Category: Liputan Kegiatan

  • ASPEK PAJAK DAN UPDATE PPH PASAL 21 BEDASARKAN PMK 168/2023

    Kenali Aspek Pajak dan Perkembangan PPh 21 berdasarkan PMK 168/2023

    Pelatihan pengantar Seri Keuangan Nirlaba

    Lingkar Madani kembali meluncurkan serial Pelatihan Keuangan Nirlaba bagi organisasi masyarakat sipil (OMS) mitra Packard. Serial ini dimulai dengan pelaksanaan pelatihan pengantar dengan topik \”Aspek Pajak Update PPh Pasal 21 berdasarkan PMK 168/2023\”. Sesi ini menghadirkan menghadirkan Dewi Ernawati, SE., M. AK., BKP, CTT sebagai pelatih yang memaparkan perkembangan terbaru PPh 21 sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 168 yang telah ditetapkan dan mulai berlaku sejak tahun 2023.

    Pelatihan yang bersifat entry level ini dihadiri oleh 23 orang perwakilan OMS mitra Packard peserta program Lingkar Madani, dan diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pada 27 Maret 2024. Dewi Ernawati, SE., M. AK., BKP, CTT., kerap dipanggil dengan Mbak Dewi, memulai kelas dengan penjabaran dasar-dasar hukum yang berlaku di Indonesia dan berkaitan perpajakan. “Pajak” pasti harus berdasarkan dengan dasar hukum dan bahasanya menggunakan bahasa Undang-undang, jika teman2 ingin belajar pajak dasarnya dari Undang-undang , ujar mbak Dewi.

    Dasar-dasar hukum tersebut diantaranya adalah UU no. 28 tahun 2004 tentang perubahan atas undang-undang nomor 16 tahun 2001 tentang yayasan, UU no. 36 tahun 2008 tentang perubahan keempat atas UU no. 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan, UU no. 1 tahun 2020 tentang cipta kerja, UU no. 7 tahun 2021 tentang harmonisasi peraturan perpajakan, PMK 168/PJ/2023 tentang petunjuk pelaksanaan pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan orang pribadi yang berlaku sejak 1 Januari 2024, dan PER-02/PJ/2024 tentang bentuk dan tata cara pembuatan bukti pemotongan pajak penghasilan pasal 21 dan/atau pajak penghasilan pasal 26 serta bentuk, isi,dan tata cara pengisian dan tata cara penyampaian surat pemberitahuan masa pajak penghasilan pasal 21 dan atau pajak penghasilan pasal 26. Peraturan lainnya yang mengikat perpajakan diantaranya:

    • PMK-101/PMK.010/2016 (berlaku sejak 27 Juni 2016) tentang penyesuaian besarnya PTKP

    • • PMK- 18/PMK.03/2021 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja Di Bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Serta Ketentuan Umum Dan Tata Cara

    • • PMK- 141/PMK.03/2015 tentang Jenis Jasa Lain

    • • PP- 9 Tahun 2022 [berlaku 21 Februari 2022] tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi • PMK- 61/PMK.03/2022 tentang PPN Kegiatan Membangun Sendiri

    Dewi menjelaskan bahwa karakteristik organisasi nirlaba ialah sumber daya yang berasal dari donatur atau penyumbang, tanpa memperoleh manfaat ekonomi sebanding atau tanpa pengembalian, menghasilkan jasa maupun barang tanam dengan tujuan untuk memupuk keuntungan dan apabila menghasilkan maka laba tidak pernah dibagikan dan yang terakhir tidak adanya kepemilikan aset sedangkan apabila terdapat kepemilikan, maka tidak bisa dijual/ dialihkan maupun ditebus kembali dan hal tersebut tidak mencerminkan proporsi sumber daya.

    Dalam PPh 21, objek-objek yang dikenakan pajak adalah karyawan/ pegawai tetap, tenaga lepas/ pegawai tidak tetap, honor pengurus, peserta kegiatan dan bukan pegawai. Dewi melanjutkan paparan detail dari setiap aspek-aspek tersebut disertai dengan beberapa contoh kasus yang umumnya dialami dalam perhitungan PPh 21. Sebagai tambahan, Dewi juga menjelaskan perbedaan antara PPh pasal 21 dan pasa 23. “Ada beberapa objek pajak penghasilan pasal 21 dan pasal 23 yang sering terbolak-balik pengenaan pajaknya,” seru Dewi,”Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek royalti, sewa, jasa, bunga dan hadiah yang kemudian disesuaikan dengan penerima penghasilannya; badan atau orang pribadi.

