Category: Liputan Kegiatan

  • MENDESAIN DAN MENGINTERNALISASI BUDAYA ORGANISASI

    Pada hari Rabu, tanggal 28 Juli 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan Pembangunan Budaya Organisasi (Building Organisation Culture), dengan judul “Mendesain dan Menginternalisasi Budaya Organisasi.” Pelatihan dibuka langsung dan dibawakan oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”. Pembukaan sesi pelatihan dimulai dengan perkenalan Pemateri, perkenalan dari keseluruhan 35 orang peserta, termasuk asal domisili dari masing-masing organisasinya, sekaligus membahas Norma Kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.

    Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi: (1) Organization Identity; (2) Culture; dan (3) Internalization.

    Ali memulai penjabaran ketiga poin tersebut dengan membahas tentang Organization Identity (Zoom Out) yang merupakan Identitas, Elemen, Nama, serta Visual dan berfungsi untuk mengidentifikasi, melakukan/menarik, mencoba dan atau menguji/evaluasi (meyakinkan), pengambilan keputusan jangka pendek, utamanya dalam membangun hubungan. Disampaikan juga tentang unseen reality (fenomena gunung es) dengan mencuplik perkataan dari seorang filsuf sekaligus sufi ternama, yaitu Jalalludin Rumi yang mengatakan “everything you see has will roots in the unseen.” Ali juga menjelaskan bahwa semua hal bisa dinamakan atau diberi nama, baik hal tersebut bisa dilihat secara visual, maupun non-visual.

    Pembahasan langsung diikuti dengan sesi tanya-jawab yang beberapa rangkuman dari bahasan di sesi ini antara lain: setiap individu punya keunikan masing-masing (positif); kita mengetahui orang lain karena kita mengenalinya (dinamakan juga “interaksi produktif”); serta penjelasan tentang Quantity vs Quality di mana juga dijelaskan tentang peran dan pembeda antara Refleksi dan/atau Kontemplasi. Di sesi ini, Ali sebagai pemateri juga mengulang sekaligus mempertegas pembahasan tentang hal-hal non-visual/yang tidak terlihat namun dapat dirasakan/disadari keberadaannya dengan menambahkan bahwa pada akhirnya yang dianggap berarti adalah values (nilai/manfaat), serta jasa. Sesi ini ditutup dengan break time selama sekitar 7 menit untuk memberi ruang kepada peserta ‘mengendapkan’ apa yang baru saja mereka serap dalam sesi paparan dan diskusi.

    Setelah cukup dengan rehat sejenak, sesi pelatihan dilanjutkan dengan pembahasan tentang Culture (Zoom In) yang definisinya adalah sekumpulan dari nilai-nilai yang diimplementasikan secara konsisten oleh mayoritas atau keseluruhan populasi. Di dalamnya terdapat perilaku (behaviors) yang juga bisa dimaknai sebagai karakter dari budaya. Disampaikan bahwa nilai-nilai (values) bukan sekedar baik atau tidak, namun juga cocok atau tidak karena menyangkut pula dengan karakter, kepribadian dan juga kebiasaan di mana hal-hal ini lah yang juga menuntun perilaku, aksi, dan keputusan yang kita buat. Di ujung pembahasan ditegaskan bahwa mudah untuk menduplikasi produk, tapi tidak mudah melakukannya dengan budaya. Sesi ini ditutup dengan tanya jawab terkait beberapa hal, beberapa yang dibahas di sesi ini antara lain adalah kebijakan mengikuti budaya, bukan sebaliknya. Oleh sebab itu, disampaikan pula bahwa layanan yang diberikan oleh organisasi adalah juga merupakan produk dari budaya yang diinternalisasi.

