Blog

  • Talk show \”Eco Friendly, COVID Ready”

    Dalam masa pandemi ini, aktivasi daring tetap bisa mendukung organisasi sosial dalam menjalankan kampanyenya secara daring, menjangkau komunitas dan area yang tidak terjangkau sebelumnya, dan mengembangkan dampak yang dihasilkan. Sebagai organisasi masyarakat sipil
    tentunya menjalankan aktivasi daring adalah satu hal yang perlu kita kuasai, agar revolusi digital ini juga dapat kita manfaatkan dengan maksimal.

    Oleh karena itu, Lingkar Madani bersama Campaign.com membuat rangkaian program pelatihan “Revolusi Digital Kampanye Sosial” kepada 48 mitra untuk belajar bersama bagaimana memanfaatkan revolusi digital dalam membangun kampanye sosial, melakukan aktivisme sosial, membuat amplifikasi kampanye digital, hingga mengukur dampak dan efektivitas kampanye digital. Rangkaian Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pelatihan untuk para mitra organisasi sipil untuk tumbuh dalam revolusi digital yang bermanfaat, serta memaksimalkan kampanye sosialnya melalui berbagai wadah digital yang tersedia, termasuk di dalamnya aplikasi Campaign #ForChange dari Campaign.com.

    Tak hanya itu, rangkaian kegiatan ini akan diakhiri dengan public webinar yang berjudul “Eco Friendly, COVID Ready”, event yang akan membahas tentang bagaimana kampanye isu lingkungan akan memberikan dampak yang baik dalam mengajak banyak orang peduli lingkungan. Peduli lingkungan di masa pandemi juga membantu kita sadar untuk menjaga keseimbangan bumi.

    Talk show akan diselenggarakan pada:

    Hari/ Tanggal: Jumat, 3 Juni 2022
    Waktu: 15.00 – 17.00 WIB
    Registrasi di: bit.ly/eventecofriendly

    Narasumber:
    1. Dr. Vallensia Nurdiana Febriyanti, representasi Prodia *tbc
    2. Ikbal Alexander, Managing Director Kertabumi Recycling Center *tbc

    Kegiatan ini terbuka untuk umum. Sampai jumpa di kegiatan.

    Salam,
    Tim Lingkar Madani

  • 4 Proses untuk Bangun Sistem Budaya Organisasi yang Konsisten

    Keberlanjutan organisasi maupun perusahaan juga bergantung pada budaya yang dibangun terus-menerus. Sebenarnya desain budaya kerap dilakukan, hanya saja sering terabaikan.  Mungkin juga, organisasi belum memahaminya. Karena penting, kami menggelar pelatihan “Mendesain & Membangun Budaya Organisasi”, bersama narasumber Ali Zaenal Abidin, Selasa, 31 Mei 2022. 

    Identitas organisasi, kultur, internalisasi desain adalah 3 poin pembelajaran pelatihan ini. Yang dimaksud Identitas Organisasi terdapat  unsur nama dan visual sebagai identitas, menarik perhatian, dan  membangun relasi. Sedangkan kultur atau budaya merupakan kumpulan nilai-nilai yang diterapkan secara konsisten. Dari awal didirikan organisasi, desain tersebut harus dimiliki dan diterapkan. Justru penerapan dilakukan saat pegawai baru satu atau dua orang. Dan, Internalisasi Desain Budaya. Bagian ini menentukan apakah budaya yang dibangun dapat berjalan dalam jangka panjang atau sebaliknya. Bagaimana cara mempertahankannya?

    4 proses vital yang perlu diterapkan untuk membangun budaya yang konsisten:

    1. Recruitment. Merupakan gerbang  awal dari membangun suatu budaya. Jika ingin staf punya budaya yang sejalan dengan didesain, dari awal pekerjakanlah orang yang sudah punya keselarasan dengan organisasi kamu. Masalahnya banyak organisasi mencari pekerja hanya berdasarkan kompetensi atau kemampuan teknisnya. Tapi untuk organisasi yang punya keseriusan menjaga budayanya, tak hanya kemampuan teknis, tapi juga keselarasan yang ingin atau sedang dibangun, misal perilaku. Dilihat bisa dari wawancara, probation. Dalam test kejujuran orang saat wawancara: diminta baca buku secara singkat yang dalam buku diselipkan uang, saat dikembalikan, masih ada atau  tidak uangnya. Ada namanya behaviour questions. Lihat juga perilakunya. Jika dalam jangka panjang, ada yang performance hilang, maka kita ada biaya produksi yang rugi, kalau dia nggak keluar dari organisasi, biaya tetap keluar, bahkan bisa dobel. Sebab budaya itu menular. 
    2. Performance appraisal (penilaian kinerja). Kamu harus mendesain bagaimana penerapan nilai-nilainya. Penilaian dilakukan minimal 2 kali setahun. Harus ada ukuran dan juga pelatihan, penghargaan, role model, dan sebagainya. Komunikasikan  terus menerus dengan komunikasi yang berbeda-beda.
    3. Training and development. Melakukan pelatihan untuk penguatan dan pengembangan kapasitas.
    4. Rewards. Memberikan penghargaan kepada staf yang berprestasi.

    Itulah 4 proses yang akan membantu sistem untuk budaya menjadi konsisten. Untuk selengkapnya, tonton ya video rekamannya.

  • 4 PROSES UNTUK BANGUN SISTEM BUDAYA ORGANISASI YANG KONSISTEN

    Keberlanjutan organisasi maupun perusahaan juga bergantung pada budaya yang dibangun terus-menerus. Sebenarnya desain budaya kerap dilakukan, hanya saja sering terabaikan.  Mungkin juga, organisasi belum memahaminya. Karena penting, kami menggelar pelatihan “Mendesain & Membangun Budaya Organisasi”, bersama narasumber Ali Zaenal Abidin, Selasa, 31 Mei 2022.

    Identitas organisasi, kultur, internalisasi desain adalah 3 poin pembelajaran pelatihan ini. Yang dimaksud Identitas Organisasi terdapat  unsur nama dan visual sebagai identitas, menarik perhatian, dan  membangun relasi. Sedangkan kultur atau budaya merupakan kumpulan nilai-nilai yang diterapkan secara konsisten. Dari awal didirikan organisasi, desain tersebut harus dimiliki dan diterapkan. Justru penerapan dilakukan saat pegawai baru satu atau dua orang. Dan, Internalisasi Desain Budaya. Bagian ini menentukan apakah budaya yang dibangun dapat berjalan dalam jangka panjang atau sebaliknya. Bagaimana cara mempertahankannya?

    4 proses vital yang perlu diterapkan untuk membangun budaya yang konsisten:

    1. 1. Recruitment. Merupakan gerbang  awal dari membangun suatu budaya. Jika ingin staf punya budaya yang sejalan dengan didesain, dari awal pekerjakanlah orang yang sudah punya keselarasan dengan organisasi kamu. Masalahnya banyak organisasi mencari pekerja hanya berdasarkan kompetensi atau kemampuan teknisnya. Tapi untuk organisasi yang punya keseriusan menjaga budayanya, tak hanya kemampuan teknis, tapi juga keselarasan yang ingin atau sedang dibangun, misal perilaku. Dilihat bisa dari wawancara, probation. Dalam test kejujuran orang saat wawancara: diminta baca buku secara singkat yang dalam buku diselipkan uang, saat dikembalikan, masih ada atau  tidak uangnya. Ada namanya behaviour questions. Lihat juga perilakunya. Jika dalam jangka panjang, ada yang performance hilang, maka kita ada biaya produksi yang rugi, kalau dia nggak keluar dari organisasi, biaya tetap keluar, bahkan bisa dobel. Sebab budaya itu menular.
    2. 2. Performance appraisal (penilaian kinerja). Kamu harus mendesain bagaimana penerapan nilai-nilainya. Penilaian dilakukan minimal 2 kali setahun. Harus ada ukuran dan juga pelatihan, penghargaan, role model, dan sebagainya. Komunikasikan  terus menerus dengan komunikasi yang berbeda-beda.
    3. Training and development. Melakukan pelatihan untuk penguatan dan pengembangan kapasitas.
    4. 3. Rewards. Memberikan penghargaan kepada staf yang berprestasi.

    Itulah 4 proses yang akan membantu sistem untuk budaya menjadi konsisten. Untuk selengkapnya, tonton ya video rekamannya.

