Blog

  • Widi Setyanto

    Widi adalah Manajer Proyek dari Saraswati yang sudah memiliki lebih dari 12 tahun pengalaman dalam proyek pembangunan berbasis komunitas di Indonesia, utamanya di wilayah timur Indonesia. Pengalaman pengelolaan proyek Widi beragam mulai dari proyek terkait air dan sanitasi (WASH), pemberdayaan ekonomi, microfinance, energi terbarukan dan gender. Sebelum bergabung dengan Saraswati, Widi banyak bekerja di wilayah perdesaan di timur Indonesia untuk program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan bersama dengan Kopernik dan juga proyek lain yang didanai oleh donor besar seperti Energia, SIDA, dan MAMPU (DFAT).

  • Yulies Puspitaningtyas

    Yulies mempunyai pengalaman lebih dari 12 tahun dalam proyek pembangunan dan kemanusiaan di Indonesia. Yulies sudah terlibat dalam beragam proyek pembangunan termasuk dalam sektor Air, Sanitasi dan Kebersihan (WASH), pemulihan penghidupan/mata pencaharian, pengembangan ekonomi perdesaan, perlindungan anak, kesehatan reproduksi remaja, pengembangan ekonomi kaum muda dan kewirausahaan, manajemen risiko bencana dan ketangguhan, dan sebagainya. Dalam empat tahun terakhir, Yulies mempunyai peran yang berfokus pada pengembangan proyek/bisnis termasuk dalam perancangan proyek (project design) terutama proyek-proyek berbasis masyarakat, pengembangan kemitraan, manajemen pendanaan (dana hibah, terutama dana hibah dari luar negeri), dan manajemen relasi dengan donor, misalnya DFAT (Australia), Uni Eropa (EC), SIDA (Swedia), GAC (Kanada), MOFA (Belanda), dan beberapa donor korporasi seperti Google, AstraZeneca, JP Morgan, dan Hyundai

  • Kewajiban Publikasi Laporan Keuangan Organisasi Nonlaba sesuai UU Keterbukaan Informasi Publik

    Lingkar Madani menggelar Webinar Manajemen Keuangan pada tanggal 15 September 2021. Ini adalah webinar pertama dari tiga kegiatan webinar yang direncanakan bekerja sama dengan Yayasan Bina Integrasi Edukasi. Menghadirkan narasumber Agus Wijayanto Nugroho dan Arif Firdaus sebagai moderator, para peserta yang hadir tidak hanya berasal dari mitra Lingkar Madani tapi juga berasal dari beragam bidang (umum) dan bahkan mahasiswa. Tercatat sebanyak 65 orang peserta mendaftar di kegiatan webinar ini. Program kerja sama antara Lingkara Madani dan Yayasan Bina Integrasi Edukasi ini terdiri dari 3 seri webinar dan 2 pelatihan dengan tema keuangan yang juga dilakukan secara terpisah.

    Pada webinar pertama ini, Suhendro Sugiharto dari Lingkar Madani, memberikan sambutan sembari menekankan soal pentingnya organisasi untuk mampu adaptif dan bertransformasi dalam kaitannya dengan keberlanjutan organisasi di era saat ini. Itulah alasan webinar dan pelatihan daring menjadi aktivitas program yang dianggap relevan untuk dijalankan. Suhendro pun memberitahukan program Lingkar Madani juga membuka kesempatan terhadap informasi tidak hanya terkait manajemen keuangan namun juga aktivitas program serta update lainnya yang berkaitan di situs lingkarmadani.org. “Semoga edukasi manajemen keuangan yang kami berikan dapat menjadi solusi bagi setiap bentuk organisasi,” pungkas Suhendro.

    Materi yang diberikan Agus Wijayanto secara berurutan terdiri dari Pengelolaan Informasi Publik di Badan Publik Nonpemerintah sebagai manifestasi lahirnya UU No. 14 Thn. 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Agus juga menjelaskan tentang kriteria dan kewajiban Badan Publik yang diatur oleh undang-undang serta Laporan Keuangan OMS yang juga merupakan materi subyek dari informasi publik. Selain itu, disampaikan pula tentang Alur Permohonan dibukanya informasi, Keberatan atas suatu informasi dan juga Permohonan Sengketa.

