia Tiurma Savira, Impact Measurement Enthusiast dari Indika Foundation dan Siti Fatimah Ayuningdyah, Sponsorship Outreach Manager Campaign.com, saat  Workshop #3 Revolusi Digital Kampanye Sosial, Jumat, 1 April 2022. 

    Emilia bilang, “Jumlah follower yang banyak atau penggunaan tools yang canggih, belum tentu menentukan keberhasilan kampanye sosial.” 

    “media sosial hanya salah satu cara saja, tidak semua hasil dilihat dari hape,” sambungnya. 

    Hal pertama yang penting dilakukan adalah menentukan apa (what), siapa (who), dan mengapa (why), baru bagaimana (how). Misalkan, kampanye apa yang akan dilakukan; siapa targetnya; dan mengapa kampanye tersebut penting untuk mereka, bukan organisasi. Metode ini sama dengan yang digunakan untuk pembuatan konten. Dan kita harus yakin—biasanya yang masih bingung dengan “how”, berarti masih belum jelas what, who, dan why-nya. 

    Lantas, apa kaitan antara kampanye dan monitoring serta evaluasi? Menurut Emilia, pembicara pelatihan kali ini, monitoring dapat mengukur target atau tujuan, mendapatkan respon positif atau negatif, kampanye harus dilanjutkan atau tidak. Evaluasi sendiri tujuannya untuk melihat apakah kampanye tersebut membawa perubahan, entah itu dari segi perilaku maupun kebijakan, tergantung dari tujuan kampanye. 

    Seperti target jumlah orang yang tanda tangan  dan besaran dukungan yang diharapkan, bisa diukur melalui alat ukur yang digunakan di website organisasi. Berapa kali yang melihat, satu orang bisa berapa  kali melihat. Kalau sudah beberapa kali, berarti  orang tersebut tertarik. 

    Monitoring media sosial bisa dilihat dari reach, impression, dan engagement, juga conversion to click dan conversation. Percakapan perlu monitor. Lantas, apa yang dievaluasi? Dibagi beberapa hal, yakni: return visit; sign up; upload foto; jumlah yang berdomasi;  dan active promoter.

    Sedangkan, monitoring non-medsos, misal: dukungan stakeholders kunci, bisa juga pelaku, dan page views. 

    Sesi selanjutnya, Siti Fatimah Ayuningdyah, fasilitator workshop, menekankan pentingnya hasil monitoring dan evaluasi untuk investor atau pihak sponsor, apakah hasil kampanye memberikan dampak positif atau tidak. Jika mereka puas, tidak menutup kemungkinan, mereka akan kembali membantu program kampanye kita. 

    Masih banyak lagi, pengetahuan dan strategi berkampanye sosial di digital yang dibagikan narasumber. Padat tapi mudah dipahami. Terima kasih Campaign.com, sampai jumpa di lain waktu.

  • Workshop Menulis Laporan Efektif Sesi 5-6 \”Mengenal dan Merancang Infografis dengan Canva atau Piktochart\”

    Jika pelatihan kemarin, kita mempelajari aneka infografis, kali ini, Moerat Sitompul (Kepala Tempo Media Lab), pengajar serial pelatihan laporan efektif #5, memberikan gambaran infografis. Selain harus mengetahui jenis yang pas dengan cerita, infografis itu tidak harus kaku, tapi mesti leluasa. 

    Entah berapa contoh infografis yang ditampilkan Moerat pada awal pelatihan. Grafik batang, garis, dan kue—paling sering digunakan desainer—masih ada balon, peta, diagram, dan hirarki, alur, simbol, serta pohon, kutipan, dan matriks. Satu desain infografis, bisa menggunakan grafik peta, kutipan, dan simbol, misalkan, bahkan dapat ditambahkan gambar atau foto orang yang terkait konten. Permainan warna pun penting, tidak hanya untuk menonjolkan melainkan memberikan perbedaan dari data yang telah dikelola. 

    Berdasarkan pengalamannya bekerja selama 22 tahun di Tempo, hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang desainer adalah memahami persoalan dan data yang akan diangkat pada infografis. Jika tidak, itu akan buang energi.

    Kemudian, ia membagikan tautan tentang tips dan trik membuat infografis, satu di antaranya yakni: infografis harus bercerita tentang sesuatu; sumber terpercaya; periksa silang akurasinya; pilih visualisasi yang tepat; berikan label; dan ringkas. Lebih jelasnya, bisa klik tautan ini

    Bagian kedua pelatihan, siang hari, sesi dilanjutkan dengan latihan menggunakan canva. Bagi kita yang bukan berprofesi sebagai desainer, aplikasi Canva ini sangat bermanfaat. Istilahnya, dari yang tidak bisa desain, jadi bisa. Melalui breakout room di Zoom Meeting, peserta saling bekerja sama dalam merancang infografis. 

