Dipaparkan oleh Paul Mario Ginting dan Subhan dari Yayasan Penabulu dalam Pelatihan Seri Resiliensi Finansial \”Strategi Finansial\”, `15 – 19 Februari 2021.
Blog
-
Material Strategi Adaptasi
Dipaparkan oleh Kiswara Santi, Business Development Strategist, dalam pelatihan “Strategi Adaptasi untuk Keberlangsungan Usaha Operasi” selama 3 hari, pada 6 sampai 8 April 2021
-
Material Budaya Organisasi
Pelatihan ini merupakan lanjutan dari kegiatan pelatihan virtual dengan tema Kepemimpinan dan Kemandirian pada tanggal 30 Maret 2021 yang lalu.Pelatihan akan diberikan oleh Ali Zaenal Abidin, seorang konsultan, coach dan fasilitator yang berpengalaman memfasilitasi individu maupun organisasi dalam menemukan dan menginternalisasi budaya organisasi yang dapat diterapkan sehari-hari. -
Mendesain dan Menginternalisasi Budaya Organisasi
Pada hari Rabu, tanggal 28 Juli 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan Pembangunan Budaya Organisasi (Building Organisation Culture), dengan judul “Mendesain dan Menginternalisasi Budaya Organisasi.” Pelatihan dibuka langsung dan dibawakan oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”. Pembukaan sesi pelatihan dimulai dengan perkenalan Pemateri, perkenalan dari keseluruhan 35 orang peserta, termasuk asal domisili dari masing-masing organisasinya, sekaligus membahas Norma Kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.
Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi: (1) Organization Identity; (2) Culture; dan (3) Internalization.
Ali memulai penjabaran ketiga poin tersebut dengan membahas tentang Organization Identity (Zoom Out) yang merupakan Identitas, Elemen, Nama, serta Visual dan berfungsi untuk mengidentifikasi, melakukan/menarik, mencoba dan atau menguji/evaluasi (meyakinkan), pengambilan keputusan jangka pendek, utamanya dalam membangun hubungan. Disampaikan juga tentang unseen reality (fenomena gunung es) dengan mencuplik perkataan dari seorang filsuf sekaligus sufi ternama, yaitu Jalalludin Rumi yang mengatakan “everything you see has will roots in the unseen.” Ali juga menjelaskan bahwa semua hal bisa dinamakan atau diberi nama, baik hal tersebut bisa dilihat secara visual, maupun non-visual.
Pembahasan langsung diikuti dengan sesi tanya-jawab yang beberapa rangkuman dari bahasan di sesi ini antara lain: setiap individu punya keunikan masing-masing (positif); kita mengetahui orang lain karena kita mengenalinya (dinamakan juga “interaksi produktif”); serta penjelasan tentang Quantity vs Quality di mana juga dijelaskan tentang peran dan pembeda antara Refleksi dan/atau Kontemplasi. Di sesi ini, Ali sebagai pemateri juga mengulang sekaligus mempertegas pembahasan tentang hal-hal non-visual/yang tidak terlihat namun dapat dirasakan/disadari keberadaannya dengan menambahkan bahwa pada akhirnya yang dianggap berarti adalah values (nilai/manfaat), serta jasa. Sesi ini ditutup dengan break time selama sekitar 7 menit untuk memberi ruang kepada peserta ‘mengendapkan’ apa yang baru saja mereka serap dalam sesi paparan dan diskusi.
Setelah cukup dengan rehat sejenak, sesi pelatihan dilanjutkan dengan pembahasan tentang Culture (Zoom In) yang definisinya adalah sekumpulan dari nilai-nilai yang diimplementasikan secara konsisten oleh mayoritas atau keseluruhan populasi. Di dalamnya terdapat perilaku (behaviors) yang juga bisa dimaknai sebagai karakter dari budaya. Disampaikan bahwa nilai-nilai (values) bukan sekedar baik atau tidak, namun juga cocok atau tidak karena menyangkut pula dengan karakter, kepribadian dan juga kebiasaan di mana hal-hal ini lah yang juga menuntun perilaku, aksi, dan keputusan yang kita buat. Di ujung pembahasan ditegaskan bahwa mudah untuk menduplikasi produk, tapi tidak mudah melakukannya dengan budaya. Sesi ini ditutup dengan tanya jawab terkait beberapa hal, beberapa yang dibahas di sesi ini antara lain adalah kebijakan mengikuti budaya, bukan sebaliknya. Oleh sebab itu, disampaikan pula bahwa layanan yang diberikan oleh organisasi adalah juga merupakan produk dari budaya yang diinternalisasi.