    Materi yang diangkat belum begitu dikenal oleh organisasi nirlaba terlebih kehadiran pandemi Covid-19 menuntut organisasi publik melakukan pemutakhiran layanan informasi yang mencakup: mengumpulkan, mendokumentasikan, memelihara, menyediakan, mendistribusikan, dan melakukan pelayanan. Ragam informasi ini terdiri dari 3 kategori, yaitu informasi berkala di mana masyarakat tidak perlu bertanya, tapi cukup membaca dan atau mengunduh informasi, publikasi berkala, serta-merta, dan setiap saat, dengan bahasa yang mudah dipahami. Pun, ada tantangan ketika acuan laporan keuangan OMS mengalami perubahan dari format PSAK 45 ke ISAK 35. Disampaikan bahwa tema ini secara spesifik akan dibahas pada seri webinar kedua.

    Agus Wijayanto memberikan kesimpulan pada akhir acara, bahwa kita telah terbiasa menuntut pemerintah untuk terbuka; giliran saatnya kini, kita menunjukkan keterbukaan kita pada publik dan pemerintah. Dalam konteks ini, OMS mempunyai peran yang strategis, yakni fungsi sebagai badan publik dan pemohon informasi publik.

  • WEBINAR #1 \”Manajemen Keuangan\”

    \"\"

    Dalam rangka menyediakan mekanisme dukungan respon Covid-19 bagi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam beradaptasi dengan situasi pandemi, di bulan September 2021 ini Program Lingkar Madani—yang dikelola oleh Yayasan Penabulu dengan dukungan The David and Lucile Packard Foundation—kembali menghadirkan beberapa kegiatan webinar dan pelatihan virtual dalam rangka peningkatan kapasitas OMS seputar topik Manajemen Keuangan.

    Webinar ini adalah bagian dari rangkaian yang akan diberikan oleh Lingkar Madani dan Yayasan Bina Integrasi Edukasi (YBIE), yang disusun dengan pertimbangan kebutuhan membantu OMS membangun sistem pengelolaan keuangan yang akuntabel. Selain itu, YBIE juga akan memberikan penjelasan mengenai perubahan standar akuntansi keuangan yang ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan sudah berlaku sejak 1 Januari 2020, sekaligus kiat-kiat menghadapi konsekuensi perubahan tersebut dalam penyajian laporan keuangan untuk organisasi non laba khususnya para OMS mitra program Lingkar Madani.

    Webinar akan dilaksanakan pada hari Rabu, 15 September 2021, pukul 09.00-12.00 WIB dengan menghadirkan pemateri Agus Wijayanto (Tenaga Ahli, Komisi Informasi Publik Republik Indonesia) dan dimoderatori oleh Arief Firdaus (Yayasan Bina Integrasi Edukasi)

  • Penggalangan Dana Digital #3

    Dipaparkan oleh Marsudi Wijaya, Head of Performance Marketing di Kitabisa.com, dalam Pelatihan sesi ketiga \”Digital Fundraising\”, 18 Agustus 2021.

  • Pemanfaatan Iklan Digital untuk Memaksimalkan Upaya Penggalangan Dana

    Pada hari Rabu, tanggal 18 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan penggalangan dana secara digital, dengan judul “Pemanfaatan Iklan Digital untuk Memaksimalkan Upaya Penggalangan Dana.” Sesi pelatihan ini merupakan sesi ketiga dan terakhir dari serial Pelatihan ”Digital Fundraising” yang diselenggarakan oleh Program Lingkar Madani – Yayasan Penabulu bekerjasama dengan Kitabisa.com. Materi terakhir ini merupakan materi pelengkap dan support atas materi dari dua sesi pelatihan sebelumnya.

    Pelatihan dibawakan oleh Marsudi Wijaya—biasa dipanggil dengan nama singkat Didi—sebagai Pemateri, beliau merupakan Head of Performance Marketing di Kitabisa.com.

