Category: Liputan Kegiatan

  • DASAR-DASAR KOMUNIKASI & PENGEMBANGAN PESAN EFEKTIF DI MEDIA SOSIAL

    Dulu, organisasi menggunakan mass media konvensional, seperti radio, TV, atau koran untuk menyampaikan pesan kampanye kepada pembaca (audiens). Sekarang, menggunakan media digital: koran digital, podcast, media sosial, dan lain-lain. Namun, saat ini, jumlah audiens bertambah, organisasi perlu strategi penyampaian pesan yang lebih efektif dan tepat Bagaimana langkah-langkah yang tepat dan efektif itu?

    Ambarwati Dwilo dan Bewinda Salsabila, Maverick, membagikan pengetahuan dan pengalaman di bidang komunikasi digital kepada para Mitra Program Lingkar Madani saat Pelatihan “Dasar-dasar Komunikasi & Pengembangan Pesan yang Efektif”, Jumat 10 Juni 2022.

    Sebelum melangkah pada materi pemilihan platform, peserta diajak untuk memahami dasar-dasar strategi komunikasi, yang terdiri dari:

    Tujuan dalam komunikasi bukan tentang mencapai target penjualan, memperbesar staf, dan sejenisnya. Tapi, bagaimana komunikasi tersebut dapat membantu organisasi memperoleh objektif pesan organisasi, bukan sasaran. Objektif tersebut terdiri dari kesadaran, sikap, dan perilaku audiens. Objektif pun tak hanya bisa diukur. Maverick menyebut objektif harus “SMART”: specific, measurable, attainable, relevant, dan timely.

    Pelatihan ini tidak hanya satu arah, tapi juga mengajak peserta berinteraksi dan melakukan simulasi kampanye. Materi yang dipratikkan pun tak hanya tentang objektif, tapi banyak. Rugi kan kamu yang nggak ikutan.

    Pantau terus kabar webinar dan pelatihan Lingkar Madani via website dan e-mail.

  • BAGAIMANA PERENCANAAN VIRTUAL EVENT YANG BAIK?

    Virtual event ramai ketika pandemi tidak memberikan pilihan untuk bertatap muka. Tidak sedikit organisasi atau instansi yang kikuk, harus melakukan kegiatan secara virtual. Event virtual yang awalnya hanya silaturahmi, seminar dan pelatihan, berkembang menjadi pertunjukan seni budaya, wisata, bahkan ajang pencarian dana. Hari pun terus bergulir, sumber daya manusia yang tadinya zero pengalaman, mau tak mau meningkatkan kapasitas dan bersaing menghadirkan virtual event yang menarik dan berjalan rapi. Bagaimana sebenarnya merencanakan virtual event yang baik itu?

    Chairunnisa & Ester margaretha, tim Saraswati, membagikan wawasan dan pengalaman kepada Mitra Lingkar Madani, pada Seri Digital Learning: Pelatihan “Virtual Event Planning”, Kamis, 9 Juni 2022.

    Setiap materi yang dijabarkan, mereka bawa secara bergantian. Yang dilanjutkan dengan sharing pengalaman para Mitra.

    Chariunnisa mempresentasikan fondasi perencanaan kegiatan virtual yang penting, yaitu:

    1. 1. Pemasaran dan promosi. Setiap kegiatan harus direncanakan dari jauh hari; bagaimana pendistribusian, tools yang digunakan, persyaratan peserta, dan lain-lain. Pada bagian pertama ini, Chairunnisa dan Ester langsung menodong peserta untuk berbagi pengalamannya.
    2. 2. Pendekatan dan konten. Pendekatan merupakan inti dari kegiatan jika ingin acara sukses. Sesi yang menarik, engaging, dan powerful presentation menjadi nilai jual. Selain itu, penggunaan tools atau aplikasi yang menyesuaikan bentuk dan tujuan kegiatannya.
      Misalkan bertujuan untuk pitching, maka yang digunakan adalah aplikasi Speed Date. Biasanya, peserta yang hadir akan dibagi beberapa kelompok, setiap peserta di breakout room hanya diberikan waktu terbatas. Anggap saja 7 menit, berarti tiap peserta harus mampu melakukan pitching selama 7 menit. Sebab, keputusan yang muncul pun juga akan berjalan cepat. Pemodal/ pendonor juga diberikan kesempatan untuk berpindah room, dan pada awal masuk diberikan notes berisi panduan. asyik , nggak, sih? Tools ini sebenarnya membuka kesempatan bagi siapa pun dan di mana pun untuk mendapatkan pendanaan atau tujuan lain.
    3. 3. Menerjemahkan kesuksesan. Mengukur keberhasilan suatu acara itu sumbernya bermacam-macam. Antusias peserta dapat dilihat dari jumlah registrasi, peserta yang hadir, banyaknya pertanyaan, testimoni, dan survei.