    Dalam sesi pelatihan pengantar ini, Dewi mengajak peserta untuk diskusi pengalaman yang berkaitan dengan perpajakan, bagaimana cara menghitung pajak dan menjelaskan terkait alur kewajiban perpajakan.

    Sesi pengantar ini akan dilanjutkan dengan pelatihan cohort yang akan diselenggarakan di bulan Mei dan Juni 2024 dengan sejumlah topik berkenaan keuangan nirlaba bagi organisasi masyarakat sipil.

  • Pelatihan LANGKAH-LANGKAH AKUNTABILITAS DALAM PENGELOLAAN PROGRAM

    Pelatihan \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\” kembali dilanjutkan pada Selasa, 30 April 2024, sesi kelima atau sesi terakhir dengan topik \”Langkah-langkah Akuntabilitas dalam Pengelolaan Program?\”. Masih dengan narasumber yang sama yaitu Sugiarto Arif Santoso (Direktur CSRO, Yayasan Penabulu) atau kerap disapa dengan mas Sugi, kali ini dihadiri 23 orang perwakilan OMS mitra Packard peserta program Lingkar Madani. Pelatihan intensif yang dilaksanakan secara online ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) jam dengan metode paparan dan diskusi interaktif 

    Kenapa kita perlu melakukan pengelolaan program secara baik? Akuntabilitas yang dimaksud perlu mempertanggung jawabkan atau melaukan akuntabilitas kepada publik, kemudian akuntabilitas pemberi mandat kita ’konstituen’ atau benefit series bisa menjadi salah satu sasaran akuntabilitas kita, lalu ada akuntabilitas kepada kontributor program kita bisa disebut juga donor atau baik individu bisa juga lembaga. Ujar Mas Sugi

    Pada sesi terakhir ini mas Sugi mengajak kita semua untuk diskusi bareng terkait langkah-langkah akuntabilitas dalam pengelolaan program, Kira-kira apa sih manfaat akuntabilitas dalam pengelolaan program ? Dari paparan mas Sugi, manfaat akuntabilitas dalam pengelolaan program yaitu, meningkatkan ‘sense of belonging’ atau bisa disebut ‘rasa ingin memiliki’ dan menjadi bagian dari sebuah organisasi. Membangun ‘legitimasi sosial’, legitimasi sosial hanya bisa diraih bila terjadi hubungan kesalingtergantungan yang kokoh antara organisasi dengan konstituennya atau dari yang diharapkan bisa menerima manfaat dari keberadaannya. 

    Materi mas Sugi dari sesi 1 sampai sesi 5 dibuat dekat dengan praktek sehari-hari dari organisasi, agar kita bisa diskusi lebih lanjut, ada ruang refleksi bersama dan ada perbaikan bagi organisasi dari sisi akuntabilitas ini. Ujar mas Sugi

  • APAKAH OMS PERLU MEMBANGUN VISIBILITAS ORGANISASI?

    Pelatihan peningkatan kapasitas keorganisasian dengan tema yang sama \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\” kembali dilanjutkan pada Kamis, 14 Maret 2024, sesi ketiga dengan topik \”Apakah OMS Perlu Membangun Visibilitas Organisasi?\”. Masih bersama Sugiarto Arif Santoso (Direktur CSRO, Yayasan Penabulu) atau kerap disapa dengan mas Sugi, sebagai pelatih, kali ini dihadiri 19 orang perwakilan OMS mitra Packard peserta program Lingkar Madani. Pelatihan intensif yang dilaksanakan secara online ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) jam dengan metode paparan dan diskusi interaktif melalui platform slido.

    Perlu gak sih membangun visibilitas di organisasi? Sebelum mengetahui itu, kita bahas tujuan membangun visibilitas organisasi, yaitu adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana sih strategi praktis untuk meningkatkan visibilitas organisasi.\” ujar mas Sugi memulai pemaparan materinya.

    Di lanjut lagi oleh mas Sugi, “apa itu visibilitas dalam konteks organisasi”, yaitu seberapa jauh dan seberapa sering organisasi di kenal dan diakui oleh masyarakat baik secara lokal maupun global, secara sederhana visibilitas itu suatu yang umum, visibel, dilihat dan dikenal, namun dalam organisasi visibilatas itu tidak hanya di kenal saja, tetapi kita bisa di akui sekitar organisasi berada, baik secara nasional maupun global.

