Blog

  • Kelas Online BERSAMA BERDAYA DIGITAL : Penggunaan Kreatif Platform Digital – Media Sosial

    Mari tingkatkan keahlian dalam penggunaan platform digital melalui Kelas Online \”Penggunaan Kreatif Platform Digital: Media Sosial\” dari Bersama Berdaya Digital! 🌟🌐

    Kelas ini akan fokus pada strategi efektif dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat yang kuat untuk mencapai tujuan digital bagi organisasi masyarakat sipil. Dapatkan wawasan langsung dari para praktisi di industri digital marketing yang berpengalaman.

    Kelas online akan diadakan pada tanggal 15 Juni 2023, pukul 10.00-11.30 WIB.

    Narasumber yang akan menyampaikan materi Kelas Online ini adalah :

    Anantya

    Reza Akbar (Ega)

    Ikuti kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kelas online kami yang lain, ya! #BersamaBerdayaDigital #KelasOnline #MediaSosial #StrategiDigital #KreativitasDigital #OrganisasiMasyarakatSipil

  • Menulis Konten Website

    Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta diharapkan mampu menulis artikel yang menarik dan SEO friendly, namun tetap mudah dipahami

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 5-6 “MENGENAL DAN MERANCANG INFOGRAFIS DENGAN CANVA ATAU PIKTOCHART”

    Jika pelatihan kemarin, kita mempelajari aneka infografis, kali ini, Moerat Sitompul (Kepala Tempo Media Lab), pengajar serial pelatihan laporan efektif #5, memberikan gambaran infografis. Selain harus mengetahui jenis yang pas dengan cerita, infografis itu tidak harus kaku, tapi mesti leluasa.

    Entah berapa contoh infografis yang ditampilkan Moerat pada awal pelatihan. Grafik batang, garis, dan kue—paling sering digunakan desainer—masih ada balon, peta, diagram, dan hirarki, alur, simbol, serta pohon, kutipan, dan matriks. Satu desain infografis, bisa menggunakan grafik peta, kutipan, dan simbol, misalkan, bahkan dapat ditambahkan gambar atau foto orang yang terkait konten. Permainan warna pun penting, tidak hanya untuk menonjolkan melainkan memberikan perbedaan dari data yang telah dikelola.

    Berdasarkan pengalamannya bekerja selama 22 tahun di Tempo, hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang desainer adalah memahami persoalan dan data yang akan diangkat pada infografis. Jika tidak, itu akan buang energi.

    Kemudian, ia membagikan tautan tentang tips dan trik membuat infografis, satu di antaranya yakni: infografis harus bercerita tentang sesuatu; sumber terpercaya; periksa silang akurasinya; pilih visualisasi yang tepat; berikan label; dan ringkas. Lebih jelasnya, bisa klik tautan ini www.bit.ly/PictoTempo

    Bagian kedua pelatihan, siang hari, sesi dilanjutkan dengan latihan menggunakan canva. Bagi kita yang bukan berprofesi sebagai desainer, aplikasi Canva ini sangat bermanfaat. Istilahnya, dari yang tidak bisa desain, jadi bisa. Melalui breakout room di Zoom Meeting, peserta saling bekerja sama dalam merancang infografis.

    Keesokan harinya, evaluasi hasil kerja seperti yang dilakukan pada materi sebelumnya, pengajar memberikan ulasan dan saran. Ternyata, infografis peserta nggak kalah keren loh dengan buatan desainer. Penasaran dengan materi ini? Silakan saksikan videonya. Terima kasih Tempo Institute, terima kasih Moerat Sitompul dan peserta. Semoga materi yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi organisasi kita.

  • WORKSHOP #3 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “MENGUKUR DAMPAK DAN EFEKTIVITAS KAMPANYE SOSIAL DIGITAL”

    Tidak sedikit kampanye sosial yang tersebar di media sosial, baik yang berhasil maupun yang tidak. Sebelum menjalankan kampanye, kita mesti tahu metode untuk mengukur dampak positif bahkan negatifnya. Pertanyaannya, mengapa hal ini penting?

    Nah, topik tersebut diangkat oleh Emilia Tiurma Savira, Impact Measurement Enthusiast dari Indika Foundation dan Siti Fatimah Ayuningdyah, Sponsorship Outreach Manager Campaign.com, saat  Workshop #3 Revolusi Digital Kampanye Sosial, Jumat, 1 April 2022.