    Pembahasan terakhir tersebut menjadi jembatan untuk segmen terakhir yang membahas tentang Internalization (Super Zoom). Diawali dengan paparan tentang cetak biru untuk internalisasi (blueprint for internalization), maka proses yang berlangsung di dalam suatu organisasi bisa dibagi menjadi dua hal: mesin (engine) dan komunikasi. Engine sendiri dapat dijabarkan menjadi: (a) Proses rekrutmen teknis dan non-teknis yang menyesuaikan dengan nilai organisasi. Patut dicermati bahwa sebaik-baiknya pemilihan adalah orang yang baik secara teknis dan nilai (value). Namun apabila harus memilih yang terburuk, maka minimal kriteria rekrutmen adalah pemilihan yang secara teknis kurang baik namun secara value baik.

    Berikutnya adalah tentang Appraisal yang dapat dilakukan dengan mengukur deskripsi/keterangan detail pekerjaan (job desc),  juga seberapa jauh staf menerapkan/berkonsentrasi kepada value yang telah ada dan atau didesain di Organisasi. Oleh sebabnya, diperlukan juga tahapan pelatihan dan pengembangan yang mampu membangun kepedulian pada perkembangan organisasi/SDM melalui nilai-nilai yang konsisten, bukan basa-basi, mengedepankan hospitality yang berujung kepada service excellence. Juga perlunya Penghargaan dan Pengakuan terhadap hasil kerja. Keempat hal tersebut merupakan proses di dalam organisasi yang bisa dimaknai sebagaimana mesin (Engine) yang menjaga keselarasan value dan kemudian mengubahnya menjadi Sistem.

    Hal yang kedua adalah tentang komunikasi (Communication) yang baik, berlangsung dua arah serta dipraktikkan secara berkelanjutan/reguler dan bukan pengumuman (announcement) semata. Paparan tentang internalisasi dalam organisasi ini ditutup dengan sebuah adagium, yakni ”Action Speaks Louder than Words” yang kemudian diikuti dengan sesi tanya jawab, terkait bebarapa hal di antaranya tentang bahwa Penghargaan dan Pengakuan kaitannya adalah berkaitan erat dengan hierarki dalam organisasi, di mana diberikan contoh bahwa jika terkadang atasan lah yang melakukan pelanggaran, maka akan menciptakan kesenjangan (gap) antara budaya serta value yang tertulis/termuat/tercetak/tertempel. Sesi ini ditutup dengan penyampaian bahwa “pemimpin ideal siap mengambil keputusan terbaik dan adil kendati tidak populer;” yang juga merupakan kata penutup dari Pemateri.

    Keseluruhan proses pelatihan ditutup oleh Rukita dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, sekaligus menginformasikan tentang coaching/klinik, juga mengenai jadwal pelatihan selanjutnya dan diakhiri dengan foto bersama.

  • KIAT MENULIS UNTUK PERUBAHAN SOSIAL

    Pada 23 Juli 2021, Yayasan Penabulu menyelenggarakan pelatihan virtual “Kiat Menulis untuk Perubahan Sosial” sebagai. Dalam pelatihan ini Arief Aziz (salah satu pendiri dan Country Director dari Change.org Indonesia), selaku trainer, menjelaskan komponen penting terkait menulis untuk perubahan sosial, disertai studi kasus dan simulasi menulis.

    Disampaikan bahwa terdapat enam komponen penting dalam menulis untuk perubahan sosial. Pertama adalah JUDUL, dalam sebuah artikel atau subjek e-mail, disarankan untuk membuat judul yang membuat calon pembaca penasaran untuk membuka artikel atau undangan tersebut.

    Setelah judul, ada LEDE, yaitu kalimat pembuka sebuah tulisan, yang sebaiknya dibuat menohok agar pembaca tertarik untuk meneruskan membaca tulisan atau malah menutup browser. Tanpa LEDE yang menarik, kita bisa saja kehilangan separuh potensi audience.