    Mas Sugi menjelaskan “Pentingnya visibilitas dalam membangun akuntabilitas?”,

    Visibilitas yang kuat membantu meningkatkan transparansi organisasi dan membangun kepercayaan serta tanggung jawab kepada pemangku kepentingan, organisasi yang transparan dan akuntabel cenderung memiliki visibilitas yang lebih baik dan mendapatkan dukungan yang lebih besar dari masyarakat.

    Melalui Slido, mas Sugi mengajak peserta untuk berdiskusi lebih dalam mengenai pengalaman para peserta terkait “Seberapa penting membuat perencanaan visibilitas dalam lembaga. Peserta menjawab lebih banyak “penting sekali” namun ada beberapa perserta yang menjawab penting namun organisasinya tidak memiliki visibilitas.

     

  • KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK BAGI AKUNTABILITAS ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL

    Pelatihan peningkatan kapasitas keorganisasian dengan tema yang sama \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\” kembali dilanjutkan pada Kamis, 28 Maret 2024, sesi ketiga dengan topik \”Mengapa OMS Terikat dengan Keterbukaan Informasi Publik?\”. Masih bersama Sugiarto Arif Santoso (Direktur CSRO, Yayasan Penabulu) atau kerap disapa dengan mas Sugi, sebagai pelatih, kali ini dihadiri 15 orang perwakilan OMS mitra Packard peserta program Lingkar Madani. Pelatihan intensif yang dilaksanakan secara online ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) jam dengan metode paparan dan diskusi interaktif melalui platform slido.

    Apa sih kaitannya akuntabilitas dengan organisasi publik? “Karena keterbukaan informasi publik adalah salah satu faktor atau variabel yang bisa diukur dalam menentukan akuntabel organisasi masyarakat sipil,” Ujar mas Sugi membuka paparannya.

    Keterbukaan informasi publik didasarkan ada Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang diturunkan dalam Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2010 tentang Pelaksanaan UU No. 14 tahun 2008. Peraturan lain yang mengatur KIP adalah Peraturan Komisi Informasi No. 1 tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi (Perki SLIP), dan Peraturan Komisi Informasi No. 2 tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa informasi Publik (Perki PPSIP).

    Informasi Publik berdasarkan UU KIP adalah Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. Informasi tersebut juga diklasifikasikan keterbukaannya secara berkala, serta merta dan tersedia setiap saat. Walaupun demikian, juga terdapat informasi yang dikecualikan untuk diberikan kepada publik atau pihak ketiga.

    Organisasi masyarakat sipil sebagai badan publik diwajibkan untuk mematuhi mekanisme keterbukaan publik ini. “Ini adalah salah satu aspek yang menunjukkan kredibilitas, transparansi dan akuntabilitas organisasi kita”, ujar mas Sugi dalam paparannya.

    Dalam sesi ini, mas Sugi mengajak peserta untuk berdiskusi dalam kelompok perihal klasifikasi keterbukaan informasi publik. Antusiasme peserta terlihat dalam diskusi kelompok, presentasi dan diskusi terkait pengalaman para peserta terkait keterbukaan informasi dan kendala yang mereka hadapi saat mengajukan informasi pada lembaga-lembaga tertentu.

  • KENALI DIMENSI AKUNTABILITAS OMS SEBAGAI PRAKTIK AKUNTABILITAS DALAM ORGANISASI

    Pelatihan peningkatan kapasitas keorganisasian dengan tema \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\” kembali dilanjutkan pada Kamis, 6 Maret 2024, sesi kedua dengan topik \”Bagaimana Mempraktikkan Akuntabilitas Organisasi Masyarakat Sipil?\”. Masih bersama Sugiarto Arif Santoso (Direktur CSRO, Yayasan Penabulu) atau kerap disapa dengan mas Sugi, sebagai pelatih, di mana dihadiri 22 orang perwakilan OMS mitra Packard peserta program Lingkar Madani. Pelatihan intensif yang dilaksanakan secara online ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) jam dengan metode paparan dan diskusi interaktif melalui platform slido.

    \”Sebelum mengetahui cara praktik akuntabilitas terhadap OMS, kita perlu tahu dulu bagaimana situasi organisasi masyarakt sipil. Akuntabilitas organisasi ditunjukkan sejauh mana organisasi dapat mematuhi kebijakan eksternal yang mengatur dirinya dan nilai-nilai universal kemanusiaan, dan dapat mempromosikannya kepada pihak-pihak lainnya.\” ujar mas Sugi memulai pemaparan materinya.