     

    Santri dari MDPI menceritakan bahwa dia dan organisasi cukup sering melakukan virtual event, bahkan hybrid. MDPI mempunyai agenda regular dua kali setahun untuk mengadakan pertemuan yang melibatkan stakeholder perikanan, dari nelayan, supplier, kabupaten, sampai industri dan kementerian. Waktu pertama mengadakan acara hybrid, mereka hanya memiliki webcam berukuran kecil untuk 30-an orang. Keterbatasan peralatan tersebut tidak menghambat kegiatan. Perencanaan pun hanya 3 minggu karena harus cepat. Tapi Santri dan organisasi juga ingin menggelar kegiatan online yang proper, tapi bagaimana menyelenggarakan virtual event yang baik itu.

    Usai Santri bercerita, Chairunnisa segera menjawab. Yang harus diperhatikan dalam kegiatan hybrid adalah kualitas audio dan kamera. Meski bekerja sama dengan pemerintah yang terbiasa formil, tapi kita harus dinamis.

    Tidak semua virtual event mempunyai cara registrasi yang sama, tergantung dari bentuk program. Terpenting harus memperhatikan elemen-elemen perencanaan di bawah ini:

    1. 1. Tautan registrasi. Nilai plus terintegrasi dengan website utama. Biasa menggunakan , zoom, survey monkey & google form (utk peserta yang akan dikurasi);
    2. 2. Online event guide: panduan teknis, pre-reading materials, dan survey awal;
    3. 3. Team support: Host/Moderator, pembicara, help desk, technical support;
    4. 4. Interactive tools: Q&A, live polling, online whiteboard;
    5. 5. Event feedback: survey; testimoni;
    6. 6. Follow-up: rekaman kegiatan, integrasi ke newsletter.
  • 4 PROSES UNTUK BANGUN SISTEM BUDAYA ORGANISASI YANG KONSISTEN

    Keberlanjutan organisasi maupun perusahaan juga bergantung pada budaya yang dibangun terus-menerus. Sebenarnya desain budaya kerap dilakukan, hanya saja sering terabaikan.  Mungkin juga, organisasi belum memahaminya. Karena penting, kami menggelar pelatihan “Mendesain & Membangun Budaya Organisasi”, bersama narasumber Ali Zaenal Abidin, Selasa, 31 Mei 2022.

    Identitas organisasi, kultur, internalisasi desain adalah 3 poin pembelajaran pelatihan ini. Yang dimaksud Identitas Organisasi terdapat  unsur nama dan visual sebagai identitas, menarik perhatian, dan  membangun relasi. Sedangkan kultur atau budaya merupakan kumpulan nilai-nilai yang diterapkan secara konsisten. Dari awal didirikan organisasi, desain tersebut harus dimiliki dan diterapkan. Justru penerapan dilakukan saat pegawai baru satu atau dua orang. Dan, Internalisasi Desain Budaya. Bagian ini menentukan apakah budaya yang dibangun dapat berjalan dalam jangka panjang atau sebaliknya. Bagaimana cara mempertahankannya?