    Emilia bilang, “Jumlah follower yang banyak atau penggunaan tools yang canggih, belum tentu menentukan keberhasilan kampanye sosial.”

    “media sosial hanya salah satu cara saja, tidak semua hasil dilihat dari hape,” sambungnya.

    Hal pertama yang penting dilakukan adalah menentukan apa (what), siapa (who), dan mengapa (why), baru bagaimana (how). Misalkan, kampanye apa yang akan dilakukan; siapa targetnya; dan mengapa kampanye tersebut penting untuk mereka, bukan organisasi. Metode ini sama dengan yang digunakan untuk pembuatan konten. Dan kita harus yakin—biasanya yang masih bingung dengan “how”, berarti masih belum jelas what, who, dan why-nya.

    Lantas, apa kaitan antara kampanye dan monitoring serta evaluasi? Menurut Emilia, pembicara pelatihan kali ini, monitoring dapat mengukur target atau tujuan, mendapatkan respon positif atau negatif, kampanye harus dilanjutkan atau tidak. Evaluasi sendiri tujuannya untuk melihat apakah kampanye tersebut membawa perubahan, entah itu dari segi perilaku maupun kebijakan, tergantung dari tujuan kampanye.

    Seperti target jumlah orang yang tanda tangan  dan besaran dukungan yang diharapkan, bisa diukur melalui alat ukur yang digunakan di website organisasi. Berapa kali yang melihat, satu orang bisa berapa  kali melihat. Kalau sudah beberapa kali, berarti  orang tersebut tertarik.

    Monitoring media sosial bisa dilihat dari reach, impression, dan engagement, juga conversion to click dan conversation. Percakapan perlu monitor. Lantas, apa yang dievaluasi? Dibagi beberapa hal, yakni: return visit; sign up; upload foto; jumlah yang berdomasi;  dan active promoter.

    Sedangkan, monitoring non-medsos, misal: dukungan stakeholders kunci, bisa juga pelaku, dan page views.

    Sesi selanjutnya, Siti Fatimah Ayuningdyah, fasilitator workshop, menekankan pentingnya hasil monitoring dan evaluasi untuk investor atau pihak sponsor, apakah hasil kampanye memberikan dampak positif atau tidak. Jika mereka puas, tidak menutup kemungkinan, mereka akan kembali membantu program kampanye kita.

    Masih banyak lagi, pengetahuan dan strategi berkampanye sosial di digital yang dibagikan narasumber. Padat tapi mudah dipahami. Terima kasih Campaign.com, sampai jumpa di lain waktu.

  • Upskilling: Knowledge & Engagement Strategy for Non-Governmental Organization

    Berangkat dari kebutuhan OMS Mitra Lingkar Madani untuk dapat mengatasi tantangan di depan dalam keberlanjutan organisasi. Hal itu melingkupi aspek keuangan, resiliensi di tengah pandemi dan penguatan OMS.

    Atas kebutuhan tersebut, Lingkar Madani berinisiatif melakukan pelatihan pengembangan kapasitas internal bagi OMS Mitra di tanah Papua, yang mana dipandang perlu untuk mendukung kinerja dan keberlanjutan organisasi OMS Mitra dalam berbagai aspek, mulai dari aspek pendanaan/finansial, partisipasi publik, advokasi kebijakan, hingga strategi berjejaring dengan pemangku kepentingan.

    Pelatihan diselenggarakan secara luring (offline) pada 6 – 8 Maret 2023 di Sorong, Papua.

  • Pelatihan Luring: Penguatan Psikososial di Tempat Kerja, Bersama Angsamerah

    Di bulan yang identik dengan cinta ini, Lingkar Madani bersama Angasamerah telah melaksanankan Pelatihan bertajuk \” Work Life Balance\”.

    Work life Balance merupakan kegiatan luring pertama Lingkar Madani bersama 15 OMS Mitra terpilih di Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung dari13 sampai dengan 18 Februari itu, diikuti oleh para peserta yang merupakan pengelola sumber daya manusia (HRD) dan Staf dari masing-masing OMS. Komposisi pesertanya adalah 13 orang dari perwakilan HRD dan 27 orang dari perwakilan Staf.