    Ditengah paparan, mas Sugi mengajak para peserta untuk berdiskusi secara interantif melalui platform Slido. Salah satu pertanyaan yang diajukan lewat aplikasi tersebut adalah \”Apa tantangan organisasi untuk bisa menjadi organisasi yang akuntabel?\”. Peserta memberikan sejumlah jawaban di mana mengerucu pada organisasi harus memiliki keterbukaan, baik informasi, pengelolaan keuangan dan terkait pengelolaan sumber daya manusia, sehingga tidak ada yang hal yang perlu ditutupi dan transparansi organisasi bisa terjaga dengan baik.

    Melanjutkan diskusi asik tersebut, mas Sugi menambahkan beberapa hal yang perlu diingat terkait praktik akuntabilitas bagi OMS, yakni Akuntabilitas keuangan  yang mempertanggung-jawabkan penggunaansumber daya (dana) yang diperoleh dan dipercayakan kepadanya; akuntabilitas kinerja yang mendokumentasikandan melaporkan hasil-hasil yang diperoleh dan dibandingkan dengan standar-standarkualitas, sasaran, tujuan serta harapan-harapan yang ingin dicapai; akuntabilitas ucapan di mana kejujuran dan ketelitian mengenai apa yang disuarakan serta mempunyai otoritas untuk menyuarakannya; dan akuntabilitas untuk meningkatkan diri, yakni tanggap terhadap umpan-balik, melakukanevaluasi/assessment dan melaporkantindakan-tindakan yang diambil.

    Diakhir sesi kedua ini, mas Sugi memberikan penekanan bahwa partisipasi bermakna penting dalam akuntabilitas tata kelola organisasi. Melalui sebuah \”tangga partisipasi\” OMS terbantu untuk memahami bentuk-bentuk partisipasi dan keterlibatan seseorang dalam peningkatan akuntabilitas organisasi, mulai dari sebuah manipulasi yang dimaknai tidak berpartisipasi, hanya simbolisasi atau superfisial hingga pada partisipasi yang bermakna.

  • APA DAN MENGAPA AKUNTABILITAS TATA KELOLA BAGI ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL

    Mengawali tahun 2024, Lingkar Madani kembali meluncurkan pelatihan intensif terkait kapasitas keorganisasian dengan tema \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\”. Pelatihan ini akan diselenggarakan dalam 5 (lima) sesi, dengan menghadirkan pelatih Sugiarto Arif Santoso, Direktur CSRO Yayasan Penabulu.

    Pelatihan sesi 1 dilaksanakan pada Kamis, 28 Februari 2024 dengan topik \”Apa dan Mengapa Akuntabilitas Tata Kelola bagi Organisasi Masyarakat Sipil\”. Dihadiri oleh 21 orang perwakilan OMS Mitra Packard peserta program Lingkar Madani, Sugiarto Arif Santoso, kerap dipanggil dengan mas Sugi, mengupas dasar-dasar pentingnya akuntabilitas tata kelola bagi OMS.

    \”Akuntabilitas adalah suatu proses dimana suatu organisasi menganggap dirinya bertanggung jawab secara terbuka mengenai apa yang diyakininya, apa yang dilakukan, dan yang tidak dilakukannya, namun adapun tantangan yang dapat mendorong akuntabilitas yaitu kurangnya pengetahuan tentang tata kelola yang akuntabel, persepsi biaya yang mahal, Memakan waktu lama,\” ujar mas Sugi. Disamping itu, mas Sugi juga menjelaskan keberadaan akuntabilitas bagi OMS baik secara vertikal maupun horizontal.

    Lebih lanjut, mas Sugi memaparkan ragam tingkatan Akuntabilitas yakni secara personal, hubungan antar individu, kelompok, organisasi dan stakeholder. Kapasitas dengan tingkatan organisasi mencakup kinerja sebuah organisasi yang dilaksanakan atas dasar kerjasama kelompok dalam sebuah organisasi. Peran kelompok-kelompok ini, yang biasanya disebut divisi atau unit, menjadi penting dalam mencapai kinerja/ tujuan organisasi yang diharapkan.