    4 proses vital yang perlu diterapkan untuk membangun budaya yang konsisten:

    1. 1. Recruitment. Merupakan gerbang  awal dari membangun suatu budaya. Jika ingin staf punya budaya yang sejalan dengan didesain, dari awal pekerjakanlah orang yang sudah punya keselarasan dengan organisasi kamu. Masalahnya banyak organisasi mencari pekerja hanya berdasarkan kompetensi atau kemampuan teknisnya. Tapi untuk organisasi yang punya keseriusan menjaga budayanya, tak hanya kemampuan teknis, tapi juga keselarasan yang ingin atau sedang dibangun, misal perilaku. Dilihat bisa dari wawancara, probation. Dalam test kejujuran orang saat wawancara: diminta baca buku secara singkat yang dalam buku diselipkan uang, saat dikembalikan, masih ada atau  tidak uangnya. Ada namanya behaviour questions. Lihat juga perilakunya. Jika dalam jangka panjang, ada yang performance hilang, maka kita ada biaya produksi yang rugi, kalau dia nggak keluar dari organisasi, biaya tetap keluar, bahkan bisa dobel. Sebab budaya itu menular.
    2. 2. Performance appraisal (penilaian kinerja). Kamu harus mendesain bagaimana penerapan nilai-nilainya. Penilaian dilakukan minimal 2 kali setahun. Harus ada ukuran dan juga pelatihan, penghargaan, role model, dan sebagainya. Komunikasikan  terus menerus dengan komunikasi yang berbeda-beda.
    3. Training and development. Melakukan pelatihan untuk penguatan dan pengembangan kapasitas.
    4. 3. Rewards. Memberikan penghargaan kepada staf yang berprestasi.

    Itulah 4 proses yang akan membantu sistem untuk budaya menjadi konsisten. Untuk selengkapnya, tonton ya video rekamannya.

  • PRESENTASI YANG MENAWAN AUDIENS

    Bicara presentasi tidak hanya tentang desain atau warna, tapi juga bagaimana kita mempresentasikannya, agar menarik perhatian audiens.

    Rabu, 25 Mei 2022, Digital learning series, pelatihan “Powerful Presentation”

    Mengapa butuh sebuah presentasi yang kuat? Hal ini, salah satunya, dikarenakan otak kita tidak hanya bekerja untuk hal-hal yang membosankan. Dalam 30 detik pertama, maju presentasi itu golden moment untuk menarik perhatian audiens.

    Ester Margaretha dan Melita Oktanawati, keduanya dari lembagag Saraswati, menghantar para peserta pelatihan menyelami kekuatan dari sebuah presentasi.

    Ester membuka paparannya dengan menitikberatkan pada identifikasi audiens. Siapa audines, karakteristik, publik atau private?, dan apa konteks/latar belakang dari yang akan disampaikan dalam presentasi. Dengan mengetahui audiens, kita dapat dapat menyusun ide/ gagasan sesuai dengan kebutuhan yang akan menikmati proses prensenting kita. Ester pun memberikan 3 bumbu magic membuat sebuah presentasi yang luar biasa, yakni audiens dan konten; branding dan tools; serta public speaking dalam presentasi yakni bagaimana cara bercerita dan menciptakan transformasi audiens. Transformassi audiens yang dimaksud adalah mengidentifikasi apa yang mereka tahu, percaya, rasakan dan lakukan baik sebelum mendengarkan presentasi dan setelah presentasi dipaparkan.

    Tak luput, Ester menegaskan bahwa presentasi itu soal public speaking kita. Bagaimana nangkep fokus audiens kita. Buat mereka yang banyak bicara

    Melita mengisi sesi berikutnya dengan menunjukkan metode visual presetation. Visual itu penting, contohnya dengan mengaplikasikan warna tertentu dengan tujuan agar audiens dapat mengingat organisasi/brand kita. Hal lain adalah menentukan tipe dan ukuran font, icons, dan elemen lainnya, sehingga dengan personalisasi desain ini mampu mengoptimalisasi konten dari yang akan dipresentasikan.

    Melita juga menampilkan ragam tools yang dapat digunakan dalam menyusun dan membangun sebuah presentasi yang ciamik. Beberapa diantaranya adalah Google slides, canva, dan power point. Tools tersebut menawarkan banyak ragam fitur yang dapat dimaksimalkan penggunaannya, diantaranya adalah visulasasi data, audio gif dan animasi, embed video, Audience QnA dan bahkan di zoom platform pun telah mengaplikasikan fitur power point as virtual background, yang mampu menciptakan suasana interaktif antara pemapar dan audiens.

