Blog

  • Strategi Penggalangan Dana Secara Digital bagi Organisasi Masyarakat Sipil

    Program Lingkar Madani kembali menghelat webinar dengan tema “Strategi Penggalangan Dana Secara Digital bagi Organisasi Masyarakat Sipil”. Menghadirkan Sri Indiyastutik (Fundraising Director YAPIIKA-ActionAid) dan Linda Sukandar (Fundraising Director Plan International Indonesia) sebagai narasumber, kegiatan yang dimoderatori oleh Herman Simanjuntak (Resource Mobisation Specialist, TFCA Kalimantan), kegiatan, yang berlangsung selama 120 menit dalam platform Zoom Webinar, ini dihadiri oleh tak kurang dari 42 representasi dari Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia.

    Di sesi pertama, mbak Tutik – demikian Sri Indiyastutik biasa disapa- menjelaskan tentang bagaimana kanal digital menjadi bagian dari upaya fundraising yang dilakukan oleh YAPPIKA saat ini. Meski Indonesia menempati urutan ke-10 negara dengan tingkat kedermawanan tertinggi, khususnya terkait isu keagamaan, faktanya OMS yang bukan berbasis keagamaan masih memiliki tantangan menembus “kedermawanan” masyarakat Indonesia, untuk pula peduli pada isu-isu sosial lainnya. Beberapa petikan pembelajaran menarik bagaimana menggalang dana ala YAPPIKA juga disampaikan mbak Tutik di sesi ini, seperti pentingnya riset untuk menetapkan target sasaran dan menyusun strategi penggalangan dana, termasuk melibatkan melibatkan artis atau influencer untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

    Pada sesi kedua, Linda Sukandar menyampaikan pengalaman Plan Internasional Indonesia melakukan melakukan penggalangan dana dalam situasi pandemi. “Be A Hero”, sebuah kampanye dengan fokus pada perlindungan anak dan paramedis dari pandemi COVID-19 merupakan upaya Plan Internasional Indonesia melakukan penggalangan dana secara digital, ketika teknik face to face tidak lagi mungkin dilakukan di masa pandemi saat ini. Terus mengikuti tren yang terjadi merupakan salah satu tips yang disampaikan oleh mbak Linda dalam melakukan penggalangan dana, pada saat yang sama, melengkapi mbak Tutik, dia juga optimis, bahwasanya kanal digital memiliki potensi yang besar bagi OMS di Indonesia untuk menggalang dana dari masyarakat secara luas.

    Webinar kali ini ditutup dengan rangkuman keseluruhan proses yang dikemas secara apik bang Herman dalam “7 Cara Ampuh dalam Melakukan Digital Fundraising” yakni; (1) Mengetahui siapa yang akan kita libatkan, mengetahui isu yang akan dikampanyekan, (2) Bagaimana bekerjasama antar tim, (3) Melibatkan media untuk publikasi, (4) Melibatkan atau endorse dari pemerintah, (5) Melibatkan publik figur dan relawan, (6) Kesiapan lembaga (kanal informasi, tim digital fundraising, budget), (7) Transparan dalam pelaporan. [KSF]

  • Crafting Meaningful Online Meetings & Workshops

    26-27 Januari 2021. Yayasan Penabulu menyelenggarakan pelatihan “Crafting Meaningful Online Meeting & Workshops” selama dua hari, pada Rabu 26 Januari dan Kamis 27 Januari 2021. Penyelenggaraan pelatihan ini bekerjasama dengan InsightPact didukung oleh The David and Lucile Packard Foundation (Packard) dalam program Organizational Effectiveness. Pelatihan ini termasuk dalam tema Digital Learning yang bertujuan untuk penguatan organisasi mitra Packard di Indonesia menghadapi situasi pandemi agar tetap dapat menjaga dan meningkatkan kualitas kerjanya. Terdapat 77 peserta mitra Packard yang hadir. Meski diselenggarakan secara daring, pelatihan berjalan interaktif, dinamis dan memberikan pengetahuan yang solutif dan aplikatif untuk para mitra.

    Pelatihan diberikan oleh Irene Laochaisri selaku Co-Founder InsightPact yang memiliki pengalaman fasilitator, design researcher, dan merupakan development practitioner berbasis di Bangkok, Boston, and Berlin. Ada pula Michou Tchana-Hyman selaku co-trainer yang juga memiliki pengalaman multi isu social entrepreneurship, youth development dan social innovation.