    Melalui Slido, mas Sugi mengajak peserta untuk berdiskusi lebih dalam mengenai pengalaman dan situasi yang dialami oleh para peserta terkait akuntabilitas dan kinerja organisasi masing-masing. Salah satu yang muncul adalah pendapat peserta terkait minimnya sumber pendanaan yang mengakibatkan lemahnya upaya organisasi dalam meningkatkan tata kelola organisasinya. Hal menarik lainya dalam diskusi slido dan tanya jawab ini adalah besarnya perhatian peserta terkait peningkatan akuntabilitas tata kelola organisasi, di mana dari 3 pilihan; tata kelola, pendanaan, dan lainnya, 69% peserta memilih upaya peningkatan tata kelola organisasi.

    Di akhir sesi, mas Sugi memaparkan 6 manfaat menjalankan akuntabilitas bagi organisasi masyarakat sipil, yakni: (1) Memiliki sistem organisasi yang efektif, (2) Memiliki jaringan yang luas, (3) Mendapatkan pendanaan (domestik/ internasional), (4) Memperoleh kepercayaan dari stakeholder/ publik, (5) Memiliki posisi tawar, dan (6) Berkelanjutan.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 5-6 “MENGENAL DAN MERANCANG INFOGRAFIS DENGAN CANVA ATAU PIKTOCHART”

    Jika pelatihan kemarin, kita mempelajari aneka infografis, kali ini, Moerat Sitompul (Kepala Tempo Media Lab), pengajar serial pelatihan laporan efektif #5, memberikan gambaran infografis. Selain harus mengetahui jenis yang pas dengan cerita, infografis itu tidak harus kaku, tapi mesti leluasa.

    Entah berapa contoh infografis yang ditampilkan Moerat pada awal pelatihan. Grafik batang, garis, dan kue—paling sering digunakan desainer—masih ada balon, peta, diagram, dan hirarki, alur, simbol, serta pohon, kutipan, dan matriks. Satu desain infografis, bisa menggunakan grafik peta, kutipan, dan simbol, misalkan, bahkan dapat ditambahkan gambar atau foto orang yang terkait konten. Permainan warna pun penting, tidak hanya untuk menonjolkan melainkan memberikan perbedaan dari data yang telah dikelola.

    Berdasarkan pengalamannya bekerja selama 22 tahun di Tempo, hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang desainer adalah memahami persoalan dan data yang akan diangkat pada infografis. Jika tidak, itu akan buang energi.

    Kemudian, ia membagikan tautan tentang tips dan trik membuat infografis, satu di antaranya yakni: infografis harus bercerita tentang sesuatu; sumber terpercaya; periksa silang akurasinya; pilih visualisasi yang tepat; berikan label; dan ringkas. Lebih jelasnya, bisa klik tautan ini www.bit.ly/PictoTempo

    Bagian kedua pelatihan, siang hari, sesi dilanjutkan dengan latihan menggunakan canva. Bagi kita yang bukan berprofesi sebagai desainer, aplikasi Canva ini sangat bermanfaat. Istilahnya, dari yang tidak bisa desain, jadi bisa. Melalui breakout room di Zoom Meeting, peserta saling bekerja sama dalam merancang infografis.

    Keesokan harinya, evaluasi hasil kerja seperti yang dilakukan pada materi sebelumnya, pengajar memberikan ulasan dan saran. Ternyata, infografis peserta nggak kalah keren loh dengan buatan desainer. Penasaran dengan materi ini? Silakan saksikan videonya. Terima kasih Tempo Institute, terima kasih Moerat Sitompul dan peserta. Semoga materi yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi organisasi kita.

  • WORKSHOP #3 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “MENGUKUR DAMPAK DAN EFEKTIVITAS KAMPANYE SOSIAL DIGITAL”

    Tidak sedikit kampanye sosial yang tersebar di media sosial, baik yang berhasil maupun yang tidak. Sebelum menjalankan kampanye, kita mesti tahu metode untuk mengukur dampak positif bahkan negatifnya. Pertanyaannya, mengapa hal ini penting?

    Nah, topik tersebut diangkat oleh Emilia Tiurma Savira, Impact Measurement Enthusiast dari Indika Foundation dan Siti Fatimah Ayuningdyah, Sponsorship Outreach Manager Campaign.com, saat  Workshop #3 Revolusi Digital Kampanye Sosial, Jumat, 1 April 2022.

    Emilia bilang, “Jumlah follower yang banyak atau penggunaan tools yang canggih, belum tentu menentukan keberhasilan kampanye sosial.”

    “media sosial hanya salah satu cara saja, tidak semua hasil dilihat dari hape,” sambungnya.