  • PRESENTASI YANG MENAWAN AUDIENS

    Bicara presentasi tidak hanya tentang desain atau warna, tapi juga bagaimana kita mempresentasikannya, agar menarik perhatian audiens.

    Rabu, 25 Mei 2022, Digital learning series, pelatihan “Powerful Presentation”

    Mengapa butuh sebuah presentasi yang kuat? Hal ini, salah satunya, dikarenakan otak kita tidak hanya bekerja untuk hal-hal yang membosankan. Dalam 30 detik pertama, maju presentasi itu golden moment untuk menarik perhatian audiens.

    Ester Margaretha dan Melita Oktanawati, keduanya dari lembagag Saraswati, menghantar para peserta pelatihan menyelami kekuatan dari sebuah presentasi.

    Ester membuka paparannya dengan menitikberatkan pada identifikasi audiens. Siapa audines, karakteristik, publik atau private?, dan apa konteks/latar belakang dari yang akan disampaikan dalam presentasi. Dengan mengetahui audiens, kita dapat dapat menyusun ide/ gagasan sesuai dengan kebutuhan yang akan menikmati proses prensenting kita. Ester pun memberikan 3 bumbu magic membuat sebuah presentasi yang luar biasa, yakni audiens dan konten; branding dan tools; serta public speaking dalam presentasi yakni bagaimana cara bercerita dan menciptakan transformasi audiens. Transformassi audiens yang dimaksud adalah mengidentifikasi apa yang mereka tahu, percaya, rasakan dan lakukan baik sebelum mendengarkan presentasi dan setelah presentasi dipaparkan.

    Tak luput, Ester menegaskan bahwa presentasi itu soal public speaking kita. Bagaimana nangkep fokus audiens kita. Buat mereka yang banyak bicara

    Melita mengisi sesi berikutnya dengan menunjukkan metode visual presetation. Visual itu penting, contohnya dengan mengaplikasikan warna tertentu dengan tujuan agar audiens dapat mengingat organisasi/brand kita. Hal lain adalah menentukan tipe dan ukuran font, icons, dan elemen lainnya, sehingga dengan personalisasi desain ini mampu mengoptimalisasi konten dari yang akan dipresentasikan.

    Melita juga menampilkan ragam tools yang dapat digunakan dalam menyusun dan membangun sebuah presentasi yang ciamik. Beberapa diantaranya adalah Google slides, canva, dan power point. Tools tersebut menawarkan banyak ragam fitur yang dapat dimaksimalkan penggunaannya, diantaranya adalah visulasasi data, audio gif dan animasi, embed video, Audience QnA dan bahkan di zoom platform pun telah mengaplikasikan fitur power point as virtual background, yang mampu menciptakan suasana interaktif antara pemapar dan audiens.

    Paparan berikutnya dalah terkait teknik presentasi. Melita dan Ester memberikan sejumlah tips-tips bagaimana menyampaikan sebuah presentasi pada sebuah kegiatan virtual; diantaranya bagaimana menarik perhatian peserta/ audiens, perkenalkan dan jelaskan topik atau isi presentasi, memperhatikan durasi presentasi agar lebih efektif, menggunakan hook atau kutipan, seperti melontarkan pertanyaan awal, menggunakan quote, atau menyelipkan humor ataupun cerita singkat.

    Dalam presentasi, gesture dan tone juga sangat perlu diperhatikan, termasuk juga kecepatan dan ketepatan penyampaian. Sebisanya tetap menjaga interaksi dengan audiens. Tak ada salahnya meminta audiens untuk interupsi dan mengingatkan bilamana penyampaikan terlalu cepat, atau mengajak peserta untuk raise hand atau menggunakan fitur chat box bilamana ada yang ditanya. ‘Demam panggung’ memang akan selalu menjadi tantangan.

    “Kadang kala kita sering terlalu banyak mengucapkan kata ehm, errr, ckk kalau sedang presentasi, mungkin karena gugup. Nah ini yang perlu diminimalisir,” Ucap Melita saat memberikan tips-tips.

    Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi penugasan dan simulasi presentasi oleh para peserta. Dari simulasi, Melita dan Ester banyak memberikan tips-tips empirik bagi peserta pelatihan.