    Ketiga, memberikan PERSONAL STORY. Dengannya, audience akan merasa lebih terhubung untuk mendukung atau membuat perubahan atas situasi yang sedang dianggap sebagai masalah. PERSONAL STORY memberikan sense of emotion kepada pembaca untuk kemudian tergugah dan memberikan dukungan terhadap perubahan.

    Komponen keempat adalah CRISIS atau masalah. Dalam menyampaikan pesan perubahan, penulis mesti menempatkan diri sebagai orang awam yang belum pernah terpapar isu tersebut. Perlu diingat, tujuan dari membuat tulisan melalui petisi adalah memperoleh dukungan dari masyarakat seluas-luasnya. Maka, tulisan sebaiknya dibuat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua orang. CRISIS juga akan lebih baik bila dilengkapi dengan data-data terkait kasus yang sedang dibahas dalam tulisan. Setiap masalah memiliki berbagai angle dan dalam menjabarkan CRISIS, penulis bisa memilih satu angle. Misalnya, dari sudut pandang pihak yang dirugikan atau sudut pandang objek kasus dengan metode personifikasi.

    Komponen kelima adalah SOLUSI. Setelah menjabarkan CRISIS dengan satu angle yang konsisten, maka penulis mesti menawarkan SOLUSI terkait permasalahan tersebut. Menceritakan CRISIS dengan satu angle dapat mempermudah penulis memberikan suatu SOLUSI yang konkrit. Terakhir adalah AJAKAN (call to action). Bentuk AJAKAN bisa berupa aksi tertentu, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan bisa juga ajakan untuk menandatangani dan menyebarkan petisi.

    Durasi training yang compact dan suasana pelatihan yang interaktif membuat 32 peserta yang hadir mampu secara konsisten mengikutinya dengan intens dari awal hingga selesai.

  • MEMBANGUN STRATEGI KAMPANYE LEWAT PETISI DARING

    Sebagai bagian dari seri pelatihan Kampanye Digital, Yayasan Penabulu menyelenggarakan pelatihan dengan judul “Membangun Strategi Kampanye Lewat Petisi Daring”. Pelatihan ini bertujuan untuk mendorong Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) membangun inovasi dan kreativitas untuk mengembangkan model advokasi kampanye digital yang efektif, yaitu melalui petisi. Pelatihan ini diberikan oleh Arief Aziz, salah satu pendiri dan Country Director dari Change.org Indonesia yang merupakan sebuah perusahaan sosial dan platform digital untuk memfasilitasi individu dan organisasi dalam memulai, memobilisasi dan memenangkan kampanye sosial melalui petisi. Dihadiri 32 peserta yang konsisten hingga akhir, pelatihan berjalan interaktif antara peserta dan pelatih.

    Pelatihan dibuka dengan sesi ice breaking untuk menghidupkan suasana cair dan interaktif antar peserta. Materi dimulai dengan pengalaman dan cerita menarik dari Change.org dalam melakukan advokasi di isu sosial. Salah satunya adalah cerita tentang seorang tunanetra, Trian Erlangga, yang hendak membuka rekening namun tidak dapat pelayanan dari bank dikarenakan disabilitasnya.

    Dari cerita tersebut dijelaskan bahwa dalam mendorong perubahan melalui petisi, setidaknya terdapat empat hal penting yang harus diidentifikasi, yakni: (1) gejala yang tampak di masyarakat; (2) bagaimana pola dan trend terkait gejala tersebut; (3) struktur penyebab; dan (4) paradigma yang muncul terkait isu tersebut. Setelah melakukan pemetaan ini, selanjutnya peserta diperkuat pemahamannya untuk dapat memberikan tuntutan spesifik kepada pihak yang tepat sasaran, sehingga kampanye yang dilakukan melalui petisi bisa menjadi efektif beserta penjelasan bahwa semakin konkrit tuntutan maka semakin baik dampak yang dihasilkan.