    Didi sebagai Pemateri lebih senang dianggap sebagai ”teman diskusi” daripada disebut sebagai Narasumber, oleh karena itu Didi meminta dan berharap agar sepanjang sesi para peserta lebih aktif dan suasana kelas interaktif, tidak ada batasan untuk tanya jawab dalam sesi, baik melalui raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.

    Sesi diawali dengan permintaan agar peserta membuka aplikasi menti.com, lalu interaksi dilakukan dengan membahas beberapa hal, di antaranya: berbagi feeling (suasana hati) dengan simbol, perkenalan diri dan lembaga serta job description masing-masing; apakah nama email telah sesuai dengan nama lembaga/organisasi (namakamu@namalembagamu); apakah lembaga telah memiliki akun media sosial; apakah lembaga telah memiliki situs resmi (website); apakah lembaga pernah membuat/menjalankan iklan; jika sudah pernah beriklan, di media apa; apakah pernah mendengar tentang ”Google Ads Grant”; dan apa ekspektasi peserta pada sesi kali ini.

    Didi kemudian mulai masuk pada materi dengan pembahasan tentang 4 strategi memulai penggalangan dana yang terdiri dari; (a) Motivation, (b) Story, (c) Channel, (d) Network, yang pada gilirannya diharapkan juga dapat menyesuaikan dengan ”Momentum”.

    Dan 4 aspek lain dari “the most effective activation initiatives based on selected variables”

    1. a + b + c = Ads 
    2. a + c + d = P2P Events 
    3. a + b + d = Influencers
    4. a + d = Peer-Fundings

     

    Dan materi pada sesi ini akan fokus pada inisiatif atas iklan berbayar (a + b + c = Ads).
    Lalu 3 hal utama yang harus disiapkan sebelum melakukan promosi/marketing/branding, dengan apa yang disebut 3P adalah: (1) Produksi, (2) Pendistribusian, dan (3) Pengukuran.

    Measurement (Pengukuran) menjadi sangat menentukan, contoh pada iklan yang bisa bagus, termasuk tujuan, gambar, warna dan hal-hal lainnya, sebab: ”if you can not measure it, you can not improve it”—Peter Drucker, 1909-2005.
    Sebelum mengukur, tentukan tujuan (objective), dan pada konteks Ads terdiri atas awareness, traffic dan conversion.
    Sebelum menentukan tujuan (objective), tentukan dahulu channel iklan yang sesuai, contoh pada Facebook Ads, Tiktok Ads, Google Ads. Lalu bagaimana cara menentukan channel iklan yang tepat, dapat dengan visualisasi: (1) pembeli belum memutuskan akan membeli apa, maka kita yang menawarkan; atau, (2) pembeli sudah memutuskan untuk membeli apa, namun belum memutuskan brand/merk yang mana.

    Struktur iklan seringnya berbeda istilah namun sama pengertiannya, contohnya pada penggunaan istilah objective, targeting, dan content berbanding dengan awareness, consideration, dan conversion.

    Pengukuran efektivitas iklan dapat dilihat dari funnel ads sebagai objective yang dianggap penting, karena dalam tim butuh ”clarity and improvement”, kaitannya juga dengan ”team content”. Funnel Ads sebagai measurement team indicator dalah hal yang dapat dikontrol dan diperbaiki untuk meningkatkan performa iklan, program sangat penting namun marketing pun sama pentingnya.

    Selanjutnya pemateri menekankan pentingnya penggunaan “conversion tracking”, karena tanpa itu ”iklan akan boncos”. Maka pada pengelolaan website disarankan untuk menggunakan Google Analytics, dan contoh pemasangannya dengan cara: buka Chrome Ads On, ke Google Tag Managers, lalu Tag Assistent Legacy, Ad di Browser, Default Install, Enable, Reload, Result Tag Analytics.
    Pada kesempatan berikutnya, Pemateri sekaligus membantu menganalisa masing-masing website lembaga/organisasi peserta, kemudian memberikan masukan untuk semua alamat website tersebut dengan menggunakan Google Analytics.