    Nantikan sesi-sesi pelatihan “Seri Digital Learning” berikutnya bersama Saraswati.

  • Presentasi yang Menawan Audiens

    Bicara presentasi tidak hanya tentang desain atau warna, tapi juga bagaimana kita mempresentasikannya, agar menarik perhatian audiens.

    Rabu, 25 Mei 2022, Digital learning series, pelatihan “Powerful Presentation”

    Mengapa butuh sebuah presentasi yang kuat? Hal ini, salah satunya, dikarenakan otak kita tidak hanya bekerja untuk hal-hal yang membosankan. Dalam 30 detik pertama, maju presentasi itu golden moment untuk menarik perhatian audiens. 

    Ester Margaretha dan Melita Oktanawati, keduanya dari lembagag Saraswati, menghantar para peserta pelatihan menyelami kekuatan dari sebuah presentasi.

    Ester membuka paparannya dengan menitikberatkan pada identifikasi audiens. Siapa audines, karakteristik, publik atau private?, dan apa konteks/latar belakang dari yang akan disampaikan dalam presentasi. Dengan mengetahui audiens, kita dapat dapat menyusun ide/ gagasan sesuai dengan kebutuhan yang akan menikmati proses prensenting kita. Ester pun memberikan 3 bumbu magic membuat sebuah presentasi yang luar biasa, yakni audiens dan konten; branding dan tools; serta public speaking dalam presentasi yakni bagaimana cara bercerita dan menciptakan transformasi audiens. Transformassi audiens yang dimaksud adalah mengidentifikasi apa yang mereka tahu, percaya, rasakan dan lakukan baik sebelum mendengarkan presentasi dan setelah presentasi dipaparkan. 

    Tak luput, Ester menegaskan bahwa presentasi itu soal public speaking kita. Bagaimana nangkep fokus audiens kita. Buat mereka yang banyak bicara

    Melita mengisi sesi berikutnya dengan menunjukkan metode visual presetation. Visual itu penting, contohnya dengan mengaplikasikan warna tertentu dengan tujuan agar audiens dapat mengingat organisasi/brand kita. Hal lain adalah menentukan tipe dan ukuran font, icons, dan elemen lainnya, sehingga dengan personalisasi desain ini mampu mengoptimalisasi konten dari yang akan dipresentasikan.

    Melita juga menampilkan ragam tools yang dapat digunakan dalam menyusun dan membangun sebuah presentasi yang ciamik. Beberapa diantaranya adalah Google slides, canva, dan power point. Tools tersebut menawarkan banyak ragam fitur yang dapat dimaksimalkan penggunaannya, diantaranya adalah visulasasi data, audio gif dan animasi, embed video, Audience QnA dan bahkan di zoom platform pun telah mengaplikasikan fitur power point as virtual background, yang mampu menciptakan suasana interaktif antara pemapar dan audiens.

    Paparan berikutnya dalah terkait teknik presentasi. Melita dan Ester memberikan sejumlah tips-tips bagaimana menyampaikan sebuah presentasi pada sebuah kegiatan virtual; diantaranya bagaimana menarik perhatian peserta/ audiens, perkenalkan dan jelaskan topik atau isi presentasi, memperhatikan durasi presentasi agar lebih efektif, menggunakan hook atau kutipan, seperti melontarkan pertanyaan awal, menggunakan quote, atau menyelipkan humor ataupun cerita singkat.

    Dalam presentasi, gesture dan tone juga sangat perlu diperhatikan, termasuk juga kecepatan dan ketepatan penyampaian. Sebisanya tetap menjaga interaksi dengan audiens. Tak ada salahnya meminta audiens untuk interupsi dan mengingatkan bilamana penyampaikan terlalu cepat, atau mengajak peserta untuk raise hand atau menggunakan fitur chat box bilamana ada yang ditanya. \’Demam panggung\’ memang akan selalu menjadi tantangan.

    \”Kadang kala kita sering terlalu banyak mengucapkan kata ehm, errr, ckk kalau sedang presentasi, mungkin karena gugup. Nah ini yang perlu diminimalisir,\” Ucap Melita saat memberikan tips-tips.

    Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi penugasan dan simulasi presentasi oleh para peserta. Dari simulasi, Melita dan Ester banyak memberikan tips-tips empirik bagi peserta pelatihan.

    Nantikan sesi-sesi pelatihan \”Seri Digital Learning\” berikutnya bersama Saraswati.

  • Pelatihan Mendesain & Membangun Budaya Organisasi

    Budaya organisasi tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Dan, tidak mudah membangun budaya positif yang konsisten. Pada pelatihan ini, peserta akan mendapatkan wawasan bagaimana menanam, mendesain, dan  membangun sistem budaya organisasi, dari Ali Zaenal Abidin, pembicara di 37 negara dan  peraih penghargaan Citizen 4.0 Under 40 for Contribution to Society and Humanity.

    Di workshop ini, kamu akan belajar bagaimana mendesain budaya organisasimu, serta membangun sistem untuk menciptakan konsistesi penanaman budaya organisasimu.

    Pelatihan akan diselenggarakan pada:

    Selasa, 31 Mei 2022, pukul 10.00-13.00 WIB

    Sampai jumpa di ruang pelatihan.

     

    Salam,
    Tim Lingkar Madani

     

  • Upgrading Networking Skills

    Seorang Ali Zaenal pernah kesulitan menjaga networking-nya. Begitu juga dengan orang lain, barangkali juga kamu. Tapi, pernah nggak, sih kamu bertanya kepada diri sendiri, mengapa? Wah, sayang banget buat kamu yang nggak ikutan webinar “Upgrading Networking Skills”, Senin, 23 Mei 2022. 

    Pembicara webinar, Ali, dulu pernah mempelajari teori, menonton video, dan mengikuti pelatihan networking. Dan,  Ia berhasil membangun jejaring, tapi itu tidak lama. Kemudian, ada seorang teman yang ia temui di suatu acara, “Orang selalu mencari manfaat dari berjejaring, dan ini pasti tidak lama. Semestinya, kita menanamkan dalam pikiran, tujuan berjejaring itu untuk memberikan kontribusi kepada orang lain.” Kata-kata orang tersebut mengutik pikiran Ali, “Luar biasa. Berarti saya perlu mengubah mindset selama ini.”

    Ternyata, soal topik ini, Ali tidak sekadar belajar tapi juga mengalami kesulitan-kesulitan. Berdasarkan pengalaman itulah, Ali mengatakan bahwa pertama yang harus dibenahi adalah mengubah pola pikir, dari jangka pendek ke networking yang berjangka panjang. Yaitu niat berjejaring dengan memberikan kontribusi kepada orang lain. Sebab, ketika memberikan kontribusi, kebaikan akan terus mendatangi kamu, salah satunya ialah networking yang berjangka panjang. Setiap orang yang membangun jejaring perlu berpikir, bagaimana diri ini dapat bermanfaat bagi orang lain, karena inilah esensi dari networking.

    Hal kedua  adalah connection yang dirasakan orang lain terhadap kamu. Kamu pasti pernah mengalami saat komunikasi, merasa tidak nyambung terhadap orang tersebut, atau sebaliknya. Itu berarti kamu tidak merasakan adanya connection. Lantas, bagaimana menghadirkan connection itu?

    Banyak orang dalam benaknya berpikir bahwa berjejaring itu bisa dilakukan, tapi di hatinya, ia tidak yakin. Dan, networking itu bukan soal komunikasi. Orang akan merasa nyaman, bila kamu nyaman dengan diri sendiri dan terbuka. Berarti, kamu mesti yakin dengan diri dan apa yang kamu lakukan—mengenal diri sendiri dahulu. Sebab,  pikiran dapat menularkan energi  kepada orang lain, baik itu positif ataupun negatif—mereka dapat merasakannya, loh. Jadi, betapa penting pengenalan diri bila kamu ingin memiliki networking berjangka panjang. 

    Jika dua diantara jaringan kamu sedang berselisih dan kamu merasa dipertanyakan di mana posisimu, lebih cenderung ke si A atau si B. Sebaiknya, kamu bersikap netral dan mengatakannya sehingga mereka tidak bersangka buruk. 