    Dalam Work Life Balance para peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan memahami diri dan orang lain. Tiap peserta juga dibekali untuk mampu membangun sistem yang mendukung psikososial dan kesehatan mental di tempat kerja serta mampu berkolaborasi secara optimal dalam menjalankan roda organisasi.

    Tujuan pelatihan Work Life Balance itu sendiri adalah menciptakan keseimbangan, belajar membuat batasan dan menikmati gaya hidup yang memuaskan. Selain itu, para peserta diharapkan mencapai keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi yang berkorelasi positif dalam membantu mengelola stres dan menjalani hidup penuh cinta.

    A. TRAINING PENGELOLA SDM/HRD MEMBANGUN WELLBEING DI TEMPAT KERJA dalam MENCIPTAKAN WORK LIFE BALANCE

    Pelatihan ini disusun dan difokuskan bagi 15 manajer/pengelola sumber daya manusia (HRD). Mereka diajak untuk memahami peran diri dan professional, mengenal peran pengelola SDM/HRD, efektifitas serta batasan pengelola SDM dalam sebuah organisasi dan hal lain yang relevan;

    Harapannya, para pimpinan HRD dapat Memahami mekanisme dukungan pengelola SDM dan manajemen dalam menciptakan Work Life Balance, membangun sistem dukungan untuk karyawan sehingga lebih produktif dan Menyadari keuntungan dari keseimbangan kehidupan kerja.

    B. PSYCHOLOGY FIRST AID

    Pelatihan ini difokuskan bagi mereka yang bekerja dalam kapasitasnya sebagai staf. Dalam pelatihan ini, Staf telah mempelajari keterampilan hidup yang seimbang, baik secara mental maupun fisik, di tempat mereka bekerja.

    Tujuan dari sesi bagi staff adalah mereka mampu menciptakan kebiasaan yang membangun diri, menjadi pribadi yang produktif, kompromis, Belajar mengatakan TIDAK, Seni Delegasi dan Fleksibel dengan padatnya jadwal kerja. Peserta juga diharapkan mampu membantu dan mendorong orang lain untuk dapat mengakses bantuan professional dalam proses mitigasi stress,

    Harapannya, setiap staf mampu meningkatkan sikap dalam bekerja efektif dan mengelola stres yang berpotensi muncul dalam pekerjaan sehari-hari.

  • Work Life Balance

    Materi:

    1. Seberapa Mampu Aku Bertahan oleh Dr. Gina AnindyajatiDr. Gina Anindyajati
    2. Work Life Balance oleh Adhe Zamzam, S.Psi, C.CL CHt

    Dalam Webinar “Membangun Keselarasan Dunia Kerja dengan Kehidupan Pribadi dengan Peduli Pada Kondisi Diri – Work Life Balance”, Rabu 18 Januari 2023

  • Work Life Balance, Menyeimbangkan Kehidupan Kerja dan Pribadi

    Setiap manusia pasti mengalami stres. Bagi para pekerja, pekerjaan cenderung dianggap sebagai pemicu stres. Stres kerja adalah kondisi interaksi manusia dan pekerjaannya menciptakan adanya ketegangan dan ketidakseimbangan fisik serta psikis yang memengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seorang karyawan. Pendekatan individu dan organisasional dapat menjadi strategi dalam menciptakan keselarasan kehidupan pribadi dan pekerjaan, yang mana diperlukan teknik dan pola baru. Melihat kebutuhan ini, Yayasan Penabulu, melalui program Lingkar Madani, bekerja sama dengan Yayasan Angsamerah, menyelenggarakan webinar “Membangun Keselarasan Dunia Kerja dengan Kehidupan Pribadi dengan Peduli Pada Kondisi Diri – Work Life Balance”, Rabu 18 Januari 2023, dengan menghadirkan Dr. Gina Anindyajati, Sp. KJ dan Adhe Zamzam, S.Psi, C.CL CHt.

    “Apa saja yang harus kita lakukan untuk menghadapi situasi pekerjaan agar tidak menjadi tekanan-tekanan tambahan yang membuat hidup kita semakin sulit”, ungkap Dr. Gina Anindyajati, yang biasa disapa dengan Dr. Gina, membuka paparanya tentang “Seberapa Mampu Aku Bertahan\” dengan beberapa contoh ungkapan curhat stres yang sering muncul di media sosial.