Pembahasan terakhir tersebut menjadi jembatan untuk segmen terakhir yang membahas tentang Internalization (Super Zoom). Diawali dengan paparan tentang cetak biru untuk internalisasi (blueprint for internalization), maka proses yang berlangsung di dalam suatu organisasi bisa dibagi menjadi dua hal: mesin (engine) dan komunikasi. Engine sendiri dapat dijabarkan menjadi: (a) Proses rekrutmen teknis dan non-teknis yang menyesuaikan dengan nilai organisasi. Patut dicermati bahwa sebaik-baiknya pemilihan adalah orang yang baik secara teknis dan nilai (value). Namun apabila harus memilih yang terburuk, maka minimal kriteria rekrutmen adalah pemilihan yang secara teknis kurang baik namun secara value baik.
Berikutnya adalah tentang Appraisal yang dapat dilakukan dengan mengukur deskripsi/keterangan detail pekerjaan (job desc), juga seberapa jauh staf menerapkan/berkonsentrasi kepada value yang telah ada dan atau didesain di Organisasi. Oleh sebabnya, diperlukan juga tahapan pelatihan dan pengembangan yang mampu membangun kepedulian pada perkembangan organisasi/SDM melalui nilai-nilai yang konsisten, bukan basa-basi, mengedepankan hospitality yang berujung kepada service excellence. Juga perlunya Penghargaan dan Pengakuan terhadap hasil kerja. Keempat hal tersebut merupakan proses di dalam organisasi yang bisa dimaknai sebagaimana mesin (Engine) yang menjaga keselarasan value dan kemudian mengubahnya menjadi Sistem.
Hal yang kedua adalah tentang komunikasi (Communication) yang baik, berlangsung dua arah serta dipraktikkan secara berkelanjutan/reguler dan bukan pengumuman (announcement) semata. Paparan tentang internalisasi dalam organisasi ini ditutup dengan sebuah adagium, yakni ”Action Speaks Louder than Words” yang kemudian diikuti dengan sesi tanya jawab, terkait bebarapa hal di antaranya tentang bahwa Penghargaan dan Pengakuan kaitannya adalah berkaitan erat dengan hierarki dalam organisasi, di mana diberikan contoh bahwa jika terkadang atasan lah yang melakukan pelanggaran, maka akan menciptakan kesenjangan (gap) antara budaya serta value yang tertulis/termuat/tercetak/tertempel. Sesi ini ditutup dengan penyampaian bahwa “pemimpin ideal siap mengambil keputusan terbaik dan adil kendati tidak populer;” yang juga merupakan kata penutup dari Pemateri.
Keseluruhan proses pelatihan ditutup oleh Rukita dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, sekaligus menginformasikan tentang coaching/klinik, juga mengenai jadwal pelatihan selanjutnya dan diakhiri dengan foto bersama.
-
Mentor-coaching
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.
Spesialisasi
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.
Profil
-
Chairunnisa
Chairunnisa, Selain berpengalaman di bidang pemasaran dan administrasi, selama 3 (tiga) tahun lebih di Saraswati telah mendukung berbagai lokakarya dan pelatihan tatap muka maupun virtual untuk berbagai topik, termasuk Design Sprint, Social Lean Canvas bersama Instellar, dan Scalling
-
Ester Margaretha
Ester mempunyai pengalaman mengelola proyek untuk pembangunan dan response kemanusiaan. Pengalaman pengelolaan proyek Ester umumnya terkait dengan pemenuhan hak anak dan pengalaman menjadi konsultan untuk mendukung implementasi beragam proyek pembangunan terutama untuk sektor terkait isu gender dan inklusi, keadilan ekonomi, dan strategi pengembangan organisasi dan kemitraan. Pada saat bekerja dengan Saraswati, Ester menjadi manajer proyek untuk inisiatif yang berkaitan dengan data analysis, riset, kemitraan, dan peningkatan kapasitas/pelatihan teknis, dan pengembangan aplikasi yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan fasilitasi dan komunikasi efektif.
-
Agenda Klinik Bersama Silih Agung Wasesa, Agustus 2021
Dalam upaya membantu proses peningkatan kapasitas dan efektivitas organisasi—khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19, Lingkar Madani memfasilitasi kegiatan pelatihan privat (one-on-one) dengan mentor terpilih. Pelatihan privat tersebut diadakan untuk memberikan pengetahuan teknis yang lebih mendalam dan aplikatif.