    Keesokan harinya, evaluasi hasil kerja seperti yang dilakukan pada materi sebelumnya, pengajar memberikan ulasan dan saran. Ternyata, infografis peserta nggak kalah keren loh dengan buatan desainer. Penasaran dengan materi ini? Silakan saksikan videonya. Terima kasih Tempo Institute, terima kasih Moerat Sitompul dan peserta. Semoga materi yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi organisasi kita.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 4 “DARI DATA JADI VISUAL INFOGRAFIS YANG MENARIK”

    Yosep Suprayogi bilang, “Visual dapat meningkatkan keinginan membaca sampai 80%.” Pada dasarnya, manusia itu spesies visual, jadi senang dengan sesuatu yang lebih menarik atau menonjol dibandingkan teks. Wajar saja kalau laporan juga butuh gambar, salah satunya dalam bentuk infografis. Lantas, bagaimana mengubah data jadi informasi yang menarik dan mudah dipahami?

    Selasa pagi rasa es Shanghai, banyak isinya dan menyegarkan, begitulah serial pelatihan laporan efektif sesi keempat pada tanggal 29 Maret 2022. Sebenarnya, belajar infografis bisa dari YouTube, tapi belum tentu materi yang diberikan seperti kuliah desain, apalagi yang berhubungan dengan laporan organisasi atau penelitian.

    Yosep, pengajar pelatihan kali ini, membahas bagaimana mengemas data dan 4 langkah infografis. Urusan data, Yosep membagi kelompok informasi ke dalam kuadran yang biasa digunakan para jurnalis, terdiri dari:  data tidak penting dan tidak menarik, tidak penting dan menarik, penting tapi tidak menarik, serta  penting dan menarik. Fungsi kuadran tersebut  memudahkan  kita memilah dari banyaknya data yang diperoleh, untuk ditampilkan pada infografis.

    Sebelum melangkah membuat infografis, kita perlu tahu bagaimana visual bekerja secara menarik dan tidak menarik:

    1. 1. Ketika mengubah informasi atau data menjadi visual, tetap menggunakan bahasa verba.
    2. 2. Harus ada judul. Usahakan judul yang “terang menderang”.  Penulisan pada judul ditonjolkan dengan warna huruf yang berbeda. Judul bisa menggunakan bahasa pelesetan, misal Kolesterol jadi KolesTelur.
    3. 3. Harus ada penjelasan, tidak perlu panjang.

    Selain di atas, kita harus mengetahui ragam bentuk grafis. Jadi, nggak akan berlama-lama menentukan jenis apa yang akan digunakan.

    Saat siang, pengajar menunjukan bagaimana  kelebihan infografis yang bisa dipakai dalam bentuk tulisan apa pun, contohnya buku. Masih terkait data, ia mengingatkan bahwa data perlu disortir dan kita mesti memiliki kerendahan hati, tidak semua data bisa ditampilkan.

    Berikut tahapan membuat infografis:

    1. 1. Ide,
    2. 2. Menetapkan angle dan outline,
    3. 3.Menetapkan bagaimana menceritakannya,
    4. 4. Menetapkan jenis grafis,
    5. 5. Melengkapi elemen visual atau narasi.
    6. Dalam menyiapkan data, harus perhatikan apakah data yang ditampilkan menunjukan tren, peringkat, pola, perbandingan/versus; apakah dalam artikel ada proses, bagan, dan area; apakah ada narasi yang disiapkan berupa poin-poin.

    Tidak ada ilmu yang sia-sia, apa pun profesinya, semua pengetahuan bisa dipelajari dan diambil manfaatnya. Terima kasih Tempo Institute.

  • Workshop #3 \”Mengukur Dampak dan Efektivitas Kampanye Sosial Digital\”

    Salam sehat dan sejahtera.

    Bagaimana mengukur dampak dan efektivitas kampanye sosial digital?

    Setelah workshop #2 Menyusun Strategi Amplifikasi Digital, Program Lingkar Madani bersama Campaign.com kembali mengajak kamu cara mengukur dampak dan efektivitas sebuah kampanye sosial digital, membuat impact reportkampanye sosial, disertai dengan contoh studi kasus.

    Yuk, bergabung
    Workshop #3
    \”Mengukur Dampak dan Efektivitas Kampanye Sosial Digital\”