    Kenali apa itu ‘sehat’. Sehat itu sesungguhnya adalah suatu keadaan kondisi fisik, jiwa dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Demikian halnya bagi pekerja, ketiga hal ini menjadi acuan untuk melihat tingkat kesehatan dan kemampuannya dalam menghadapi berbagai tekanan atas kerja dan lingkungan pekerjaannya. Dengan kondisi fisik yang tidak fit maka akan memengaruhi suasana perasaan (jiwa) seseorang. Sebaliknya, dengan adanya gangguan ansietas, depresi dan tekanan perasaan lainnya yang mengakibatkan kondisi fisik yang tidak nyaman dan sakit. Kondisi inilah yang kemudian disebut sebagai gangguan psikomatis, yakni keadaan jiwa yang tidak sehat dan termanifestasikan pada kondisi fisik, seperti adanya sensasi “flying butterflies” di dalam perut, jantung berdebar lebih kencang dari biasanya, nyeri otot, dan imun tubuh melemah.

    “Mengelola stres dapat mengurangi gejala gangguan psikomatis, dan bisa dilakukan diberbagai tingkatan; baik secara individu, organisasi dan juga melakukan skrining secara rutin”. Ungkap Dr Gina, yang juga adalah seorang prikiater di Angsamerah Clinic.

    Self-care (merawat diri); misalnya dengan melakukan olah raga secara rutin, seperti yoga, Latihan ketahanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Contoh lainnya dengan melakukan relaksasi dan mengerjakan suatu hobi. Dengan melakukan ini, kita menumbuhkan perspektif bahwa tidak ada yang tidak bisa dikerjakan, hanya terkadang kita belum tahu bagaimana mengerjakannya.

    Self-care kadang disamakan dengan menyendiri, memanjakan diri, mengutamakan kepentingan pribadi dan kadang membangun sebuah to-do list self-care.

    “Padahal sejatinya, self-care itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar fisik dan mental sehingga fisik dan jiwa menjadi lebih baik. Self-care juga bukan berarti pelarian atas suatu kondisi yang belum kita selesaikan, melainkan dalam self-care itu adalah menemukan ketenangan diri lewat perawatan diri hingga fit dan mampu menghadapi kondisi atau persoalan yang dihadapi.” Jelas Dr. Gina.

    Mengelola stres pada tingkat organisasi dapat dilakukan dengan mengubah sistem organisasi melalui penilaian faktor risiko terkait pekerjaan atau psikososial yang mampu memengaruhi kesehatan jiwa dan fisik pekerja. Misalnya penilaian atas jenis dan beban pekerjaan, jadwal kerja dan keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi, budaya organisasi dan hubungan antar rekan kerja. Komitmen organisasi untuk menyeimbangkan ini juga sebaiknya diimplementasikan mulai dari tahap perencaan, pelaksanaan hingga observasi.

    Adhe Zamzam, S.Psi, C.CL CHt, biasa dipanggil dengan mba Adhe, mengajak para peserta membangun “Work Life Balance” melalui beberapa hal, diantaranya:

    1. Mengidentifikasi peran dirinya baik di keluarga, lingkungan sosial dan di tempat kerja serta lingkungan lainya, sehingga mampu menghadapinya sesuai dengan peran yang dimiliki.
    2. Memberi apresiasi positif bagi diri sendiri atas apa yang sudah dikerjakan.
    3. Membangun keseimbangan diri terhadap kerja dan pribadi baik terkait waktu, keterlibatan dan kepuasan.

    “Menang-kalah dalam kehidupan sudah kita hadapi tapi usaha menang tetap harus diusahakan,” Begitu kata mba Adhe. Hal ini juga dilakukan untuk menemukan life balance antara kehidupan pribadi dan kerja. Tiga sudut segitiga kehidupan yang perlu diperhatikan yakni: relasi, pekerjaan dan self-care.

    Webinar yang dihadiri oleh 44 orang, dari perwakilan organisasi mitra program Lingkar Madani dan juga publik, baik secara individu maupun mewakili lembaganya, ini berlangsung selama dua jam dengan penuh antusias dari para peserta melalui tanggapan dan pertanyaan. Kedua narasumber merespon setiap pertanyaan secara langsung maupun melalui kolom chat box.