    Hal pertama yang penting dilakukan adalah menentukan apa (what), siapa (who), dan mengapa (why), baru bagaimana (how). Misalkan, kampanye apa yang akan dilakukan; siapa targetnya; dan mengapa kampanye tersebut penting untuk mereka, bukan organisasi. Metode ini sama dengan yang digunakan untuk pembuatan konten. Dan kita harus yakin—biasanya yang masih bingung dengan “how”, berarti masih belum jelas what, who, dan why-nya.

    Lantas, apa kaitan antara kampanye dan monitoring serta evaluasi? Menurut Emilia, pembicara pelatihan kali ini, monitoring dapat mengukur target atau tujuan, mendapatkan respon positif atau negatif, kampanye harus dilanjutkan atau tidak. Evaluasi sendiri tujuannya untuk melihat apakah kampanye tersebut membawa perubahan, entah itu dari segi perilaku maupun kebijakan, tergantung dari tujuan kampanye.

    Seperti target jumlah orang yang tanda tangan  dan besaran dukungan yang diharapkan, bisa diukur melalui alat ukur yang digunakan di website organisasi. Berapa kali yang melihat, satu orang bisa berapa  kali melihat. Kalau sudah beberapa kali, berarti  orang tersebut tertarik.

    Monitoring media sosial bisa dilihat dari reach, impression, dan engagement, juga conversion to click dan conversation. Percakapan perlu monitor. Lantas, apa yang dievaluasi? Dibagi beberapa hal, yakni: return visit; sign up; upload foto; jumlah yang berdomasi;  dan active promoter.

    Sedangkan, monitoring non-medsos, misal: dukungan stakeholders kunci, bisa juga pelaku, dan page views.

    Sesi selanjutnya, Siti Fatimah Ayuningdyah, fasilitator workshop, menekankan pentingnya hasil monitoring dan evaluasi untuk investor atau pihak sponsor, apakah hasil kampanye memberikan dampak positif atau tidak. Jika mereka puas, tidak menutup kemungkinan, mereka akan kembali membantu program kampanye kita.

    Masih banyak lagi, pengetahuan dan strategi berkampanye sosial di digital yang dibagikan narasumber. Padat tapi mudah dipahami. Terima kasih Campaign.com, sampai jumpa di lain waktu.

  • KOMUNIKASI KERJA TIM DI MASA PANDEMI

    Pada hari Senin, tanggal 16 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lingkar Madani bertema “Komunikasi Kerja Tim di Masa Pandemi”. Pelatihan dibuka dan dibawakan langsung oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”.

    Pembukaan sesi pelatihan yang diselenggarakan selama 3 jam (10.00–13.00 WIB) ini dimulai dengan perkenalan diri Pemateri, lalu berkenalan dengan 16 orang peserta, dengan menyebutkan nama dan asal serta domisili dari masing-masing organisasinya. Dilanjutkan dengan membahas norma kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand lalu open mic (setelah dipersilahkan), maupun melalui chat box dan Q&A.

    Sebagai gambaran awal sesi, Pemateri mengajak para peserta untuk sharing tentang pengalaman berkomunikasi baik dari sebelum hingga pada saat pandemi sebagaimana saat ini. Cerita dimulai oleh Pemateri dengan menyampaikan pengalaman kerja beliau sebelumnya sekitar tahun 2006 ketika sedang bekerja di Serbia, sehingga sampai pada tujuan hidupnya saat ini melalui ”I’m On My Way”, yakni: mempermudah orang untuk menemukan dan menjalani impian hidupnya. Lalu diteruskan oleh enam orang peserta terpilih untuk mendeskripsikan apa yang dinamakan dengan ”why you do what you do”. Kemudian diakhiri dengan berbagi feeling oleh peserta dalam kerangka membangun nilai positif dalam tim kerja, agar tidak terlalu larut pada hal-hal tertulis, sehingga lupa atas AKAR alasan dan tujuannya saat ini.

    Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi:

    1. 1. Effective Communication;
    2. 2. Team Communication; dan
    3. 3. Virtual Team Communication.


    Masuk pada poin pembelajaran (1) Effective Communication; Ali memulai dengan menyampaikan kalimat kunci pada poin ini yaitu “komunikasi” dan apa pengertian dari komunikasi itu sendiri, yang pada dasarnya adalah sebuah rangkaian penyampaian pikiran/ide/gagasan yang dilakukan dua arah (efektif) sehingga pesan tersebut sampai kepada penerima dan dapat dipahami dengan baik. Komunikasi juga dapat terhambat dan berjalan kurang efektif apabila tujuannya berubah, misalnya penyampai pesan hanya ingin didengarkan dan atau berlangsung satu arah tanpa umpan balik. Hambatan juga dapat berupa ”jarak”, waktu, maksud dan tujuan serta bagaimana cara komunikator menyampaikan pesan, dan atau si penerima pesan itu sendiri menanggapi pesan dimaksud.