    Jumat, 1 April 2022 | 08.30 – 11.00 WIB

    Segera daftar di : bit.ly/WorkshopRevolusiDigital-03

    Narasumber:
    Emilia Tiurma Savira
    Impact Measurement Enthusiast/ Critical Thinking Facilitator, Indika Foundation
    Fasilitator:
    Siti Fatimah Ayuningdyah
    Sponsorship Outreach Manager, Campaign.com
    Emilia Tiurma Savira aktif berkontribusi dalam mewujudkan kemajuan Indonesia pada segi dampak sosial, salah satunya dengan membangun pendidikan yang damai dan inklusif dengan fokus kemampuan bernalar kritis dan sosial emosional. Saat ini, Emilia banyak berperan sebagai fasilitator dan pelatih berbagai topik di ragam komunitas dan organisasi.
    Emilia mengakui bahwa dirinya seorang impact measurement enthusiast yang tentunya mengetahui sekaligus kerap membantu bagaimana melakukan pengukuran dampak pada setiap perencanaan program agar berjalan secara akuntabilitas dan berkelanjutan.
    Nah, setelah mendaftar, ada baiknya kamu juga mengikuti informasi di bawah ini
    1. Silakan mengunduh materi workshop #1 dan #2 di sini, agar kamu tidak ketinggalan semua informasi rangkaian workshop ini.
    2. Lengkapi kembali Workbook 1 kamu dan upload kembali di bit.ly/WorkingSpaceW1
    3. Lengkapi juga workbook 2 kamu dan upload di bit.ly/WorkingSpaceW2. Templat workbook 2 dapat diunduh dibit.ly/revolusidigital02.
    4. Ayo lanjutkan melengkapi Form Campaign dan Challenge kamu, templat dapat diunduh di bit.ly/CampaignLingkarMadani dan upload ke drive yang sudah disediakan di sini.
    Jika kamu mengalami kendala dari seluruh informasi tersebut, Kami menyarankan kamu untuk bergabung dalam Group Whatsapp Workshop Revolusi Digital Kampanye Sosial. Yuk bergabung di: bit.ly/WAGLingkarMadanixCampaigncom. Kamu akan dipandu secara langsung oleh tim Campaign.com terkait seluruh proses pembelajaran workshop ini.

    Serial Workshop “Revolusi Digital Kampanye Sosial” ini merupakan kerja sama Program Lingkar Madani dan Campaign.com, yang berupaya memenuhi kebutuhan para mitra untuk berkampanye  sosial di berbagai platform digital.

    Kami tunggu kehadiran teman-teman.

    Untuk informasi pelatihan atau rangkaian kegiatan Lingkar Madani lainnya, silakan menghubungi Sudarwanto via email di sudarwanto@penabulu.id atau via Whatsapp di +62 852-7200-1222

    Terima kasih dan sampai jumpa!

     

    Salam,
    Tim Lingkar Madani
  • Workshop Menulis Laporan Efektif Sesi 4 \”Dari Data Jadi Visual Infografis yang Menarik\”

    Yosep Suprayogi bilang, “Visual dapat meningkatkan keinginan membaca sampai 80%.” Pada dasarnya, manusia itu spesies visual, jadi senang dengan sesuatu yang lebih menarik atau menonjol dibandingkan teks. Wajar saja kalau laporan juga butuh gambar, salah satunya dalam bentuk infografis. Lantas, bagaimana mengubah data jadi informasi yang menarik dan mudah dipahami?

    Selasa pagi rasa es Shanghai, banyak isinya dan menyegarkan, begitulah serial pelatihan laporan efektif sesi keempat pada tanggal 29 Maret 2022. Sebenarnya, belajar infografis bisa dari YouTube, tapi belum tentu materi yang diberikan seperti kuliah desain, apalagi yang berhubungan dengan laporan organisasi atau penelitian. 

    Yosep, pengajar pelatihan kali ini, membahas bagaimana mengemas data dan 4 langkah infografis. Urusan data, Yosep membagi kelompok informasi ke dalam kuadran yang biasa digunakan para jurnalis, terdiri dari:  data tidak penting dan tidak menarik, tidak penting dan menarik, penting tapi tidak menarik, serta  penting dan menarik. Fungsi kuadran tersebut  memudahkan  kita memilah dari banyaknya data yang diperoleh, untuk ditampilkan pada infografis. 

    Sebelum melangkah membuat infografis, kita perlu tahu bagaimana visual bekerja secara menarik dan tidak menarik:

    1. Ketika mengubah informasi atau data menjadi visual, tetap menggunakan bahasa verba. 
    2. Harus ada judul. Usahakan judul yang “terang menderang”.  Penulisan pada judul ditonjolkan dengan warna huruf yang berbeda. Judul bisa menggunakan bahasa pelesetan, misal Kolesterol jadi KolesTelur. 
    3. Harus ada penjelasan, tidak perlu panjang. 

    Selain di atas, kita harus mengetahui ragam bentuk grafis. Jadi, nggak akan berlama-lama menentukan jenis apa yang akan digunakan.

    \"\"

    Saat siang, pengajar menunjukan bagaimana  kelebihan infografis yang bisa dipakai dalam bentuk tulisan apa pun, contohnya buku. Masih terkait data, ia mengingatkan bahwa data perlu disortir dan kita mesti memiliki kerendahan hati, tidak semua data bisa ditampilkan. 

    Berikut tahapan membuat infografis:

    1. Ide,
    2. Menetapkan angle dan outline,
    3. Menetapkan bagaimana menceritakannya,
    4. Menetapkan jenis grafis,
    5. Melengkapi elemen visual atau narasi.

    Dalam menyiapkan data, harus perhatikan apakah data yang ditampilkan menunjukan tren, peringkat, pola, perbandingan/versus; apakah dalam artikel ada proses, bagan, dan area; apakah ada narasi yang disiapkan berupa poin-poin.

    Tidak ada ilmu yang sia-sia, apa pun profesinya, semua pengetahuan bisa dipelajari dan diambil manfaatnya. Terima kasih Tempo Institute.

     

    Baca juga: Workshop Menulis Laporan Efektif Sesi 5-6 \”Mengenal dan Merancang Infografis dengan Canva atau Piktochart\”