    Beberapa faktor penting dalam keberhasilan petisi adalah memanfaatkan tokoh penentu, pemetaan aktor (stakeholder mapping) dan pemanfaatan momentum melalui perayaan hari-hari tertentu, atau bersamaan dengan terjadinya sebuah kasus tertentu. Dari pengalaman Change.org memanfaatkan momentum, hal ini terbukti dapat memberikan selisih suara/tanda tangan yang cukup besar, hingga mencapai ribuan tanda tangan. Disampaikan pula bahwa tidak perlu sempurna dalam membangun narasi dan tujuan. Tetapi ketika ada momentum, maka disarankan untuk segera membuat dan menyebarkan petisi. Narasi cerita dan tujuan bisa selalu direvisi seiring berjalannya waktu.

    Selain pemaparan materi, peserta juga diberi kesempatan untuk melakukan simulasi lewat studi kasus terkait isu kampanye yang sedang dilakukannya. Para peserta sangat antusias terhadap materi pelatihan ini dengan sesi tanya jawab yang berlangsung dengan sangat interaktif.

  • MEDITASI UNTUK KESEHATAN, MENGUKUR KEBIJAKSANAAN DAN MENYEMBUHKAN ORANG LAIN

    Yayasan Penabulu menyelenggarakan pelatihan “Meditasi untuk Kesehatan”. Penyelenggaraan pelatihan ini bekerjasama dengan Bali Usada, didukung oleh The David and Lucile Packard Foundation (Packard) dalam program Organizational Effectiveness. Pelatihan ini termasuk dalam tema Selfcare yang bertujuan untuk penguatan anggota organisasi mitra Packard di Indonesia menghadapi situasi pandemi yang memberikan banyak batas, tidak pasti dan penuh tekanan; agar kesehatan fisik dan pikiran para anggota organisasi tetap terjaga sehingga tetap memberikan performa optimal.

    Keseluruhan rangkaian pelatihan “Meditasi untuk Kesehatan” akan diselenggarakan sebanyak delapan pertemuan, rutin setiap hari Sabtu, selama dua jam, dari jam 10 sampai jam 12 pagi. Pelatihan akan berisi ceramah dari Pak Merta Ada—guru utama dan pendiri Bali Usada. Kemudian dilanjutkan dengan latihan meditasi bersama instruktur senior dari Bali Usada. Instruktur pada pelatihan ini adalah Martinus Christianto dan Maria Josephine. Sesi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta juga dapat mengakses materi secara tertulis dan audio dan konsultasi melalui grup whatsapp bersama para instruktur.

    Pertemuan terakhir ini diisi dengan ceramah “Mengukur Kebijaksanaan dan Menyembuhkan Orang Lain” serta latihan meditasi “Merasakan Badan Lebih Detail”. Terdapat 13 peserta yang hadir. Peserta aktif menyalakan video dalam berlatih meditasi, sehingga meski latihan meditasi berjalan secara daring, namun kebersamaan tetap tercipta.

    Sesi ceramah penutup dari keseluruhan rangkaian kegiatan bersama Bali Usada digunakan pelatih untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai “kebijaksanaan” dan tiga tingkatannya, yaitu:

    PertamaSuta maya paññā—yaitu kebijaksanaan yang diperoleh dari membaca buku, mendengar dari orang lain, mendapat pendidikan dari orang lain, mendengarkan ceramah, dsb. KeduaCintā maya paññā—yaitu kebijaksanaan yang diperoleh berdasarkan hasil perenungan. KetigaBhāvanā maya paññā—yaitu kebijaksanaan yang diperoleh dari pengalaman langsung.

    Pelatih juga mengingatkan para peserta bahwa (1) hidup adalah sebuah proses yang berkelanjutan; (2) kehidupan bukan lah sesuatu yang dapat dikontrol/dikendalikan oleh manusia; dan (3) jangan bimbang, ragu, maupun goyah dalam menghadapi kehidupan. Untuk itu, lewat berlatih meditasi secara rutin, peserta dapat melatih Pikiran Harmonis, baik di napas maupun di badan, sehingga pikiran makin kuat dan makin fleksibel. Jika kita memiliki Pikiran Harmonis, apa pun yang kita lakukan, kehidupan kita akan lebih baik.