    Poin (1) diakhiri dengan tampilan slide ”tujuan komunikasi”, dan pesan Pemateri terkait fokus hari ini yaitu pada penempatan diri peserta hari ini yang berperan sebagai komunikator (pengirim/pemberi pesan) kepada penerima pesan (komunikan).

    Poin pembelajaran (2) Team Communication; diawali dengan berbagi pengalaman atas komunikasi efektif di tim kerja terkait dengan ”momen terbaik, yang tidak baik, dan apa yang membedakan dalam dua kejadian tersebut. Pada momen ini beberapa peserta melakukan sharing, di antaranya adalah Pak Marwan dari Kelompok Kerja Program Karbon Hutan Berau (Pokja PKHB) dan Mbak Fitrianti Sofyan dari Coaction Indonesia (Koaksi Indonesia).

    Tim berarti lebih dari satu orang, dengan karakter, pendidikan, bahasa dan atau latar belakang lainnya, maka leader harus bisa menurunkan egoleader adalah sosok yang seharusnya melayani, jangan malah minta dilayani. Pahami tim, (relasi kelompok harus juga diimbangi dengan relasi personal), luangkan waktu untuk memahami tim dan personal-personal yang ada di dalam tim dalam rangka ”membangun rapor”.

    Organization Culture (sesi pembelajaran sebelumnya) merupakan pilar/fondasi, sama halnya dengan komunikasi yang baik dan sehat serta efektif yang dibangun di dalam tim, di mana dalam komunikasi ini dibutuhkan kerendahan hati, agar: (1) menyadari bahwa ada kemungkinan kita salah; dan (2) Ini bukan soal saya, namun tentang semua (tim). Karena memiliki tujuan yang sama itu PENTING, ingatkan dengan berbagai cara dan atau media maupun momen.

    Dalam keseharian, salah satu cara mengkomunikasikan pesan adalah lewat meeting, sementara tujuan meeting itu sendiri harus diklarifikasi diawal, yang setidaknya meeting tersebut bertujuan atas tiga hal, dua hal atau minimal satu hal dari: menyampaikan informasi, membuat keputusan, dan diskusi/brainstorming.


    Pada kesempatan selanjutnya sebelum sesi break (istirahat) 15 menit, Pemateri dan peserta mendiskusikan beberapa hal, di antaranya tentang: pimpinan yang sering lupa atas hasil rapat sebelumnya, sebagai solusi bersama adalah dengan membuat notula (minutes of meeting) yang idealnya ditinjau pada saat rapat selanjutnya dimulai, dan pada saat meeting selanjutnya berlangsung hendaknya juga diakhiri dengan wrapping. Sampaikan dengan cara komunikasi yang baik, usahakan tidak secara terbuka/langsung di depan khalayak, dengan tujuan peduli (care and fair). Idealnya seorang pemimpin adalah yang memiliki karakter kepemimpinan, bukan hanya jabatan leader namun leadership-nya.

    Setelah sesi istirahat selama 15 menit dirasa cukup, Pemateri masuk pada poin pembelajaran (3) Virtual Team Communication; dengan inti dari komunikasi dimaksud baik dalam konteks offline maupun online, hanya saja pada masa pandemi sebagaimana saat ini distorsinya ada pada WFH, namun hal ini tentunya dapat diminimalisir apabila seorang leader meluangkan waktu pada tim (anggotanya) yang tetap melakukan ”ritual” komunikasi intens sehingga teamwork tetap dapat berjalan dengan baik, dan agar sang leader paham situasi masing-masing anggota timnya.

    Check performance tim, baik per individu maupun per kelompok. Pastikan apakah ada yang bisa Anda support, hal ini menunjukkan tulusnya kepedulian Anda, walaupun kita bukan \”problem solver” untuk segala hal, setidaknya kita dapat menjembatani dan atau minimalnya menunjukkan kepedulian seorang leader.