    Paparan berikutnya dalah terkait teknik presentasi. Melita dan Ester memberikan sejumlah tips-tips bagaimana menyampaikan sebuah presentasi pada sebuah kegiatan virtual; diantaranya bagaimana menarik perhatian peserta/ audiens, perkenalkan dan jelaskan topik atau isi presentasi, memperhatikan durasi presentasi agar lebih efektif, menggunakan hook atau kutipan, seperti melontarkan pertanyaan awal, menggunakan quote, atau menyelipkan humor ataupun cerita singkat.

    Dalam presentasi, gesture dan tone juga sangat perlu diperhatikan, termasuk juga kecepatan dan ketepatan penyampaian. Sebisanya tetap menjaga interaksi dengan audiens. Tak ada salahnya meminta audiens untuk interupsi dan mengingatkan bilamana penyampaikan terlalu cepat, atau mengajak peserta untuk raise hand atau menggunakan fitur chat box bilamana ada yang ditanya. ‘Demam panggung’ memang akan selalu menjadi tantangan.

    “Kadang kala kita sering terlalu banyak mengucapkan kata ehm, errr, ckk kalau sedang presentasi, mungkin karena gugup. Nah ini yang perlu diminimalisir,” Ucap Melita saat memberikan tips-tips.

    Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi penugasan dan simulasi presentasi oleh para peserta. Dari simulasi, Melita dan Ester banyak memberikan tips-tips empirik bagi peserta pelatihan.

    Nantikan sesi-sesi pelatihan “Seri Digital Learning” berikutnya bersama Saraswati.

  • POLA PIKIR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP

    You can not live a positive life with a negative mind

    Pola pikir itu penting. Ia  akan mempengaruhi bagaimana kita menjalani keseharian dan kualitas hidup. Bagaimana mengubah pola pikir dengan cepat? Kalimat ini meluncur sebelum pembicara, Ali Zaenal Abidin memulai pelatihan “How to change your mindset”, Kamis, 19 Mei 2022.

    Ali yang kerap menggunakan analogi pada setiap pembicaraannya,  bertanya kepada peserta, “Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata “otak’ dan “pikiran?” Lalu ia menganalogikan “suara” dan “pita suara”: pita suara adalah organ dan suara merupakan hasil dari pita tersebut. Begitu pula antara otak dan pikiran: otak ialah organ dan pikiran adalah salah satu hasil yang dikerjakan otak.

    Karena topik pelatihan mengenai mindset, maka ia mengajak peserta untuk memahami bahwa kata mind berarti pikiran, jika digabung dengan set, maka pengertiannya adalah pikiran yang sudah diatur. Nah, bagaimana cara cepat mengubah mindset, peserta diperkenalkan dengan ‘Teknologi Pengembangan Diri” sebagai salah satu fungsi mempercepat komunikasi, yang memiliki berbagai fitur.

    Lagi, ia bertanya dengan analogi, bagaimana menghitung angka-angka yang tertera di presentasi ini dengan cepat. Ia menyebut kalkulator dan excel, mana yang lebih cepat? Tentu saja excel. Tapi, jika seseorang tidak tahu fitur sum formula yang ada di program ini, ia tidak bisa mendapatkan hasil yang lebih cepat dari kalkulator.

    Saat ini, sudah banyak platform belajar soal fitur diri. Semakin kita cerdas mengenali fitur tersebut, kita makin paham fitur-fitur yang akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

    Psikologi banyak mempelajari hal ini, tapi akan lebih cepat jika belajar tak hanya dari satu bidang. Sebab kita akan semakin banyak mendapatkan khasanah dan metode mengelola diri. Semua hal bersifat psikologi “pasti” biologis, maka  tak hanya bicara psikologi, tapi juga biologi. Ini merupakan salah satu yang mempercepat proses pembelajaran mindset.

    Teknologi pengembangan diri. Screenshot discover your body – biologis.

    Tubuh kita terdiri dari triliunan sel saraf atau neuron. Di kepala saja ada 100 neuron milyar lebih. Salah satu fungsi neuron yaitu untuk menyimpan data, “Apa yang terlintas pikiran ketika mendengar kata ‘singa’? Si Raja Hutan, pemakan daging, dan berambut panjang?