    Dalam sesi latihan meditasi terakhir ini, pelatih mengajak peserta untuk merasakan badan lebih detail. Dengan menajamkan fokus pikiran kepada bagian badan tertentu yang ingin dirasakan, proses penyembuhan dan pelepasan energi buruk akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, latihan ini juga akan memberikan energi baik yang lebih kuat pada badan.

    “Semoga semua hidup berbahagia”.

  • Training Hacking and Managing Commitment: Utilize Scientific Factor for Team\’s Commitment bersama I\’m on My Way

    \"\"

    Pada 31 Maret 2021, Lingkar Madani bersama I’m on My Way melakukan pelatihan dengan tema Kepemimpinan dan Kemandirian. Pada seri pertama ini, mengambil topik Hacking and Managing Commitment: Utilize Scientific Factor for Team\’s Commitment yang dibawakan oleh Ali Zainal Abidin selaku trainer atau coach. Kegiatan selama 4 Jam ini diikuti oleh 7 orang peserta (4 Laki – laki dan 3 Perempuan ) dari 7 organisasi mitra Packard.

    Kegiatan dibuka oleh Intan Suhartini selaku Event Officer Lingkar Madani, dan dilanjutkan dengan pengantar oleh Elvita selaku perwakilan dari Divisi kurikulum.

    Ali, mengawali training dengan meminta peserta menuliskan lokasi lewat fitur chatbox, serta menjelaskan alur kegiatan. Dalam prosesnya, Ali memberikan kesempatan kepada peserta untuk langsung memberikan pertanyaan seputar materi. Pada materi ini Ia menjelaskan dengan detail agar peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang masing-masing faktor ilmiah yang mempengaruhi tingkat komitmen seseorang.

  • Webinar \”Health Care\”

    Jakarta, 12 Maret 2021, Lingkar Madani bekerjasama dengan Bali Usada menggelar serangkaian kelas dengan topik Selfcare.
    Bali Usada adalah sebuah pusat pelatihan meditasi kesehatan yang mengajarkan teknik meditasi kesehatan yang unik dan integratif agar dapat menjadi lebih sehat, tenang, dan bahagia. Bali Usada didirikan oleh Bapak Merta Ada selaku pendiri dan juga Guru Utama meditasi.
    Kelas meditasi diawali dengan Webinar “perkenalan untuk perawatan kesehatan” yang berlangsung selama 120 menit dan di hadiri oleh 62 peserta.

    Kegiatan ini dibuka oleh Nago Tejena selaku moderator, Nago mempersilahkan James Mc Caul dari OE The David and Lucille Packard Foundation, untuk sedikit memberikan kata sambutan sebelum di mulainya webinar “Perkenalan Untuk Perawatan Kesehatan” sebelum akhirnya memperkenalkan Bapak Merta Ada selaku Narasumber.

    Sesi pertama kegiatan, Bapak Merta Ada memberikan ceramah bagaimana teknik meditasi yang mana dalam meditasi ini kita menggerakkan dan melatih pikiran kita secara sadar agar bisa kita lebih bahagia. Tujuan dari meditasi adalah untuk menguatkan konsentrasi dan kesadaran.

    Sesi kedua adalah sesi pertanyaan, peserta di minta untuk menuliskan pertanyaan lewat fitur chat ataupun raisehand. Beberapa pertanyaan yang menarik di bacakan oleh Nago dan di jawab langsung oleh Bapak Merta Ada.