    Di hari pertama diskusi berjalan sangat dinamis. Pelatihan dibuka melalui perkenalan seluruh peserta dengan cara yang unik: yaitu menyebutkan satu fakta menarik tentang diri kita. Lalu dilanjutkan dengan pengenalan InsightPact, kebutuhan teknis dan agenda yang akan dibicarakan dalam pelatihan.

    Pelatihan pada hari pertama bertujuan untuk berbagi dan menumbuhkan ide tentang pendekatan dalam memfasilitasi kegiatan daring untuk bisa menjadi fasilitator terbaik. Kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi dan tukar ide tentang praktik baik yang pernah dilakukan masing-masing peserta.

    Peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk diskusi dengan metode simulasi kasus. Setiap kelompok diberikan kasus yang berbeda, masing-masing menarik dan pernah terjadi dalam keadaan nyata. Kemudian kelompok mempresentasikan rencana mereka terhadap kasus tersebut.

    Di hari kedua, pelatihan bertujuan supaya peserta bisa membentuk rencana online event atau meeting dengan assessment tools yang diberikan oleh InsightPact yaitu dialogue canvas.

    Mengingat banyaknya aktivitas secara daring yang gampang membosankan, Dialogue Canvas yang diberikan sangat solutif dan aplikatif untuk dijadikan acuan minimum dalam penyelenggaraan event secara online bagi para mitra.

  • Seri Resiliensi Finansial \”Lanskap Pendanaan dan Diversifikasi Pendapatan”

    Pelatihan ini merupakan rangkaian dari Program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang di inisiasi oleh Yayasan Penabulu dan Packard Foundation yang merupakan Seri dari Pelatihan Resiliensi Finansial.

    Pelatihan yang berdurasi 120 menit dimoderatori oleh M. Suhud Ridwan dan meghadirkan 2 (dua) narasumber ahli yaitu; Paul Mario Ginting dan Subhan dari Yayasan Penabulu. Pelatihan ini membahas 2 hal ; (1) Lanskap Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil, dan (2) Diversifikasi Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil.

    Kedua materi ini hanyalah sebagai pengantar untuk menuju seri pelatihan selanjutnya yaitu Strategi Finance Mengahadapi Covid 19. Dari paparan kedua narasumber, dapat dipetik beberapa point penting yakni:

    1. Organisasi Masyarakat Sipil mengalami perubahan dalam konteks pendanaan -yang awalnya pendanaan organisasi hanya bersumber dari lembaga donor saja-, saat ini banyak juga organisasi yang mulai mengembangkan peluang pendanaan organisasinya melalui bisnis social dengan membangun koperasi, menjadi lembaga sertivikasi dan lain-lainnya.
    2. Untuk mengembangkan keragaman pendanaan organisasi, sebaiknya sebuah organisasi melakukan;
      • Identifikasi pendana potensial di luar lembaga donor
      • Bagaimana menjangkau pendana potensial ini
      • Bagaimana mempertahankan pendana ini agar terus mendanai organisasi, dan
      • Bagaimana mengoptimalkan dana tersebut untuk keberlanjutan organisasi
    3. Sebuah organisasi harus mengecek kesehatan keuangan organisasinya minimal dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh ketergantungan sebuah organisasi anda terhadap donor serta dengan dana cadangan yang ada berapa lama oragnisasi ini bias bertahan.

    Pelatihan ini diikuti oleh 9 dari 34 oraganisasi mitra DLPF diantaranya; AMAN, Barunastra, Fitra Riau, Coaction Indonesia, YP3SP, Traction Energy Asia, LTKL, PPMA dan IOJI. Walaupun demikian, pelatihan ini memberi wawasan kepada peserta pelatihan betapa pentingnya sebuah organisasi untuk berkembang dan beradaptasi dengan kondisi pendanaan yang ada. Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan spesifik yang dilontarkan para peserta kepada kedua narasumber.