    Yang ketiga, bertanyalah kepada jejaring agar kamu mengetahui manfaat apa yang bisa kamu berikan kepadanya—saran, pengetahuan, atau networking itu sendiri. Yang perlu dihindari pada langkah ini ialah talk too much about yourself. Sebab kamu sedang mencari tahu kebutuhannya, sebaiknya percakapan lebih fokus ke orang tersebut. 

    Saat bertanya pun, gunakan “pertanyaan terbuka”, hindari jawaban hanya satu atau dua kata. Kosakata “bagaimana” lebih baik dibandingkan “kenapa” karena orang akan merasa terpojok. Begitulah selintas mengenai hal-hal yang mendasar mengenai berjejaring. Sampai jumpa pada pelatihan berikutnya, masih dengan pembicara yang sama. Tunggu info dari kami, ya.

  • POLA PIKIR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP

    You can not live a positive life with a negative mind

    Pola pikir itu penting. Ia  akan mempengaruhi bagaimana kita menjalani keseharian dan kualitas hidup. Bagaimana mengubah pola pikir dengan cepat? Kalimat ini meluncur sebelum pembicara, Ali Zaenal Abidin memulai pelatihan “How to change your mindset”, Kamis, 19 Mei 2022.

    Ali yang kerap menggunakan analogi pada setiap pembicaraannya,  bertanya kepada peserta, “Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata “otak’ dan “pikiran?” Lalu ia menganalogikan “suara” dan “pita suara”: pita suara adalah organ dan suara merupakan hasil dari pita tersebut. Begitu pula antara otak dan pikiran: otak ialah organ dan pikiran adalah salah satu hasil yang dikerjakan otak.

    Karena topik pelatihan mengenai mindset, maka ia mengajak peserta untuk memahami bahwa kata mind berarti pikiran, jika digabung dengan set, maka pengertiannya adalah pikiran yang sudah diatur. Nah, bagaimana cara cepat mengubah mindset, peserta diperkenalkan dengan ‘Teknologi Pengembangan Diri” sebagai salah satu fungsi mempercepat komunikasi, yang memiliki berbagai fitur.

    Lagi, ia bertanya dengan analogi, bagaimana menghitung angka-angka yang tertera di presentasi ini dengan cepat. Ia menyebut kalkulator dan excel, mana yang lebih cepat? Tentu saja excel. Tapi, jika seseorang tidak tahu fitur sum formula yang ada di program ini, ia tidak bisa mendapatkan hasil yang lebih cepat dari kalkulator.

    Saat ini, sudah banyak platform belajar soal fitur diri. Semakin kita cerdas mengenali fitur tersebut, kita makin paham fitur-fitur yang akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

    Psikologi banyak mempelajari hal ini, tapi akan lebih cepat jika belajar tak hanya dari satu bidang. Sebab kita akan semakin banyak mendapatkan khasanah dan metode mengelola diri. Semua hal bersifat psikologi “pasti” biologis, maka  tak hanya bicara psikologi, tapi juga biologi. Ini merupakan salah satu yang mempercepat proses pembelajaran mindset.

    Teknologi pengembangan diri. Screenshot discover your body – biologis.

    Tubuh kita terdiri dari triliunan sel saraf atau neuron. Di kepala saja ada 100 neuron milyar lebih. Salah satu fungsi neuron yaitu untuk menyimpan data, “Apa yang terlintas pikiran ketika mendengar kata ‘singa’? Si Raja Hutan, pemakan daging, dan berambut panjang?

    Setiap  neuron bisa terhubung sampai dengan 100.000 neuron lain. Saat menyebut singa dengan raja hutan, pemakan daging, itu berarti antara neuron berasosiasi. Yang kemudian neuron itu membentuk jaringan-jaringan neuron sendiri. Sedangkan, ketika dua neuron yang belum terhubung/asosiasi mulai terhubung—saat kita mempelajari hal baru, apa pun caranya, maka akan terbentuk asosiasi antara sel saraf. Ternyata, hal ini adalah fondasi (dasar) mempelajari mengubah pola pikir dengan cepat. Tentu saja kita harus memahami terlebih dahulu sebelum melangkah ke pembelajaran berikutnya.

    Biar kamu tak salah paham, langsung saja tonton video rekaman pelatihan How to change your mindset di sini