    Berikutnya Pemateri kembali melakukan brainstorming terkait bentuk lembaga/organisasi peserta. Kemudian berbagi informasi dan solusi ketika ketika OMS tidak memiliki budget iklan dan lalu apa yang dilakukan. Salah satu solusi yang memungkinkan diakses adalah voucher gratis sebesar 10.000 Dollar AS atau setara dengan Rp150.000.000 per bulan. Didi juga membekali pemahaman peserta tentang bagaimana cara memperolehnya, termasuk menginformasikan seabrek syarat-syarat yang harus dipenuhi.

    Informasi lain yang juga disampaikan Pemateri adalah mengenai penggunaan Google Workspace yang dapat menjadikan email peserta terkesan menjadi lebih profesional sebab selain dapat menggunakan nama pribadi dan nama lembaga sebagai alamat email (namakamu@namalembagamu.com), namun dapat pula menampung hingga 2.000 akun email. Bagaimana akses Techsoup Indonesia untuk Google for Non Profit, enam langkah untuk mendapatkan Google Ads Grant gratis, jasa manajemen Google Ads Grant Management (contoh. Ranks Monster, dll).

    Sesi Pemateri ditutup dengan penawaran untuk konsultasi terkait materi sekiranya peserta merasa masih diperlukan pendalaman, termasuk bantuan jasa paket Google for Non Profit Management dengan pembiayaan maksimal sebesar Rp10.000.000 sudah termasuk website OMS, landing page, email lembaga/organisasi, dll.

    Pelatihan yang diikuti oleh 22 orang peserta dari 10 organisasi ini ditutup oleh David dengan mengingatkan pengisian polling, info kegiatan Coaching/Klinik, ucapan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh peserta, sharing ilmu/pengetahuan dan pengalaman oleh Pemateri, dan diakhiri dengan foto bersama.

     

  • PEMANFAATAN IKLAN DIGITAL UNTUK MEMAKSIMALKAN UPAYA PENGGALANGAN DANA

    Pada hari Rabu, tanggal 18 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan penggalangan dana secara digital, dengan judul “Pemanfaatan Iklan Digital untuk Memaksimalkan Upaya Penggalangan Dana.” Sesi pelatihan ini merupakan sesi ketiga dan terakhir dari serial Pelatihan ”Digital Fundraising” yang diselenggarakan oleh Program Lingkar Madani – Yayasan Penabulu bekerjasama dengan Kitabisa.com. Materi terakhir ini merupakan materi pelengkap dan support atas materi dari dua sesi pelatihan sebelumnya.

    Pelatihan dibawakan oleh Marsudi Wijaya—biasa dipanggil dengan nama singkat Didi—sebagai Pemateri, beliau merupakan Head of Performance Marketing di Kitabisa.com.

    Didi sebagai Pemateri lebih senang dianggap sebagai ”teman diskusi” daripada disebut sebagai Narasumber, oleh karena itu Didi meminta dan berharap agar sepanjang sesi para peserta lebih aktif dan suasana kelas interaktif, tidak ada batasan untuk tanya jawab dalam sesi, baik melalui raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.

    Sesi diawali dengan permintaan agar peserta membuka aplikasi menti.com, lalu interaksi dilakukan dengan membahas beberapa hal, di antaranya: berbagi feeling (suasana hati) dengan simbol, perkenalan diri dan lembaga serta job description masing-masing; apakah nama email telah sesuai dengan nama lembaga/organisasi (namakamu@namalembagamu); apakah lembaga telah memiliki akun media sosial; apakah lembaga telah memiliki situs resmi (website); apakah lembaga pernah membuat/menjalankan iklan; jika sudah pernah beriklan, di media apa; apakah pernah mendengar tentang ”Google Ads Grant”; dan apa ekspektasi peserta pada sesi kali ini.

    Didi kemudian mulai masuk pada materi dengan pembahasan tentang 4 strategi memulai penggalangan dana yang terdiri dari; (a) Motivation, (b) Story, (c) Channel, (d) Network, yang pada gilirannya diharapkan juga dapat menyesuaikan dengan ”Momentum”.