  • Seri Pelatihan Resiliensi Finansial \”Lanskap Pendanan dan Diversifikasi Pendanaan”

    \"\"

    Pelatihan ini merupakan rangkaian dari Program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang di inisiasi oleh Yayasan Penabulu dan Packard Foundation yang merupakan Seri dari Pelatihan Resiliensi Finansial.
    Pelatihan yang berdurasi 120 menit di moderatori oleh M. Suhud Ridwan yang meghadirkan 2 narasumber ahli yaitu; Paul Mario Ginting dan Subhan dari Yayasan Penabulu. Pelatihan ini membahas 2 hal ;

    1. Lanskap Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil, dan
    2. Diversifikasi Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil

    2 materi ini hanya sebagai pengantar untuk menuju seri pelatihan selanjutnya yaitu Strategi Finance Menghadapi Covid 19.
    Dari paparan kedua narasumber, ada beberapa point penting yang kami catat ;

    1. Organisasi Masyarakat Sipil mengalami perubahan dalam konteks pendanaan yang awalnya pendanaan organisasi hanya bersumber dari lembaga donor saja, saat ini banyak juga organisasi yang mulai mengembangkan peluang pendanaan organisasinya melalui bisnis sosial dengan membangun koperasi, menjadi lembaga sertifikasi dan lain-lainnya.
    2. Untuk mengembangkan keragaman pendanaan organisasi, sebaiknya sebuah organisasi melakukan;
      1. Identifikasi pendana potensial di luar lembaga donor
      2. Bagaimana menjangkau pendana potensial ini
      3. Bagaimana mempertahankan pendana ini agar terus mendanai organisasi, dan
      4. Bagaimana mengoptimalkan dana tersebut untuk keberlanjutan organisasi
    3. Sebuah organisasi harus mengecek kesehatan keuangan organisasinya minimal dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh ketergantungan sebuah organisasi anda terhadap donor serta dengan dana cadangan yang ada berapa lama organisasi ini bisa bertahan.

    Pelatihan ini diikuti oleh 9 organisasi mitra Packard diantaranya; AMAN, Barunastra, Fitra Riau, Coaction Indonesia, YP3SP, Traction Energy Asia, LTKL, PPMA dan IOJI. Walaupun yang hadir hanya 9 Organisasi dari 34 organisasi Mitra Packard, pelatihan ini cukup memberi wawasan kepada peserta pelatihan tentang pentingnya sebuah organisasi untuk berkembang dan beradaptasi dengan kondisi pendanaan yang ada.  Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan spesifik yang dilontarkan para peserta kepada kedua narasumber.

  • Resiliensi Finansial Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia di Masa Pandemi

    Pandemi covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia mulai bulan Maret 2020 memberikan dampak yang cukup signifikan pada berbagai aspek kehidupan. Semua pola kehidupan berubah menjadi virtual dan semua aktivitas aktivitas di luar rumah sangat dibatasi. Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka mereduksi penyebaran virus corona. Kebijakan tersebut diantaranya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dalam bentuk work from home, school from home, pembatasan transportasi publik, maupun pembatasan aktivitas yang melibatkan orang banyak di tempat umum lainnya. Kebijakan tersebut berdampak terhadap berbagai pihak, termasuk civil society organization (CSO).

    Jika kondisi ini terus dibiarkan, sejumlah besar CSO akan ditutup, orang-orang yang bekerja di sektor ini kehilangan pekerjaan, dan berbagai konsekuensi lainnya yang bergantung pada bidang layanan dan advokasi yang dilakukan oleh CSO tersebut akan menanggung akibatnya juga.

    Dari kondisi tersebut, Yayasan Penabulu bersama dengan Packard Foundation menginisiasi sebuah program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang bertujuan agar CSO –dalam hal ini Mitra Packard- mampu beradaptasi dalam kondisi ini untuk tetap melakukan kerja-kerjanya sebagai pelayan masyarakat.

    Diawali dengan peluncuran program pada tanggal 23 November 2020, kemudian dilanjutkan dengan Webinar tematik “ Resiliensi Finansial Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia di Masa Pandemi “ pada tanggal 2 Desember 2020. Webinar yang berdurasi 120 menit ini dipandu oleh Rival Achmad (Kordinator Program) dan Sugiharto Ari Santoso ( Moderator ) yang menghadirkan 3 narasumber ahli diantaranya ; Eko Kurinawan Komara ( Direktur Yayasan Penabulu ), Dida Suwarida ( Spesialis Resiliensi Finansial ) dan Achmad Rifa’i ( Direktur Kota Kita ).