    Setiap  neuron bisa terhubung sampai dengan 100.000 neuron lain. Saat menyebut singa dengan raja hutan, pemakan daging, itu berarti antara neuron berasosiasi. Yang kemudian neuron itu membentuk jaringan-jaringan neuron sendiri. Sedangkan, ketika dua neuron yang belum terhubung/asosiasi mulai terhubung—saat kita mempelajari hal baru, apa pun caranya, maka akan terbentuk asosiasi antara sel saraf. Ternyata, hal ini adalah fondasi (dasar) mempelajari mengubah pola pikir dengan cepat. Tentu saja kita harus memahami terlebih dahulu sebelum melangkah ke pembelajaran berikutnya.

    Biar kamu tak salah paham, langsung saja tonton video rekaman pelatihan How to change your mindset di sini

  • 6 LEMBAGA TOP DI KEGIATAN IDEA PITCHING STAGE

    Selamat atas terpilihnya  YP3 Papua, Econusa, Yayasan MDPI, Transformation, The Conservation, dan YASIWA, sebagai Top 6 lembaga yang berkesempatan mendapatkan dana kampanye sebesar Rp5.000.000,00, meluncurkan kampanye sosial di aplikasi Campaign #ForChange, dan kerja sama, jika masuk dalam jajaran Top 3.

    Kolaborasi Lingkar Madani dan Campaign.com tidak berhenti pada webinar saja. Enam lembaga nirlaba terpilih untuk mengikuti Idea Pitching Stage “Revolusi Digital Kampanye Sosial”. Enam lembaga dengan penilaian tertinggi yang dinilai selama pelatihan berlangsung.

    Pada hari Kamis, 7 April 2022, enam OMS tersebut (Top 6) mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan visi dan misi lembaga, program kampanye sosial dan tujuan, platform media sosial yang digunakan, dan lainnya kepada Campaign.com dan Lingkar Madani, serta peserta.

    Keseruan tersebut, kamu bisa saksikan via tautan YouTube di bawah ini. Top 6 lembaga yang keren-keren semua. Kamu juga bisa melihat bagaimana penilaian dari Tim Campaign.com dan Tim Lingkar Madani, dan siapa yang menjadi Top 3.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 4 “DARI DATA JADI VISUAL INFOGRAFIS YANG MENARIK”

    Yosep Suprayogi bilang, “Visual dapat meningkatkan keinginan membaca sampai 80%.” Pada dasarnya, manusia itu spesies visual, jadi senang dengan sesuatu yang lebih menarik atau menonjol dibandingkan teks. Wajar saja kalau laporan juga butuh gambar, salah satunya dalam bentuk infografis. Lantas, bagaimana mengubah data jadi informasi yang menarik dan mudah dipahami?

    Selasa pagi rasa es Shanghai, banyak isinya dan menyegarkan, begitulah serial pelatihan laporan efektif sesi keempat pada tanggal 29 Maret 2022. Sebenarnya, belajar infografis bisa dari YouTube, tapi belum tentu materi yang diberikan seperti kuliah desain, apalagi yang berhubungan dengan laporan organisasi atau penelitian.

    Yosep, pengajar pelatihan kali ini, membahas bagaimana mengemas data dan 4 langkah infografis. Urusan data, Yosep membagi kelompok informasi ke dalam kuadran yang biasa digunakan para jurnalis, terdiri dari:  data tidak penting dan tidak menarik, tidak penting dan menarik, penting tapi tidak menarik, serta  penting dan menarik. Fungsi kuadran tersebut  memudahkan  kita memilah dari banyaknya data yang diperoleh, untuk ditampilkan pada infografis.

    Sebelum melangkah membuat infografis, kita perlu tahu bagaimana visual bekerja secara menarik dan tidak menarik:

    1. 1. Ketika mengubah informasi atau data menjadi visual, tetap menggunakan bahasa verba.
    2. 2. Harus ada judul. Usahakan judul yang “terang menderang”.  Penulisan pada judul ditonjolkan dengan warna huruf yang berbeda. Judul bisa menggunakan bahasa pelesetan, misal Kolesterol jadi KolesTelur.
    3. 3. Harus ada penjelasan, tidak perlu panjang.