    Dan 4 aspek lain dari “the most effective activation initiatives based on selected variables”:

    1. a + b + c = Ads
    2. a + c + d = P2P Events
    3. a + b + d = Influencers
    4. a + d = Peer-Fundings

     

    Dan materi pada sesi ini akan fokus pada inisiatif atas iklan berbayar (a + b + c = Ads).
    Lalu 3 hal utama yang harus disiapkan sebelum melakukan promosi/marketing/branding, dengan apa yang disebut 3P adalah: (1) Produksi, (2) Pendistribusian, dan (3) Pengukuran.

    Measurement (Pengukuran) menjadi sangat menentukan, contoh pada iklan yang bisa bagus, termasuk tujuan, gambar, warna dan hal-hal lainnya, sebab: ”if you can not measure it, you can not improve it”—Peter Drucker, 1909-2005.

    Sebelum mengukur, tentukan tujuan (objective), dan pada konteks Ads terdiri atas awarenesstraffic dan conversion. Sebelum menentukan tujuan (objective), tentukan dahulu channel iklan yang sesuai, contoh pada Facebook AdsTiktok Ads, Google Ads. Lalu bagaimana cara menentukan channel iklan yang tepat, dapat dengan visualisasi: (1) pembeli belum memutuskan akan membeli apa, maka kita yang menawarkan; atau, (2) pembeli sudah memutuskan untuk membeli apa, namun belum memutuskan brand/merk yang mana.

    Struktur iklan seringnya berbeda istilah namun sama pengertiannya, contohnya pada penggunaan istilah objectivetargeting, dan content berbanding dengan awarenessconsideration, dan conversion.

    Pengukuran efektivitas iklan dapat dilihat dari funnel ads sebagai objective yang dianggap penting, karena dalam tim butuh ”clarity and improvement”, kaitannya juga dengan ”team content”. Funnel Ads sebagai measurement team indicator dalah hal yang dapat dikontrol dan diperbaiki untuk meningkatkan performa iklan, program sangat penting namun marketing pun sama pentingnya.

    Selanjutnya pemateri menekankan pentingnya penggunaan “conversion tracking”, karena tanpa itu ”iklan akan boncos”. Maka pada pengelolaan website disarankan untuk menggunakan Google Analytics, dan contoh pemasangannya dengan cara: buka Chrome Ads On, ke Google Tag Managers, lalu Tag Assistent LegacyAd di BrowserDefault InstallEnableReloadResult Tag Analytics.

    Pada kesempatan berikutnya, Pemateri sekaligus membantu menganalisa masing-masing website lembaga/organisasi peserta, kemudian memberikan masukan untuk semua alamat website tersebut dengan menggunakan Google Analytics.

    Berikutnya pemateri kembali melakukan brainstorming terkait bentuk lembaga/organisasi peserta. Kemudian berbagi informasi dan solusi ketika ketika OMS tidak memiliki budget iklan dan lalu apa yang dilakukan. Salah satu solusi yang memungkinkan diakses adalah voucher gratis sebesar 10.000 Dollar AS atau setara dengan Rp150.000.000 per bulan. Didi juga membekali pemahaman peserta tentang bagaimana cara memperolehnya, termasuk menginformasikan seabrek syarat-syarat yang harus dipenuhi.

    Informasi lain yang juga disampaikan Pemateri adalah mengenai penggunaan Google Workspace yang dapat menjadikan email peserta terkesan menjadi lebih profesional sebab selain dapat menggunakan nama pribadi dan nama lembaga sebagai alamat email (namakamu@namalembagamu.com), namun dapat pula menampung hingga 2.000 akun email. Bagaimana akses Techsoup Indonesia untuk Google for Non Profit, enam langkah untuk mendapatkan Google Ads Grant gratis, jasa manajemen Google Ads Grant Management (contoh. Ranks Monster, dll).

    Sesi Pemateri ditutup dengan penawaran untuk konsultasi terkait materi sekiranya peserta merasa masih diperlukan pendalaman, termasuk bantuan jasa paket Google for Non Profit Management dengan pembiayaan maksimal sebesar Rp10.000.000 sudah termasuk website OMS, landing page, email lembaga/organisasi, dll.

