Author: Pipit Zaenudin

  • DASAR-DASAR KOMUNIKASI & PENGEMBANGAN PESAN EFEKTIF DI MEDIA SOSIAL

    Dulu, organisasi menggunakan mass media konvensional, seperti radio, TV, atau koran untuk menyampaikan pesan kampanye kepada pembaca (audiens). Sekarang, menggunakan media digital: koran digital, podcast, media sosial, dan lain-lain. Namun, saat ini, jumlah audiens bertambah, organisasi perlu strategi penyampaian pesan yang lebih efektif dan tepat Bagaimana langkah-langkah yang tepat dan efektif itu?

    Ambarwati Dwilo dan Bewinda Salsabila, Maverick, membagikan pengetahuan dan pengalaman di bidang komunikasi digital kepada para Mitra Program Lingkar Madani saat Pelatihan “Dasar-dasar Komunikasi & Pengembangan Pesan yang Efektif”, Jumat 10 Juni 2022.

    Sebelum melangkah pada materi pemilihan platform, peserta diajak untuk memahami dasar-dasar strategi komunikasi, yang terdiri dari:

    Tujuan dalam komunikasi bukan tentang mencapai target penjualan, memperbesar staf, dan sejenisnya. Tapi, bagaimana komunikasi tersebut dapat membantu organisasi memperoleh objektif pesan organisasi, bukan sasaran. Objektif tersebut terdiri dari kesadaran, sikap, dan perilaku audiens. Objektif pun tak hanya bisa diukur. Maverick menyebut objektif harus “SMART”: specific, measurable, attainable, relevant, dan timely.

    Pelatihan ini tidak hanya satu arah, tapi juga mengajak peserta berinteraksi dan melakukan simulasi kampanye. Materi yang dipratikkan pun tak hanya tentang objektif, tapi banyak. Rugi kan kamu yang nggak ikutan.

    Pantau terus kabar webinar dan pelatihan Lingkar Madani via website dan e-mail.

  • BAGAIMANA PERENCANAAN VIRTUAL EVENT YANG BAIK?

    Virtual event ramai ketika pandemi tidak memberikan pilihan untuk bertatap muka. Tidak sedikit organisasi atau instansi yang kikuk, harus melakukan kegiatan secara virtual. Event virtual yang awalnya hanya silaturahmi, seminar dan pelatihan, berkembang menjadi pertunjukan seni budaya, wisata, bahkan ajang pencarian dana. Hari pun terus bergulir, sumber daya manusia yang tadinya zero pengalaman, mau tak mau meningkatkan kapasitas dan bersaing menghadirkan virtual event yang menarik dan berjalan rapi. Bagaimana sebenarnya merencanakan virtual event yang baik itu?

    Chairunnisa & Ester margaretha, tim Saraswati, membagikan wawasan dan pengalaman kepada Mitra Lingkar Madani, pada Seri Digital Learning: Pelatihan “Virtual Event Planning”, Kamis, 9 Juni 2022.

    Setiap materi yang dijabarkan, mereka bawa secara bergantian. Yang dilanjutkan dengan sharing pengalaman para Mitra.

    Chariunnisa mempresentasikan fondasi perencanaan kegiatan virtual yang penting, yaitu:

    1. 1. Pemasaran dan promosi. Setiap kegiatan harus direncanakan dari jauh hari; bagaimana pendistribusian, tools yang digunakan, persyaratan peserta, dan lain-lain. Pada bagian pertama ini, Chairunnisa dan Ester langsung menodong peserta untuk berbagi pengalamannya.
    2. 2. Pendekatan dan konten. Pendekatan merupakan inti dari kegiatan jika ingin acara sukses. Sesi yang menarik, engaging, dan powerful presentation menjadi nilai jual. Selain itu, penggunaan tools atau aplikasi yang menyesuaikan bentuk dan tujuan kegiatannya.
      Misalkan bertujuan untuk pitching, maka yang digunakan adalah aplikasi Speed Date. Biasanya, peserta yang hadir akan dibagi beberapa kelompok, setiap peserta di breakout room hanya diberikan waktu terbatas. Anggap saja 7 menit, berarti tiap peserta harus mampu melakukan pitching selama 7 menit. Sebab, keputusan yang muncul pun juga akan berjalan cepat. Pemodal/ pendonor juga diberikan kesempatan untuk berpindah room, dan pada awal masuk diberikan notes berisi panduan. asyik , nggak, sih? Tools ini sebenarnya membuka kesempatan bagi siapa pun dan di mana pun untuk mendapatkan pendanaan atau tujuan lain.
    3. 3. Menerjemahkan kesuksesan. Mengukur keberhasilan suatu acara itu sumbernya bermacam-macam. Antusias peserta dapat dilihat dari jumlah registrasi, peserta yang hadir, banyaknya pertanyaan, testimoni, dan survei.