    Selain di atas, kita harus mengetahui ragam bentuk grafis. Jadi, nggak akan berlama-lama menentukan jenis apa yang akan digunakan.

    Saat siang, pengajar menunjukan bagaimana  kelebihan infografis yang bisa dipakai dalam bentuk tulisan apa pun, contohnya buku. Masih terkait data, ia mengingatkan bahwa data perlu disortir dan kita mesti memiliki kerendahan hati, tidak semua data bisa ditampilkan.

    Berikut tahapan membuat infografis:

    1. 1. Ide,
    2. 2. Menetapkan angle dan outline,
    3. 3.Menetapkan bagaimana menceritakannya,
    4. 4. Menetapkan jenis grafis,
    5. 5. Melengkapi elemen visual atau narasi.
    6. Dalam menyiapkan data, harus perhatikan apakah data yang ditampilkan menunjukan tren, peringkat, pola, perbandingan/versus; apakah dalam artikel ada proses, bagan, dan area; apakah ada narasi yang disiapkan berupa poin-poin.

    Tidak ada ilmu yang sia-sia, apa pun profesinya, semua pengetahuan bisa dipelajari dan diambil manfaatnya. Terima kasih Tempo Institute.

  • WORKSHOP #2 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “STRATEGI MENYUSUN AMPLIFIKASI DIGITAL”

    Ada kosakata “amplifikasi” pada judul pelatihan seri Revolusi Digital Kampanye Sosial Sesi Kedua. Kata tersebut mempunyai arti perluasan atau pengembangan, jika dikaitkan dengan topik, bermakna, kampanye sosial yang terjangkau luas, atau bisa dikatakan banyak dibaca atau dilihat orang. Barajiwa Anggit Sentausa, Editor KokBisa, narasumber pelatihan sesi kedua, memberikan materi bagaimana Strategi Menyusun Amplifikasi Digital, pada tanggal 25 Maret 2022 via Zoom Meeting.

    Menurut Barajiwa, kebanyakan konten edukasi yang bertebaran di media sosial itu berbentuk video. Tidak mudah membuat video, kita perlu menyusun alur, dan hal lainnya. Namun, hal itu menjadi tantangan, ditambah bagaimana memproduksi konten edukasi yang ditonton orang banyak.

    Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali audiens atau persona. Sebab, setiap konten punya audiens masing-masing. Kita harus tahu tujuan atau cita-cita, kesibukan dan hobi, tontonan yang disukai, misalnya, juga kapan waktu menonton dan platform yang mereka gunakan. Dari persona tersebut, kita dapat menggali elemen-elemen untuk menentukan topik, judul, gaya penyampaian, sampai soal musik, figur yang disukai, dan durasi konten, dan sebagainya. Lalu, Barajiwa dan tim campaign.com memberikan worksheet yang perlu diisi oleh peserta. Beberapa kolom yang perlu diisi tidak hanya segmentasi, target, dan posisi, tapi juga persona tentang gender, usia, lokasi, dan pekerjaan, kebiasaan, serta kanal yang sering dipakai.

    Langkah kedua, setelah konten dipublikasi, kita melakukan analisa, mengapa sedikit ditonton atau sebaliknya. Setiap platform mempunyai alat analisis yang bisa digunakan sebagai ukuran seberapa besar konten yang tersebut menjangkau audiens, misalnya.

    Langkah ketiganya, bikin konten. Kunci dari konten yang berhasil adalah kekuatan cerita. Kita harus berpikir kreatif agar konten edukasi tidak membosankan, tapi justru menarik perhatian. Barajiwa bilang walaupun konten yang disampaikan edukatif, namun, perlu disampaikan secara menghibur. Contoh bikin video biologi dengan judul Kisah Duel Abadi Ayam vs Telur. Atau konten pelajaran fisika dengan judul Kisah Keajaiban Pesawat Terbang. Bagaimana menurut kamu, menarik, ‘kan? Pada bagian ini yang terpenting ialah konten harus logis.