Kegiatan ini ditujukan khusus untuk para Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) mitra The David and Lucile Packard Foundation (Packard) dalam program Organizational Effectiveness.
Di bulan Agustus 2021, Tim Lingkar Madani menawarkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Klinik bersama Silih Agung Wasesa. Beliau adalah seorang branding expert yang telah mengembangkan strategi kampanye untuk komersial perusahaan dan kampanye nasional seperti Asian Games 2018 dan Annual Meetings IMF World Bank Group. Beliau juga memiliki pengalaman sebagai konsultan dari tiga Presiden Republik Indonesia.
Kegiatan Klinik bersama Pak Silih tersedia pada waktu-waktu berikut:
- Rabu, 4 Agustus 2021 | 13:00-14:00 WIB
- Rabu, 4 Agustus 2021 | 14:15-15:15 WIB
- Kamis, 12 Agustus 2021 | 14:00-15:00 WIB
- Kamis, 12 Agustus 2021 | 15:15-16:15 WIB
- Rabu, 18 Agustus 2021 | 13:00-14:00 WIB
- Rabu, 18 Agustus 2021 | 14:15-15:15 WIB
- Kamis, 26 Agustus 2021 | 14:00-15:00 WIB
- Kamis, 26 Agustus 2021 | 15:15-16:15 WIB
Dalam kesempatan ini, OMS bisa berkonsultasi tentang cara membangun strategi kampanye digital yang terintegrasi, memahami ukuran keberhasilan kampanye, serta kiat-kiat menciptakan inovasi dalam berkampanye secara digital.
Untuk mengikuti salah satu dari jadwal di atas, Anda dapat langsung mengirimkan email ke coaching.dlpf@penabulu.id dan tuliskan jadwal mana yang cocok untuk OMS Anda. Pendaftaran dilakukan dengan sistem “siapa cepat dia dapat” (first-come-first-serve), maka sebaiknya berikan juga beberapa pilihan slot waktu yang memungkinkan, disusun secara prioritas preferensi OMS Anda. Semua sesi pertemuan ini bersifat rahasia, khusus untuk OMS Anda.
Untuk kebutuhan layanan pelatihan privat dalam bentuk Konsultasi maupun Coaching lainnya—untuk topik maupun mentor yang saat ini belum tersedia, silakan layangkan permintaan Anda ke coaching.dlpf@penabulu.id dengan tajuk (subyek): “PERMINTAAN >> [Nama Organisasi]”. Di dalam e-mail tersebut, harap cantumkan beberapa detail berikut ini:
- Topik/isu apa yang menghambat kerja organisasi Anda, beserta penjelasan singkatnya
- Nama mentor yang Anda idamkan (jika ada)
- Narahubung organisasi Anda (nama lengkap, alamat email, dan nomor telepon yang bisa dihubungi)
Untuk keterangan lain mengenai berbagai kesempatan pelatihan privat, Anda juga dapat menghubungi Rukita Widodo via email di coaching.dlpf@penabulu.id, atau via Whatsapp di 0812-9524-6650.
-
Agenda Klinik Bersama Ali Zaenal Abidin, Agustus 2021
Dalam upaya membantu proses peningkatan kapasitas dan efektivitas organisasi—khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19, Lingkar Madani memfasilitasi kegiatan pelatihan privat (one-on-one) dengan mentor terpilih. Pelatihan privat tersebut diadakan untuk memberikan pengetahuan teknis yang lebih mendalam dan aplikatif.
Kegiatan ini ditujukan khusus untuk para Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) mitra The David and Lucile Packard Foundation (Packard) dalam program Organizational Effectiveness.
Di bulan Agustus 2021, Tim Lingkar Madani menawarkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Klinik bersama Ali Zaenal Abidin. Beliau adalah seorang konsultan, coach dan fasilitator yang berpengalaman dalam memfasilitasi individu maupun organisasi dalam menemukan dan menginternalisasi budaya organisasi yang dapat diterapkan sehari-hari.