     

    Santri dari MDPI menceritakan bahwa dia dan organisasi cukup sering melakukan virtual event, bahkan hybrid. MDPI mempunyai agenda regular dua kali setahun untuk mengadakan pertemuan yang melibatkan stakeholder perikanan, dari nelayan, supplier, kabupaten, sampai industri dan kementerian. Waktu pertama mengadakan acara hybrid, mereka hanya memiliki webcam berukuran kecil untuk 30-an orang. Keterbatasan peralatan tersebut tidak menghambat kegiatan. Perencanaan pun hanya 3 minggu karena harus cepat. Tapi Santri dan organisasi juga ingin menggelar kegiatan online yang proper, tapi bagaimana menyelenggarakan virtual event yang baik itu.

    Usai Santri bercerita, Chairunnisa segera menjawab. Yang harus diperhatikan dalam kegiatan hybrid adalah kualitas audio dan kamera. Meski bekerja sama dengan pemerintah yang terbiasa formil, tapi kita harus dinamis.

    Tidak semua virtual event mempunyai cara registrasi yang sama, tergantung dari bentuk program. Terpenting harus memperhatikan elemen-elemen perencanaan di bawah ini:

    1. 1. Tautan registrasi. Nilai plus terintegrasi dengan website utama. Biasa menggunakan , zoom, survey monkey & google form (utk peserta yang akan dikurasi);
    2. 2. Online event guide: panduan teknis, pre-reading materials, dan survey awal;
    3. 3. Team support: Host/Moderator, pembicara, help desk, technical support;
    4. 4. Interactive tools: Q&A, live polling, online whiteboard;
    5. 5. Event feedback: survey; testimoni;
    6. 6. Follow-up: rekaman kegiatan, integrasi ke newsletter.
  • 4 PROSES UNTUK BANGUN SISTEM BUDAYA ORGANISASI YANG KONSISTEN

    Keberlanjutan organisasi maupun perusahaan juga bergantung pada budaya yang dibangun terus-menerus. Sebenarnya desain budaya kerap dilakukan, hanya saja sering terabaikan.  Mungkin juga, organisasi belum memahaminya. Karena penting, kami menggelar pelatihan “Mendesain & Membangun Budaya Organisasi”, bersama narasumber Ali Zaenal Abidin, Selasa, 31 Mei 2022.

    Identitas organisasi, kultur, internalisasi desain adalah 3 poin pembelajaran pelatihan ini. Yang dimaksud Identitas Organisasi terdapat  unsur nama dan visual sebagai identitas, menarik perhatian, dan  membangun relasi. Sedangkan kultur atau budaya merupakan kumpulan nilai-nilai yang diterapkan secara konsisten. Dari awal didirikan organisasi, desain tersebut harus dimiliki dan diterapkan. Justru penerapan dilakukan saat pegawai baru satu atau dua orang. Dan, Internalisasi Desain Budaya. Bagian ini menentukan apakah budaya yang dibangun dapat berjalan dalam jangka panjang atau sebaliknya. Bagaimana cara mempertahankannya?