    Bapak Merta Ada, mengajak latihan bermeditasi di sesi ketiga, sebelumnya ia mengingatkan kembali bahwa meditasi ini adalah sebuah skill dan harus dilatih lebih sering. Pada saat meditasi, rilex adalah point penting dan juga berdoa menurut kepercayaan masing – masing.
    Sesi pertanyaan dibuka kembali setelah latihan meditasi. Diakhir acara, Bapak Merta Ada menyampaikan, agar melakukan pola hidup sehat saat melakukan meditasi.

  • Seri Pelatihan Resiliensi Finansial \”Strategi Finansial\”

    \"\"

    Menutup seri pelatihan Resiliensi Finansial bagi OMS, pada 15 s/d 19 Februari 2021, program Lingkar Madani menyelenggarakan pelatihan daring dengan tajuk “Strategi Finansial” melalui Learning Management System Lingkar Madani. Mengusung pendekatan belajar mandiri individu berbasis pendekatan teknologi. Para pengguna LMS Lingkar Madani telah mengakses materi pelatihan yang disampaikan oleh trainer dalam bentuk audio visual. Tak hanya itu, para pengguna juga dapat berinteraksi dengan para trainer melalui forum diskusi yang ada di dalam platform.

    Pertemuan daring yang diselenggarakan pada 19 Februari 2021 merupakan puncak dari pelatihan Strategi Finansial ini. Sebanyak 28 orang peserta representasi dari 15 OMS mitra David and Lucile Packard Foundation Indonesia, dipandu dengan trainer, Mario Ginting dan Subhan -yang lebih familiar dipanggil Bajay- mengulas habis, mengisi, dan melakukan analisa kesehatan finansial organiasi dengan menggunakan indikator-indikator yang ada di dashboard kesehatan finansial organisasi.

    Meski terkesan sangat teknis keuangan, dashboard kesehatan finansial organisasi merupakan alat bantu bagi OMS untuk pengambilan keputusan strategis yang akan mendukung penetapan strategi keberlanjutan finansial bagi organisasi selanjutnya. Para peserta pelatihan nampaknya juga mengamini hal ini, terbukti dengan antusiasme mereka pada saat mengikuti setiap proses pertemuan daring selama lebih dari 3 jam, dan umpan balik yang positif bagi kami sebagai penyelenggara. (TY)

  • Webinar \”Digital Fundraising\”

    Jakarta 09 Februari 2021, Program Lingkar Madani kembali menghelat webinar dengan tema “Strategi Penggalangan Dana Secara Digital bagi Organisasi Masyarakat Sipil”. Menghadirkan Sri Indiyastutik (Fundraising Director YAPIIKA-ActionAid) dan Linda Sukandar (Fundraising Direc-tor Plan International Indonesia) sebagai narasumber, kegiatan yang dimoderatori oleh Herman Simanjuntak (Resource Mobisation Specialist, TFCA Kalimantan), kegiatan selama 120 menit ini dihadiri oleh tak kurang dari 42 representasi dari OMS di Indonesia.

    Di sesi pertama, mbak Tutik – demikian Sri Indiyastutik biasa disapa- menjelaskan tentang bagaimana kanal digital menjadi bagian dari upaya fundraising yang dilakukan oleh YAPPIKA saat ini. Meski Indo-nesia menempati urutan ke-10 negara dengan tingkat kedermawanan tertinggi, khususnya yang berkaitan dengan isu keagamaan. Faktanya, OMS yang bukan berbasis keagamaan masih memiliki tantangan menembus “kedermawanan” masyarakat Indonesia, untuk pula peduli pada isu-isu sosial lainnya. Bebera-pa petikan pembelajaran menarik bagaimana menggalang dana ala YAPPIKA juga disampaikan mbak Tutik di sesi ini, seperti pentingnya riset untuk menetapkan target sasaran dan menyusun strategi pengga-langan dana, termasuk melibatkan melibatkan artis atau influencer untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