Kegiatan Klinik bersama Pak Ali tersedia pada waktu-waktu berikut:
- Rabu, 4 Agustus 2021 | 09:50-10:50 WIB
- Rabu, 4 Agustus 2021 | 11:00-12:00 WIB
- Rabu, 11 Agustus 2021 | 09:50-10:50 WIB
- Rabu, 11 Agustus 2021 | 11:00-12:00 WIB
- Rabu, 18 Agustus 2021 | 09:50-10:50 WIB
- Rabu, 18 Agustus 2021 | 11:00-12:00 WIB
- Rabu, 25 Agustus 2021 | 09:50-10:50 WIB
- Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:00-12:00 WIB
Dalam kesempatan ini, OMS bisa berkonsultasi dengan Pak Ali tentang cara membangun kultur organisasi, membangun dan mengelola komitmen tim dalam organisasi, serta kiat-kiat mengembangkan kepemimpinan untuk performa organisasi yang lebih baik.
Untuk mengikuti salah satu dari jadwal di atas, Anda dapat langsung mengirimkan email ke coaching.dlpf@penabulu.id dan tuliskan jadwal mana yang cocok untuk OMS Anda. Pendaftaran dilakukan dengan sistem “siapa cepat dia dapat” (first-come-first-serve), maka sebaiknya berikan juga beberapa pilihan slot waktu yang memungkinkan, disusun secara prioritas preferensi OMS Anda. Semua sesi pertemuan ini bersifat rahasia, khusus untuk OMS Anda
Jika organisasi Anda ingin meminta jadwal Klinik bersama Pak Ali di luar jadwal yang sudah disediakan di atas, Anda bisa menghubungi Rukita Widodo via email di coaching.dlpf@penabulu.id, atau via Whatsapp di 0812-9524-6650. Kami akan mencoba memfasilitasi kebutuhan Anda.
Untuk kebutuhan layanan pelatihan privat dalam bentuk Konsultasi maupun Coaching lainnya—untuk topik maupun mentor yang saat ini belum tersedia, silakan layangkan permintaan Anda ke coaching.dlpf@penabulu.id dengan tajuk (subyek): “PERMINTAAN >> [Nama Organisasi]”. Di dalam e-mail tersebut, harap cantumkan beberapa detail berikut ini:
- Topik/isu apa yang menghambat kerja organisasi Anda, beserta penjelasan singkatnya
- Nama mentor yang Anda idamkan (jika ada)
- Narahubung organisasi Anda (nama lengkap, alamat email, dan nomor telepon yang bisa dihubungi)
Untuk keterangan lain mengenai berbagai kesempatan pelatihan privat, Anda juga dapat menghubungi Rukita Widodo via email di coaching.dlpf@penabulu.id, atau via Whatsapp di 0812-9524-6650.
-
MENDESAIN DAN MENGINTERNALISASI BUDAYA ORGANISASI
Pada hari Rabu, tanggal 28 Juli 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan Pembangunan Budaya Organisasi (Building Organisation Culture), dengan judul “Mendesain dan Menginternalisasi Budaya Organisasi.” Pelatihan dibuka langsung dan dibawakan oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”. Pembukaan sesi pelatihan dimulai dengan perkenalan Pemateri, perkenalan dari keseluruhan 35 orang peserta, termasuk asal domisili dari masing-masing organisasinya, sekaligus membahas Norma Kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.
Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi: (1) Organization Identity; (2) Culture; dan (3) Internalization.
Ali memulai penjabaran ketiga poin tersebut dengan membahas tentang Organization Identity (Zoom Out) yang merupakan Identitas, Elemen, Nama, serta Visual dan berfungsi untuk mengidentifikasi, melakukan/menarik, mencoba dan atau menguji/evaluasi (meyakinkan), pengambilan keputusan jangka pendek, utamanya dalam membangun hubungan. Disampaikan juga tentang unseen reality (fenomena gunung es) dengan mencuplik perkataan dari seorang filsuf sekaligus sufi ternama, yaitu Jalalludin Rumi yang mengatakan “everything you see has will roots in the unseen.” Ali juga menjelaskan bahwa semua hal bisa dinamakan atau diberi nama, baik hal tersebut bisa dilihat secara visual, maupun non-visual.
Pembahasan langsung diikuti dengan sesi tanya-jawab yang beberapa rangkuman dari bahasan di sesi ini antara lain: setiap individu punya keunikan masing-masing (positif); kita mengetahui orang lain karena kita mengenalinya (dinamakan juga “interaksi produktif”); serta penjelasan tentang Quantity vs Quality di mana juga dijelaskan tentang peran dan pembeda antara Refleksi dan/atau Kontemplasi. Di sesi ini, Ali sebagai pemateri juga mengulang sekaligus mempertegas pembahasan tentang hal-hal non-visual/yang tidak terlihat namun dapat dirasakan/disadari keberadaannya dengan menambahkan bahwa pada akhirnya yang dianggap berarti adalah values (nilai/manfaat), serta jasa. Sesi ini ditutup dengan break time selama sekitar 7 menit untuk memberi ruang kepada peserta ‘mengendapkan’ apa yang baru saja mereka serap dalam sesi paparan dan diskusi.