    Pelatihan yang diikuti oleh 22 orang peserta dari 10 organisasi ini ditutup oleh David dengan mengingatkan pengisian polling, info kegiatan Coaching/Klinik, ucapan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh peserta, sharing ilmu/pengetahuan dan pengalaman oleh Pemateri, dan diakhiri dengan foto bersama.

  • Komunikasi Kerja Tim di Masa Pandemi

    Pada hari Senin, tanggal 16 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lingkar Madani bertema “Komunikasi Kerja Tim di Masa Pandemi”. Pelatihan dibuka dan dibawakan langsung oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”.

    Pembukaan sesi pelatihan yang diselenggarakan selama 3 jam (10.00–13.00 WIB) ini dimulai dengan perkenalan diri Pemateri, lalu berkenalan dengan 16 orang peserta, dengan menyebutkan nama dan asal serta domisili dari masing-masing organisasinya. Dilanjutkan dengan membahas norma kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand lalu open mic (setelah dipersilahkan), maupun melalui chat box dan Q&A.

    Sebagai gambaran awal sesi, Pemateri mengajak para peserta untuk sharing tentang pengalaman berkomunikasi baik dari sebelum hingga pada saat pandemi sebagaimana saat ini. Cerita dimulai oleh Pemateri dengan menyampaikan pengalaman kerja beliau sebelumnya sekitar tahun 2006 ketika sedang bekerja di Serbia, sehingga sampai pada tujuan hidupnya saat ini melalui ”I’m On My Way”, yakni: mempermudah orang untuk menemukan dan menjalani impian hidupnya. Lalu diteruskan oleh enam orang peserta terpilih untuk mendeskripsikan apa yang dinamakan dengan ”why you do what you do”. Kemudian diakhiri dengan berbagi feeling oleh peserta dalam kerangka membangun nilai positif dalam tim kerja, agar tidak terlalu larut pada hal-hal tertulis, sehingga lupa atas AKAR alasan dan tujuannya saat ini.

    Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi: 

    1. Effective Communication; 
    2. Team Communication; dan 
    3. Virtual Team Communication

     

    Masuk pada poin pembelajaran (1) Effective Communication; Ali memulai dengan menyampaikan kalimat kunci pada poin ini yaitu “komunikasi” dan apa pengertian dari komunikasi itu sendiri, yang pada dasarnya adalah sebuah rangkaian penyampaian pikiran/ide/gagasan yang dilakukan dua arah (efektif) sehingga pesan tersebut sampai kepada penerima dan dapat dipahami dengan baik. Komunikasi juga dapat terhambat dan berjalan kurang efektif apabila tujuannya berubah, misalnya penyampai pesan hanya ingin didengarkan dan atau berlangsung satu arah tanpa umpan balik. Hambatan juga dapat berupa ”jarak”, waktu, maksud dan tujuan serta bagaimana cara komunikator menyampaikan pesan, dan atau si penerima pesan itu sendiri menanggapi pesan dimaksud.

    Poin (1) diakhiri dengan tampilan slide ”tujuan komunikasi”, dan pesan Pemateri terkait fokus hari ini yaitu pada penempatan diri peserta hari ini yang berperan sebagai komunikator (pengirim/pemberi pesan) kepada penerima pesan (komunikan).

    Poin pembelajaran (2) Team Communication; diawali dengan berbagi pengalaman atas komunikasi efektif di tim kerja terkait dengan ”momen terbaik, yang tidak baik, dan apa yang membedakan dalam dua kejadian tersebut. Pada momen ini beberapa peserta melakukan sharing, di antaranya adalah Pak Marwan dari Kelompok Kerja Program Karbon Hutan Berau (Pokja PKHB) dan Mbak Fitrianti Sofyan dari Coaction Indonesia (Koaksi Indonesia).

    Tim berarti lebih dari satu orang, dengan karakter, pendidikan, bahasa dan atau latar belakang lainnya, maka leader harus bisa menurunkan ego, leader adalah sosok yang seharusnya melayani, jangan malah minta dilayani. Pahami tim, (relasi kelompok harus juga diimbangi dengan relasi personal), luangkan waktu untuk memahami tim dan personal-personal yang ada di dalam tim dalam rangka ”membangun rapor”.