    “Dengan memahami posisi keseimbangan domain kehidupan, maka kita juga dapat menyeimbangkan dan menyelaraskan antara kehidupan kerja dan pribadi,” Ungkap mba Adhe menutup paparannya dan sesi webinar kali ini.

  • KOMUNIKASI KERJA TIM DI MASA PANDEMI

    Pada hari Senin, tanggal 16 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lingkar Madani bertema “Komunikasi Kerja Tim di Masa Pandemi”. Pelatihan dibuka dan dibawakan langsung oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”.

    Pembukaan sesi pelatihan yang diselenggarakan selama 3 jam (10.00–13.00 WIB) ini dimulai dengan perkenalan diri Pemateri, lalu berkenalan dengan 16 orang peserta, dengan menyebutkan nama dan asal serta domisili dari masing-masing organisasinya. Dilanjutkan dengan membahas norma kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand lalu open mic (setelah dipersilahkan), maupun melalui chat box dan Q&A.

    Sebagai gambaran awal sesi, Pemateri mengajak para peserta untuk sharing tentang pengalaman berkomunikasi baik dari sebelum hingga pada saat pandemi sebagaimana saat ini. Cerita dimulai oleh Pemateri dengan menyampaikan pengalaman kerja beliau sebelumnya sekitar tahun 2006 ketika sedang bekerja di Serbia, sehingga sampai pada tujuan hidupnya saat ini melalui ”I’m On My Way”, yakni: mempermudah orang untuk menemukan dan menjalani impian hidupnya. Lalu diteruskan oleh enam orang peserta terpilih untuk mendeskripsikan apa yang dinamakan dengan ”why you do what you do”. Kemudian diakhiri dengan berbagi feeling oleh peserta dalam kerangka membangun nilai positif dalam tim kerja, agar tidak terlalu larut pada hal-hal tertulis, sehingga lupa atas AKAR alasan dan tujuannya saat ini.

    Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi:

    1. 1. Effective Communication;
    2. 2. Team Communication; dan
    3. 3. Virtual Team Communication.


    Masuk pada poin pembelajaran (1) Effective Communication; Ali memulai dengan menyampaikan kalimat kunci pada poin ini yaitu “komunikasi” dan apa pengertian dari komunikasi itu sendiri, yang pada dasarnya adalah sebuah rangkaian penyampaian pikiran/ide/gagasan yang dilakukan dua arah (efektif) sehingga pesan tersebut sampai kepada penerima dan dapat dipahami dengan baik. Komunikasi juga dapat terhambat dan berjalan kurang efektif apabila tujuannya berubah, misalnya penyampai pesan hanya ingin didengarkan dan atau berlangsung satu arah tanpa umpan balik. Hambatan juga dapat berupa ”jarak”, waktu, maksud dan tujuan serta bagaimana cara komunikator menyampaikan pesan, dan atau si penerima pesan itu sendiri menanggapi pesan dimaksud.

    Poin (1) diakhiri dengan tampilan slide ”tujuan komunikasi”, dan pesan Pemateri terkait fokus hari ini yaitu pada penempatan diri peserta hari ini yang berperan sebagai komunikator (pengirim/pemberi pesan) kepada penerima pesan (komunikan).

    Poin pembelajaran (2) Team Communication; diawali dengan berbagi pengalaman atas komunikasi efektif di tim kerja terkait dengan ”momen terbaik, yang tidak baik, dan apa yang membedakan dalam dua kejadian tersebut. Pada momen ini beberapa peserta melakukan sharing, di antaranya adalah Pak Marwan dari Kelompok Kerja Program Karbon Hutan Berau (Pokja PKHB) dan Mbak Fitrianti Sofyan dari Coaction Indonesia (Koaksi Indonesia).

    Tim berarti lebih dari satu orang, dengan karakter, pendidikan, bahasa dan atau latar belakang lainnya, maka leader harus bisa menurunkan ego, leader adalah sosok yang seharusnya melayani, jangan malah minta dilayani. Pahami tim, (relasi kelompok harus juga diimbangi dengan relasi personal), luangkan waktu untuk memahami tim dan personal-personal yang ada di dalam tim dalam rangka ”membangun rapor”.