    Webinar ini bertujuan untuk memberikan cakrawala tentang pentingnya finansial resiliensi bagi organisasi maupun pemimpin CSO di seluruh Indonesia terutama dalam konteks menghadapi situasi Covid-19 maupun pasca Covid-19.
    Beberapa poin penting yang dapat dicatat dari paparan 3 narasumber dalam webinar kali ini adalah:

    1. Untuk menuju Resiliensi finansial sebuah organisasi harus dapat mengefisiensi pengunaan Anggaran
    2. Sebuah oraganisasi harus dapat mengupdate kondisi oragnisasinya, baik dari sisi kapasitas organisasi maupun finansial organisasi
    3. Sebuah organisasi harus sudah mulai berfikir bahwa investasi merupakan startegi untuk membangun kekuatan finansial organisasinya

    Webinar kali ini dihadiri oleh 40 peserta yang sangat antusias, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada ketiga narasumber. Kami mencatat ada 11 pertanyaan kunci yang diajukan oleh peserta webinar, dan kami juga mencatat 93 % peserta menyatakan puas mengikuti webinar ini. [LK]

  • Resiliensi Finansial Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia di Masa Pandemi

    \"\"

    Pandemi covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia mulai bulan Maret 2020 memberikan dampak yang cukup signifikan pada berbagai aspek kehidupan. Semua pola kehidupan berubah menjadi virtual dan semua aktivitas aktivitas di luar rumah sangat dibatasi. Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka mereduksi penyebaran virus corona. Kebijakan tersebut diantaranya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dalam bentuk work from home, school from home, pembatasan transportasi publik, maupun pembatasan aktivitas yang melibatkan orang banyak di tempat umum lainnya. Kebijakan tersebut berdampak terhadap berbagai pihak, termasuk civil society organization (CSO).

    Jika kondisi ini terus dibiarkan, sejumlah besar CSO akan ditutup, orang-orang yang bekerja di sektor ini kehilangan pekerjaan, dan berbagai konsekuensi lainnya yang bergantung pada bidang layanan dan advokasi yang dilakukan oleh CSO tersebut akan menanggung akibatnya juga.

    Dari kondisi tersebut, Yayasan Penabulu bersama dengan Packard Foundation menginisiasi sebuah program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang bertujuan agar CSO –dalam hal ini Mitra Packard- mampu beradaptasi dalam kondisi ini untuk tetap melakukan kerja-kerjanya sebagai pelayan masyarakat.

    Diawali dengan peluncuran program pada tanggal 23 November 2020, kemudian dilanjutkan dengan Webinar tematik “ Resiliensi Finansial Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia di Masa Pandemi “ pada tanggal 2 Desember 2020. Webinar yang berdurasi 120 menit ini dipandu oleh Rival Achmad (Kordinator Program) dan Sugiharto Ari Santoso ( Moderator ) yang menghadirkan 3 narasumber ahli diantaranya ; Eko Kurinawan Komara ( Direktur Yayasan Penabulu ), Dida Suwarida ( Spesialis Resiliensi Finansial ) dan Achmad Rifa’i ( Direktur Kota Kita ).

    Webinar ini bertujuan untuk memberikan cakrawala tentang pentingnya finansial resiliensi bagi organisasi maupun pemimpin CSO di seluruh Indonesia terutama dalam konteks menghadapi situasi Covid-19 maupun pasca Covid-19.
    Beberapa poin penting yang dapat dicatat dari paparan 3 narasumber dalam webinar kali ini adalah:

    1. Untuk menuju Resiliensi finansial sebuah organisasi harus dapat mengefisiensi pengunaan Anggaran
    2. Sebuah oraganisasi harus dapat mengupdate kondisi oragnisasinya, baik dari sisi kapasitas organisasi maupun finansial organisasi
    3. Sebuah organisasi harus sudah mulai berfikir bahwa investasi merupakan startegi untuk membangun kekuatan finansial organisasinya

    Webinar kali ini dihadiri oleh 40 peserta yang sangat antusias, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada ketiga narasumber. Kami mencatat ada 11 pertanyaan kunci yang diajukan oleh peserta webinar, dan kami juga mencatat 93 % peserta menyatakan puas mengikuti webinar ini.