    4 proses vital yang perlu diterapkan untuk membangun budaya yang konsisten:

    1. 1. Recruitment. Merupakan gerbang  awal dari membangun suatu budaya. Jika ingin staf punya budaya yang sejalan dengan didesain, dari awal pekerjakanlah orang yang sudah punya keselarasan dengan organisasi kamu. Masalahnya banyak organisasi mencari pekerja hanya berdasarkan kompetensi atau kemampuan teknisnya. Tapi untuk organisasi yang punya keseriusan menjaga budayanya, tak hanya kemampuan teknis, tapi juga keselarasan yang ingin atau sedang dibangun, misal perilaku. Dilihat bisa dari wawancara, probation. Dalam test kejujuran orang saat wawancara: diminta baca buku secara singkat yang dalam buku diselipkan uang, saat dikembalikan, masih ada atau  tidak uangnya. Ada namanya behaviour questions. Lihat juga perilakunya. Jika dalam jangka panjang, ada yang performance hilang, maka kita ada biaya produksi yang rugi, kalau dia nggak keluar dari organisasi, biaya tetap keluar, bahkan bisa dobel. Sebab budaya itu menular.
    2. 2. Performance appraisal (penilaian kinerja). Kamu harus mendesain bagaimana penerapan nilai-nilainya. Penilaian dilakukan minimal 2 kali setahun. Harus ada ukuran dan juga pelatihan, penghargaan, role model, dan sebagainya. Komunikasikan  terus menerus dengan komunikasi yang berbeda-beda.
    3. Training and development. Melakukan pelatihan untuk penguatan dan pengembangan kapasitas.
    4. 3. Rewards. Memberikan penghargaan kepada staf yang berprestasi.

    Itulah 4 proses yang akan membantu sistem untuk budaya menjadi konsisten. Untuk selengkapnya, tonton ya video rekamannya.

  • 6 LEMBAGA TOP DI KEGIATAN IDEA PITCHING STAGE

    Selamat atas terpilihnya  YP3 Papua, Econusa, Yayasan MDPI, Transformation, The Conservation, dan YASIWA, sebagai Top 6 lembaga yang berkesempatan mendapatkan dana kampanye sebesar Rp5.000.000,00, meluncurkan kampanye sosial di aplikasi Campaign #ForChange, dan kerja sama, jika masuk dalam jajaran Top 3.

    Kolaborasi Lingkar Madani dan Campaign.com tidak berhenti pada webinar saja. Enam lembaga nirlaba terpilih untuk mengikuti Idea Pitching Stage “Revolusi Digital Kampanye Sosial”. Enam lembaga dengan penilaian tertinggi yang dinilai selama pelatihan berlangsung.

    Pada hari Kamis, 7 April 2022, enam OMS tersebut (Top 6) mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan visi dan misi lembaga, program kampanye sosial dan tujuan, platform media sosial yang digunakan, dan lainnya kepada Campaign.com dan Lingkar Madani, serta peserta.

    Keseruan tersebut, kamu bisa saksikan via tautan YouTube di bawah ini. Top 6 lembaga yang keren-keren semua. Kamu juga bisa melihat bagaimana penilaian dari Tim Campaign.com dan Tim Lingkar Madani, dan siapa yang menjadi Top 3.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 4 “DARI DATA JADI VISUAL INFOGRAFIS YANG MENARIK”

    Yosep Suprayogi bilang, “Visual dapat meningkatkan keinginan membaca sampai 80%.” Pada dasarnya, manusia itu spesies visual, jadi senang dengan sesuatu yang lebih menarik atau menonjol dibandingkan teks. Wajar saja kalau laporan juga butuh gambar, salah satunya dalam bentuk infografis. Lantas, bagaimana mengubah data jadi informasi yang menarik dan mudah dipahami?

    Selasa pagi rasa es Shanghai, banyak isinya dan menyegarkan, begitulah serial pelatihan laporan efektif sesi keempat pada tanggal 29 Maret 2022. Sebenarnya, belajar infografis bisa dari YouTube, tapi belum tentu materi yang diberikan seperti kuliah desain, apalagi yang berhubungan dengan laporan organisasi atau penelitian.

    Yosep, pengajar pelatihan kali ini, membahas bagaimana mengemas data dan 4 langkah infografis. Urusan data, Yosep membagi kelompok informasi ke dalam kuadran yang biasa digunakan para jurnalis, terdiri dari:  data tidak penting dan tidak menarik, tidak penting dan menarik, penting tapi tidak menarik, serta  penting dan menarik. Fungsi kuadran tersebut  memudahkan  kita memilah dari banyaknya data yang diperoleh, untuk ditampilkan pada infografis.