    Membuat storytelling yang menarik perhatian, tidak hanya menyontek dari literatur, tapi kita perlu memahami, dan rajin membaca buku, atau majalah, atau koran, bahkan postingan orang lain. Serunya, narasumber tidak pelit membagikan “rahasia” kesuksesan storytelling-nya KokBisa. Tenang saja, kamu yang tidak ikutan workshop kedua, kami akan bisikan di sini. Ssst, tahan nafas, ya.

    Kunci menyusun storytelling, pertama, entertaining first, tahu, kan Bahasa Indonesianya? Jadi, bikin dulu orang penasaran dengan pembukaan yang menghibur atau jenaka, baru berikan edukasinya. Kedua, hindari jargon atau istilah rumit, gunakan bahasa sederhana. Kita menulis untuk dimengerti, bukan untuk terlihat pintar. Kalau mau tetap pakai jargon, kita harus menjelaskannya. Ketiga, gunakan analogi biar pesan yang ingin disampaikan semakin dipahami audiens. Keempat, berikan contohnya. Kelima, gaya bercerita atau penyampaian yang menarik, antusias, dan menggunakan perspektif kita agar pembaca merasakannya.

    Selamat mencoba, ya, teman-teman. Kalau  gagal, bikin lagi, sampai kita semua sukses mengkampanyekan program-program organisasi.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 2-3 “PRINSIP LAPORAN EFEKTIF DAN RINGKASAN EKSEKUTIF”

    Kahoot.it, sebuah aplikasi interaktif, membuka  pelatihan untuk mengingat materi hari kemarin. Media pembelajaran ini sebetulnya sederhana, tapi interaksi yang tercipta dan soal yang diciptakan Tim Pengajar Tempo Institute, merangsang peserta melihat kemampuan diri tentang kalimat efektif dan menyunting tulisan.

    Pada hari kedua, Serial Pelatihan Laporan Efektif, Sesi Kedua, bersama dua narasumber yang terbagi lagi menjadi dua materi, yakni, pertama, Prinsip Laporan Efektif dengan pengajar Philipus Parera, yang dimulai pukul 9 sampai 12 siang, dan kedua, Teknik Menulis Ringkasan Efektif, Yandhie Arvian, 13.00—15.00 WIB.

    Selain laporan harus mudah dipahami dan menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik, kita juga harus tahu sasaran pembaca, penggunaan informasi yang tepat, gaya laporan, dan berpikir impak yang akan diperoleh. Menurut Philipus, laporan efektif itu menyampaikan permasalahan yang bisa dimengerti oleh pembaca, sama halnya dengan penggunaan data atau informasi. Judul, ringkasan eksekutif, dan pendahuluan pun harus selaras.

    Kemudian, ia menjelaskan bahwa judul laporan mempunyai peran besar. Maka, sebuah judul perlu menggambarkan masalah yang dihadapi atau dapat menyampaikan pesan utama. Philipus memberikan contoh-contoh judul yang dapat mudah ‘ditangkap’ pembaca dan yang tidak.

    Pembahasan selanjutnya tentang “ringkasan eksekutif” yang terdapat pada laporan, sebelum bab pertama. Ringkasan eksekutif adalah pernyataan singkat mengenai persoalan yang dibahas, mengapa penting, serta gambaran mengenai kesimpulan dan rekomendasi.

    Lantas, Philipus membeberkan Tiga Prinsip Laporan Efektif, yaitu: TemSetiap bagian harus terkait logis dengan tujuan atau pertanyaan laporan (judul, ringkasan eksekutif, isi, dan penutup),

    1. Pastikan pembaca yang sibuk, dapat memahami dengan mudah dan cepat (penggunaan kalimat deduktif dan efisien, dan mengenal audiens).
    2. Gunakan sebanyak mungkin bantuan untuk memudahkan pembaca, seperti infografis, foto, dan desain.

    “Ketika kita meneliti, kita menulis, dan kita berpikir seperti pembaca,” pesan Philipus kepada peserta, sebelum memberikan latihan soal.

    Siang harinya, materi dibawakan oleh Yandhie Arvian. Peserta mendapatkan latihan soal kembali. Kali ini, waktu yang diberikan cukup 5 menit. Peserta diminta membuat satu kalimat yang mencakup permasalahan atau pesan yang ingin disampaikan dan mengapa penting.