Setelah cukup dengan rehat sejenak, sesi pelatihan dilanjutkan dengan pembahasan tentang Culture (Zoom In) yang definisinya adalah sekumpulan dari nilai-nilai yang diimplementasikan secara konsisten oleh mayoritas atau keseluruhan populasi. Di dalamnya terdapat perilaku (behaviors) yang juga bisa dimaknai sebagai karakter dari budaya. Disampaikan bahwa nilai-nilai (values) bukan sekedar baik atau tidak, namun juga cocok atau tidak karena menyangkut pula dengan karakter, kepribadian dan juga kebiasaan di mana hal-hal ini lah yang juga menuntun perilaku, aksi, dan keputusan yang kita buat. Di ujung pembahasan ditegaskan bahwa mudah untuk menduplikasi produk, tapi tidak mudah melakukannya dengan budaya. Sesi ini ditutup dengan tanya jawab terkait beberapa hal, beberapa yang dibahas di sesi ini antara lain adalah kebijakan mengikuti budaya, bukan sebaliknya. Oleh sebab itu, disampaikan pula bahwa layanan yang diberikan oleh organisasi adalah juga merupakan produk dari budaya yang diinternalisasi.
Pembahasan terakhir tersebut menjadi jembatan untuk segmen terakhir yang membahas tentang Internalization (Super Zoom). Diawali dengan paparan tentang cetak biru untuk internalisasi (blueprint for internalization), maka proses yang berlangsung di dalam suatu organisasi bisa dibagi menjadi dua hal: mesin (engine) dan komunikasi. Engine sendiri dapat dijabarkan menjadi: (a) Proses rekrutmen teknis dan non-teknis yang menyesuaikan dengan nilai organisasi. Patut dicermati bahwa sebaik-baiknya pemilihan adalah orang yang baik secara teknis dan nilai (value). Namun apabila harus memilih yang terburuk, maka minimal kriteria rekrutmen adalah pemilihan yang secara teknis kurang baik namun secara value baik.
Berikutnya adalah tentang Appraisal yang dapat dilakukan dengan mengukur deskripsi/keterangan detail pekerjaan (job desc), juga seberapa jauh staf menerapkan/berkonsentrasi kepada value yang telah ada dan atau didesain di Organisasi. Oleh sebabnya, diperlukan juga tahapan pelatihan dan pengembangan yang mampu membangun kepedulian pada perkembangan organisasi/SDM melalui nilai-nilai yang konsisten, bukan basa-basi, mengedepankan hospitality yang berujung kepada service excellence. Juga perlunya Penghargaan dan Pengakuan terhadap hasil kerja. Keempat hal tersebut merupakan proses di dalam organisasi yang bisa dimaknai sebagaimana mesin (Engine) yang menjaga keselarasan value dan kemudian mengubahnya menjadi Sistem.
Hal yang kedua adalah tentang komunikasi (Communication) yang baik, berlangsung dua arah serta dipraktikkan secara berkelanjutan/reguler dan bukan pengumuman (announcement) semata. Paparan tentang internalisasi dalam organisasi ini ditutup dengan sebuah adagium, yakni ”Action Speaks Louder than Words” yang kemudian diikuti dengan sesi tanya jawab, terkait bebarapa hal di antaranya tentang bahwa Penghargaan dan Pengakuan kaitannya adalah berkaitan erat dengan hierarki dalam organisasi, di mana diberikan contoh bahwa jika terkadang atasan lah yang melakukan pelanggaran, maka akan menciptakan kesenjangan (gap) antara budaya serta value yang tertulis/termuat/tercetak/tertempel. Sesi ini ditutup dengan penyampaian bahwa “pemimpin ideal siap mengambil keputusan terbaik dan adil kendati tidak populer;” yang juga merupakan kata penutup dari Pemateri.
Keseluruhan proses pelatihan ditutup oleh Rukita dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, sekaligus menginformasikan tentang coaching/klinik, juga mengenai jadwal pelatihan selanjutnya dan diakhiri dengan foto bersama.