    Sebelum melangkah membuat infografis, kita perlu tahu bagaimana visual bekerja secara menarik dan tidak menarik:

    1. 1. Ketika mengubah informasi atau data menjadi visual, tetap menggunakan bahasa verba.
    2. 2. Harus ada judul. Usahakan judul yang “terang menderang”.  Penulisan pada judul ditonjolkan dengan warna huruf yang berbeda. Judul bisa menggunakan bahasa pelesetan, misal Kolesterol jadi KolesTelur.
    3. 3. Harus ada penjelasan, tidak perlu panjang.

    Selain di atas, kita harus mengetahui ragam bentuk grafis. Jadi, nggak akan berlama-lama menentukan jenis apa yang akan digunakan.

    Saat siang, pengajar menunjukan bagaimana  kelebihan infografis yang bisa dipakai dalam bentuk tulisan apa pun, contohnya buku. Masih terkait data, ia mengingatkan bahwa data perlu disortir dan kita mesti memiliki kerendahan hati, tidak semua data bisa ditampilkan.

    Berikut tahapan membuat infografis:

    1. 1. Ide,
    2. 2. Menetapkan angle dan outline,
    3. 3.Menetapkan bagaimana menceritakannya,
    4. 4. Menetapkan jenis grafis,
    5. 5. Melengkapi elemen visual atau narasi.
    6. Dalam menyiapkan data, harus perhatikan apakah data yang ditampilkan menunjukan tren, peringkat, pola, perbandingan/versus; apakah dalam artikel ada proses, bagan, dan area; apakah ada narasi yang disiapkan berupa poin-poin.

    Tidak ada ilmu yang sia-sia, apa pun profesinya, semua pengetahuan bisa dipelajari dan diambil manfaatnya. Terima kasih Tempo Institute.

  • WORKSHOP #2 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “STRATEGI MENYUSUN AMPLIFIKASI DIGITAL”

    Ada kosakata “amplifikasi” pada judul pelatihan seri Revolusi Digital Kampanye Sosial Sesi Kedua. Kata tersebut mempunyai arti perluasan atau pengembangan, jika dikaitkan dengan topik, bermakna, kampanye sosial yang terjangkau luas, atau bisa dikatakan banyak dibaca atau dilihat orang. Barajiwa Anggit Sentausa, Editor KokBisa, narasumber pelatihan sesi kedua, memberikan materi bagaimana Strategi Menyusun Amplifikasi Digital, pada tanggal 25 Maret 2022 via Zoom Meeting.

    Menurut Barajiwa, kebanyakan konten edukasi yang bertebaran di media sosial itu berbentuk video. Tidak mudah membuat video, kita perlu menyusun alur, dan hal lainnya. Namun, hal itu menjadi tantangan, ditambah bagaimana memproduksi konten edukasi yang ditonton orang banyak.

    Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali audiens atau persona. Sebab, setiap konten punya audiens masing-masing. Kita harus tahu tujuan atau cita-cita, kesibukan dan hobi, tontonan yang disukai, misalnya, juga kapan waktu menonton dan platform yang mereka gunakan. Dari persona tersebut, kita dapat menggali elemen-elemen untuk menentukan topik, judul, gaya penyampaian, sampai soal musik, figur yang disukai, dan durasi konten, dan sebagainya. Lalu, Barajiwa dan tim campaign.com memberikan worksheet yang perlu diisi oleh peserta. Beberapa kolom yang perlu diisi tidak hanya segmentasi, target, dan posisi, tapi juga persona tentang gender, usia, lokasi, dan pekerjaan, kebiasaan, serta kanal yang sering dipakai.

    Langkah kedua, setelah konten dipublikasi, kita melakukan analisa, mengapa sedikit ditonton atau sebaliknya. Setiap platform mempunyai alat analisis yang bisa digunakan sebagai ukuran seberapa besar konten yang tersebut menjangkau audiens, misalnya.