    Organization Culture (sesi pembelajaran sebelumnya) merupakan pilar/fondasi, sama halnya dengan komunikasi yang baik dan sehat serta efektif yang dibangun di dalam tim, di mana dalam komunikasi ini dibutuhkan kerendahan hati, agar: (1) menyadari bahwa ada kemungkinan kita salah; dan (2) Ini bukan soal saya, namun tentang semua (tim). Karena memiliki tujuan yang sama itu PENTING, ingatkan dengan berbagai cara dan atau media maupun momen.

    Dalam keseharian, salah satu cara mengkomunikasikan pesan adalah lewat meeting, sementara tujuan meeting itu sendiri harus diklarifikasi diawal, yang setidaknya meeting tersebut bertujuan atas tiga hal, dua hal atau minimal satu hal dari:

    1. Menyampaikan informasi
    2. Membuat keputusan
    3. Diskusi/brainstorming

     

    Pada kesempatan selanjutnya sebelum sesi break (istirahat) 15 menit, Pemateri dan peserta mendiskusikan beberapa hal, di antaranya tentang: pimpinan yang sering lupa atas hasil rapat sebelumnya, sebagai solusi bersama adalah dengan membuat notula (minutes of meeting) yang idealnya ditinjau pada saat rapat selanjutnya dimulai, dan pada saat meeting selanjutnya berlangsung hendaknya juga diakhiri dengan wrapping. Sampaikan dengan cara komunikasi yang baik, usahakan tidak secara terbuka/langsung di depan khalayak, dengan tujuan peduli (care and fair). Idealnya seorang pemimpin adalah yang memiliki karakter kepemimpinan, bukan hanya jabatan leader namun leadership-nya.

    Setelah sesi istirahat selama 15 menit dirasa cukup, Pemateri masuk pada poin pembelajaran (3) Virtual Team Communication; dengan inti dari komunikasi dimaksud baik dalam konteks offline maupun online, hanya saja pada masa pandemi sebagaimana saat ini distorsinya ada pada WFH, namun hal ini tentunya dapat diminimalisir apabila seorang leader meluangkan waktu pada tim (anggotanya) yang tetap melakukan ”ritual” komunikasi intens sehingga teamwork tetap dapat berjalan dengan baik, dan agar sang leader paham situasi masing-masing anggota timnya.

    Check performance tim, baik per individu maupun per kelompok. Pastikan apakah ada yang bisa Anda support, hal ini menunjukkan tulusnya kepedulian Anda, walaupun kita bukan ”problem solver” untuk segala hal, setidaknya kita dapat menjembatani dan atau minimalnya menunjukkan kepedulian seorang leader.

    Kembali pada konteks meeting team, Pemateri menekankan dalam meeting tentang pentingnya durasi disepakati dari awal, seandainya pun delay dan atau melampaui batas durasinya maka komunikasikan dan sepakati, karena mungkin saja ada hal-hal lain di luar rapat tersebut ada agenda/kegiatan yang telah disiapkan dan atau akan dilakukan oleh anggota tim Anda. Meeting harus dibuat se-simple-mungkin, bisa dengan konsep KISS (Keep It Short and Simple) alias tidak bertele-tele, jangan sekedar ritual namun jelas bermakna dan atau ada output-nya.

    Pemateri menutup sesi hari ini dengan ”nilai dan manfaat” atas apapun yang dilakukan, ”tidak sekedar bermanfaat tapi hendaknya dimanfaatkan”.

    Proses pelatihan ditutup oleh Rukita Widodo dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, semoga pelatihan ini sungguh bermanfaat agar pekerjaan tetap berjalan lancar meski di masa pandemi. Rukita juga mengingatkan untuk mengisi polling evaluasi kegiatan, sekaligus menginformasikan kembali tentang kegiaatn Coaching/Klinik, dan jadwal pelatihan selanjutnya dengan tema ”Pemanfaatan Iklan untuk Upaya Penggalangan Dana” dari Kitabisa yang akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Agustus 2021 dan detailnya telah disampaikan melalui kolom chat dan Newsletter.