    Kembali pada konteks meeting team, Pemateri menekankan dalam meeting tentang pentingnya durasi disepakati dari awal, seandainya pun delay dan atau melampaui batas durasinya maka komunikasikan dan sepakati, karena mungkin saja ada hal-hal lain di luar rapat tersebut ada agenda/kegiatan yang telah disiapkan dan atau akan dilakukan oleh anggota tim Anda. Meeting harus dibuat se-simple-mungkin, bisa dengan konsep KISS (Keep It Short and Simple) alias tidak bertele-tele, jangan sekedar ritual namun jelas bermakna dan atau ada output-nya.

    Pemateri menutup sesi hari ini dengan ”nilai dan manfaat” atas apapun yang dilakukan, ”tidak sekedar bermanfaat tapi hendaknya dimanfaatkan”.

    Proses pelatihan ditutup oleh Rukita Widodo dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, semoga pelatihan ini sungguh bermanfaat agar pekerjaan tetap berjalan lancar meski di masa pandemi. Rukita juga mengingatkan untuk mengisi polling evaluasi kegiatan, sekaligus menginformasikan kembali tentang kegiaatn Coaching/Klinik, dan jadwal pelatihan selanjutnya dengan tema ”Pemanfaatan Iklan untuk Upaya Penggalangan Dana” dari Kitabisa yang akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Agustus 2021 dan detailnya telah disampaikan melalui kolom chat dan Newsletter.

  • PELATIHAN BELAJAR DIGITAL STORYTELLING

    Sebuah konten storytelling butuh tujuan. Sama seperti hidup kamu,‘kan?

    Perjalanan hidup pun pasti ada emosi (perasaan), pikiran, dan tindakan yang diambil. Ketiga hal ini bagaikan sebuah urutan rute menuju tempat tujuan. Bertahun-tahun, orang selalu menggunakan rute yang sama, sebab telah terbukti sampai tujuan. Tak ubahnya dalam dunia periklanan atau pemasaran, penjualan yang mencapai target merupakan keberhasilan storytelling mempengaruhi emosi yang berlanjut pada pikiran, dan diakhiri tindakan. Lantas, bagaimana membuat konten yang bercerita sehingga tujuan kamu tercapai?

    Chairunnisa, pembicara dari Saraswati, saat pelatihan “Digital Storytelling”,16 Juni 2022,
    menyajikan 4 fondasi digital storytelling yang perlu kamu pahami dan lakukan:

    1. 1. Tujuan. Tulisan yang bercerita bisa diterapkan oleh organisasi nirlaba untuk edukasi, kampanye, profil, ataupun program organisasi. Tapi, kamu dan tim harus terlebih dahulu memahami tujuan organisasi, program, dan konten yang akan dibuat.
    2. 2. Audiens. Dari tujuan, kamu bisa menentukan audiens dan konten yang akan ditampilkan. termasuk bagaimana gaya bahasa, sapa, bentuk visual, dan lainnya.
    3. 3. Konten. Gaya bahasa, sapa, bentuk visual akan mudah “digoreng” mengikuti karakter audiens.
    4. 4. Platform. Kalau sudah tahu 3 langkah di atas, kamu baru bisa memilih platform digital yang sesuai.

    Lalu, bagaimana membuat konten yang powerful?

    Lagi, kamu harus mempunyai tujuan terhadap keseluruhan cerita, pesan dan makna. Pada saat menulis, gunakan sudut pandang kamu, dan hadirkan pertanyaan inti yang merangkai cerita. Dalam tulisan, kamu perlu menciptakan emosional, baru membuat foto/video/infografik yang kece. Tapi, jangan malas ya belajar struktur dan kosakata yang sesuai. Terus latihan menulis, yes, biar tulisan kamu mengalir dan dibaca dari awal sampai akhir oleh audiens. Perkaya juga kosakata dan rajin-rajinlah memainkan kata-kata.

    Masih bingung soal dasar penulisan konten digital? Ups, kami memang belum menuliskan tentang ini. Tenang, materi dasar penulisan konten yang dibawakan Melita Oktanawati, bisa kamu simak melalui video hasil rekaman pelatihan ini. Tunggu videonya tampil di website kami, ya. Banyak tip dan trik membuat digital storytelling. Kamu sih nggak ikutan pelatihan, padahal metode pembelajarannya seru, loh. Usai materi diberikan, peserta mendapatkan tugas, breakout room pun terbagi jadi 2 kelompok. Kalau tak ada tugas, berarti namanya bukan pelatihan. Dan belajar, tak cukup dari membaca saja, tapi juga dari visual (video). Jadi, tonton video rekaman, banyak tip dan triknya. Terakhir, ya, latihan, latihan, dan latihan.