    Organization Culture (sesi pembelajaran sebelumnya) merupakan pilar/fondasi, sama halnya dengan komunikasi yang baik dan sehat serta efektif yang dibangun di dalam tim, di mana dalam komunikasi ini dibutuhkan kerendahan hati, agar: (1) menyadari bahwa ada kemungkinan kita salah; dan (2) Ini bukan soal saya, namun tentang semua (tim). Karena memiliki tujuan yang sama itu PENTING, ingatkan dengan berbagai cara dan atau media maupun momen.

    Dalam keseharian, salah satu cara mengkomunikasikan pesan adalah lewat meeting, sementara tujuan meeting itu sendiri harus diklarifikasi diawal, yang setidaknya meeting tersebut bertujuan atas tiga hal, dua hal atau minimal satu hal dari: menyampaikan informasi, membuat keputusan, dan diskusi/brainstorming.


    Pada kesempatan selanjutnya sebelum sesi break (istirahat) 15 menit, Pemateri dan peserta mendiskusikan beberapa hal, di antaranya tentang: pimpinan yang sering lupa atas hasil rapat sebelumnya, sebagai solusi bersama adalah dengan membuat notula (minutes of meeting) yang idealnya ditinjau pada saat rapat selanjutnya dimulai, dan pada saat meeting selanjutnya berlangsung hendaknya juga diakhiri dengan wrapping. Sampaikan dengan cara komunikasi yang baik, usahakan tidak secara terbuka/langsung di depan khalayak, dengan tujuan peduli (care and fair). Idealnya seorang pemimpin adalah yang memiliki karakter kepemimpinan, bukan hanya jabatan leader namun leadership-nya.

    Setelah sesi istirahat selama 15 menit dirasa cukup, Pemateri masuk pada poin pembelajaran (3) Virtual Team Communication; dengan inti dari komunikasi dimaksud baik dalam konteks offline maupun online, hanya saja pada masa pandemi sebagaimana saat ini distorsinya ada pada WFH, namun hal ini tentunya dapat diminimalisir apabila seorang leader meluangkan waktu pada tim (anggotanya) yang tetap melakukan ”ritual” komunikasi intens sehingga teamwork tetap dapat berjalan dengan baik, dan agar sang leader paham situasi masing-masing anggota timnya.

    Check performance tim, baik per individu maupun per kelompok. Pastikan apakah ada yang bisa Anda support, hal ini menunjukkan tulusnya kepedulian Anda, walaupun kita bukan \”problem solver” untuk segala hal, setidaknya kita dapat menjembatani dan atau minimalnya menunjukkan kepedulian seorang leader.

    Kembali pada konteks meeting team, Pemateri menekankan dalam meeting tentang pentingnya durasi disepakati dari awal, seandainya pun delay dan atau melampaui batas durasinya maka komunikasikan dan sepakati, karena mungkin saja ada hal-hal lain di luar rapat tersebut ada agenda/kegiatan yang telah disiapkan dan atau akan dilakukan oleh anggota tim Anda. Meeting harus dibuat se-simple-mungkin, bisa dengan konsep KISS (Keep It Short and Simple) alias tidak bertele-tele, jangan sekedar ritual namun jelas bermakna dan atau ada output-nya.

    Pemateri menutup sesi hari ini dengan ”nilai dan manfaat” atas apapun yang dilakukan, ”tidak sekedar bermanfaat tapi hendaknya dimanfaatkan”.

    Proses pelatihan ditutup oleh Rukita Widodo dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, semoga pelatihan ini sungguh bermanfaat agar pekerjaan tetap berjalan lancar meski di masa pandemi. Rukita juga mengingatkan untuk mengisi polling evaluasi kegiatan, sekaligus menginformasikan kembali tentang kegiaatn Coaching/Klinik, dan jadwal pelatihan selanjutnya dengan tema ”Pemanfaatan Iklan untuk Upaya Penggalangan Dana” dari Kitabisa yang akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Agustus 2021 dan detailnya telah disampaikan melalui kolom chat dan Newsletter.

  • Coping Mechanism

    Dipaparkan oleh Dr. Baby Siti Salamah, M.Psi., Psikolog dalam Webinar \”Mengenal dan Membangun Coping Stress\” pada tanggal 9 Agustus 2022