    Pada sesi kedua, Linda Sukandar menyampaikan pengalaman Plan Internasional Indonesia melakukan melakukan penggalangan dana dalam situasi pandemi. “Be A Hero”, sebuah kampanye dengan fokus pada perlindungan anak dan paramedis dari pandemi COVID-19 merupakan upaya Plan Internasional Indonesia melakukan penggalangan dana secara digital, ketika tehnik face to face tidak lagi mungkin dil-akukan di masa pandemi saat ini. Terus mengikuti tren yang terjadi merupakan salah satu tips yang disampaikan oleh mbak Linda dalam melakukan penggalangan dana, pada saat yang sama, melengkapi mbak Tutik, dia juga optimis, bahwasanya kanal digital memiliki potensi yang besar bagi OMS di Indone-sia untuk menggalang dana dari masyarakat secara luas.

    Webinar kali ini ditutup dengan rangkuman keseluruhan proses yang dikemas secara apik bang Herman dalam “7 Cara Ampuh dalam Melakukan Digital Fundraising” yakni; (1) Mengetahui siapa yang akan kita libatkan, mengetahui isu yang akan dikampanyekan, (2) Bagaimana bekerjasama antar tim, (3) Melibatkan media untuk publikasi, (4) Melibatkan atau endorse dari pemerintah, (5) Melibatkan publik figur dan relawan, (6) Kesiapan lembaga (kanal informasi, tim digital fundraising, budget), (7) Transparan dalam pelaporan. (KSF)

  • Seri Pelatihan Resiliensi Finansial \”Lanskap Pendanan dan Diversifikasi Pendanaan”

    \"\"

    Pelatihan ini merupakan rangkaian dari Program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang di inisiasi oleh Yayasan Penabulu dan Packard Foundation yang merupakan Seri dari Pelatihan Resiliensi Finansial.
    Pelatihan yang berdurasi 120 menit di moderatori oleh M. Suhud Ridwan yang meghadirkan 2 narasumber ahli yaitu; Paul Mario Ginting dan Subhan dari Yayasan Penabulu. Pelatihan ini membahas 2 hal ;

    1. Lanskap Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil, dan
    2. Diversifikasi Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil

    2 materi ini hanya sebagai pengantar untuk menuju seri pelatihan selanjutnya yaitu Strategi Finance Menghadapi Covid 19.
    Dari paparan kedua narasumber, ada beberapa point penting yang kami catat ;

    1. Organisasi Masyarakat Sipil mengalami perubahan dalam konteks pendanaan yang awalnya pendanaan organisasi hanya bersumber dari lembaga donor saja, saat ini banyak juga organisasi yang mulai mengembangkan peluang pendanaan organisasinya melalui bisnis sosial dengan membangun koperasi, menjadi lembaga sertifikasi dan lain-lainnya.
    2. Untuk mengembangkan keragaman pendanaan organisasi, sebaiknya sebuah organisasi melakukan;
      1. Identifikasi pendana potensial di luar lembaga donor
      2. Bagaimana menjangkau pendana potensial ini
      3. Bagaimana mempertahankan pendana ini agar terus mendanai organisasi, dan
      4. Bagaimana mengoptimalkan dana tersebut untuk keberlanjutan organisasi
    3. Sebuah organisasi harus mengecek kesehatan keuangan organisasinya minimal dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh ketergantungan sebuah organisasi anda terhadap donor serta dengan dana cadangan yang ada berapa lama organisasi ini bisa bertahan.

    Pelatihan ini diikuti oleh 9 organisasi mitra Packard diantaranya; AMAN, Barunastra, Fitra Riau, Coaction Indonesia, YP3SP, Traction Energy Asia, LTKL, PPMA dan IOJI. Walaupun yang hadir hanya 9 Organisasi dari 34 organisasi Mitra Packard, pelatihan ini cukup memberi wawasan kepada peserta pelatihan tentang pentingnya sebuah organisasi untuk berkembang dan beradaptasi dengan kondisi pendanaan yang ada.  Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan spesifik yang dilontarkan para peserta kepada kedua narasumber.