    Pembahasan selanjutnya, ia mencerahkan peserta perihal betapa pentingnya angle tulisan dan kesalahan penulisan yang sering kali terjadi.

    Pada hari ketiga (sesi 3), 24 Maret 2022, delapan hasil tulisan dari peserta yang telah masuk, disortir, lalu ditampilkan dan diulas oleh Philipus sehingga peserta dapat mempelajari bagian yang tepat dan tidak tepat.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 1 “KALIMAT EFEKTIF DAN SUNTING TULISAN LAPORAN EFEKTIF”

    Kita sudah tidak asing lagi dengan laporan, tapi apakah laporan yang kita tulis mudah dipahami pembaca? Laporan efektif pun tidak hanya dilihat dari sisi pemahaman, tapi juga kalimat efektif yang digunakan dan pesan yang tersampaikan. Berlatar belakang hal tersebut, Program Lingkar Madani berkolaborasi dengan Tempo Institute menggelar Serial Laporan Efektif sebanyak 6 sesi. Pada sesi pertama, 22 Maret 2022, topik yang dibawakan oleh pengajar kita adalah kalimat efektif dan menyunting tulisan.

    Awal pelatihan, Uu Suhardi, Editor dan Koordinator Redaksi Bahasa di Tempo Media Grup, memberikan kuis tentang kata baku, mana yang baku dan tidak, dari 20 pasangan kata. Mas Uu  lebih memilih box chat sebagai tempat peserta menjawabnya. Kumpulan kata baku yang diberikan itu sering kali bikin kecoh bila kita tidak mengenalinya, contoh: antara akta dan akte; resiko dan risiko; atau penalti dan pinalti. Kata tidak baku itu bukan berarti salah dan tidak boleh digunakan, tapi biasanya dipakai sebagai bahasa pergaulan atau bentuk tidak formil. Biar tidak tersesat antara baku dan tidak baku, kita bisa cek di laman:  https://kbbi.kemdikbud.go.id/

    Kemudian, Mas Uu menerangkan kalimat sempurna yang sekurang-kurangnya memiliki subjek (siapa) dan predikat (apa), yang bisa juga ditambahkan penjelasan (bagaimana dan mengapa). Contoh, kemarin saya pergi ke Gedung Tempo, Jakarta, menumpang mobil teman untuk mengikuti kelas menulis. Terlihat, kan, bagian subjek dan predikatnya?

    Kalimat efektif sendiri adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, dan lengkap serta cermat. Singkat berarti hanya menggunakan unsur yang diperlukan; padat, tidak berisi penggulangan kata; jelas, strukturnya teratur; lengkap, mengandung semua unsur pembentuk kalimat; dan cermat, menggunakan tanda baca dan pilihan kata yang tepat serta tidak menyimpang dari kaidah. Selain mengacu pada teori, tulisan yang efektif juga dilahirkan dari latihan menulis yang terus-menerus.

    Kalimat efektif pun tidak lepas dari penggunaan tanda baca. Kesalahan yang biasanya terjadi, misalkan dalam kalimat: Tahun ini, Joko sudah melakukan perjalanan ke Sumba, Flores dan Lombok. Yang  benar adalah “Tahun ini, Joko sudah melakukan perjalanan ke Sumba, Flores, dan Lombok.” Lebih jauh soal tanda baca, huruf kapital, kata serapan, dan lainnya, bisa kunjungi laman https://puebi.js.org/

    Tepat pukul dua belas, kegiatan dihentikan sementara untuk isoma, yang kemudian dilanjutkan pukul satu dengan  topik menyunting tulisan. Karena belajar menulis harus pratek, Mas Uu membagi beberapa kelompok untuk latihan menyunting. Tugas masing-masing kelompok langsung ditampilkan, loh biar peserta bisa belajar. Wah, seru banget pelatihan ini. Usai pelatihan bisa jadi editor, nih. Hehehe. Pastinya, setiap yang hadir pada pelatihan, mendapatkan materi yang diberikan via surel. Nyesel nggak ikutan?  Makanya, rajin cek surel dari kami, atau WAG Lingkar Madani.