    Langkah ketiganya, bikin konten. Kunci dari konten yang berhasil adalah kekuatan cerita. Kita harus berpikir kreatif agar konten edukasi tidak membosankan, tapi justru menarik perhatian. Barajiwa bilang walaupun konten yang disampaikan edukatif, namun, perlu disampaikan secara menghibur. Contoh bikin video biologi dengan judul Kisah Duel Abadi Ayam vs Telur. Atau konten pelajaran fisika dengan judul Kisah Keajaiban Pesawat Terbang. Bagaimana menurut kamu, menarik, ‘kan? Pada bagian ini yang terpenting ialah konten harus logis.

    Membuat storytelling yang menarik perhatian, tidak hanya menyontek dari literatur, tapi kita perlu memahami, dan rajin membaca buku, atau majalah, atau koran, bahkan postingan orang lain. Serunya, narasumber tidak pelit membagikan “rahasia” kesuksesan storytelling-nya KokBisa. Tenang saja, kamu yang tidak ikutan workshop kedua, kami akan bisikan di sini. Ssst, tahan nafas, ya.

    Kunci menyusun storytelling, pertama, entertaining first, tahu, kan Bahasa Indonesianya? Jadi, bikin dulu orang penasaran dengan pembukaan yang menghibur atau jenaka, baru berikan edukasinya. Kedua, hindari jargon atau istilah rumit, gunakan bahasa sederhana. Kita menulis untuk dimengerti, bukan untuk terlihat pintar. Kalau mau tetap pakai jargon, kita harus menjelaskannya. Ketiga, gunakan analogi biar pesan yang ingin disampaikan semakin dipahami audiens. Keempat, berikan contohnya. Kelima, gaya bercerita atau penyampaian yang menarik, antusias, dan menggunakan perspektif kita agar pembaca merasakannya.

    Selamat mencoba, ya, teman-teman. Kalau  gagal, bikin lagi, sampai kita semua sukses mengkampanyekan program-program organisasi.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 2-3 “PRINSIP LAPORAN EFEKTIF DAN RINGKASAN EKSEKUTIF”

    Kahoot.it, sebuah aplikasi interaktif, membuka  pelatihan untuk mengingat materi hari kemarin. Media pembelajaran ini sebetulnya sederhana, tapi interaksi yang tercipta dan soal yang diciptakan Tim Pengajar Tempo Institute, merangsang peserta melihat kemampuan diri tentang kalimat efektif dan menyunting tulisan.

    Pada hari kedua, Serial Pelatihan Laporan Efektif, Sesi Kedua, bersama dua narasumber yang terbagi lagi menjadi dua materi, yakni, pertama, Prinsip Laporan Efektif dengan pengajar Philipus Parera, yang dimulai pukul 9 sampai 12 siang, dan kedua, Teknik Menulis Ringkasan Efektif, Yandhie Arvian, 13.00—15.00 WIB.

    Selain laporan harus mudah dipahami dan menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik, kita juga harus tahu sasaran pembaca, penggunaan informasi yang tepat, gaya laporan, dan berpikir impak yang akan diperoleh. Menurut Philipus, laporan efektif itu menyampaikan permasalahan yang bisa dimengerti oleh pembaca, sama halnya dengan penggunaan data atau informasi. Judul, ringkasan eksekutif, dan pendahuluan pun harus selaras.

    Kemudian, ia menjelaskan bahwa judul laporan mempunyai peran besar. Maka, sebuah judul perlu menggambarkan masalah yang dihadapi atau dapat menyampaikan pesan utama. Philipus memberikan contoh-contoh judul yang dapat mudah ‘ditangkap’ pembaca dan yang tidak.

    Pembahasan selanjutnya tentang “ringkasan eksekutif” yang terdapat pada laporan, sebelum bab pertama. Ringkasan eksekutif adalah pernyataan singkat mengenai persoalan yang dibahas, mengapa penting, serta gambaran mengenai kesimpulan dan rekomendasi.

    Lantas, Philipus membeberkan Tiga Prinsip Laporan Efektif, yaitu: TemSetiap bagian harus terkait logis dengan tujuan atau pertanyaan laporan (judul, ringkasan eksekutif, isi, dan penutup),

    1. Pastikan pembaca yang sibuk, dapat memahami dengan mudah dan cepat (penggunaan kalimat deduktif dan efisien, dan mengenal audiens).
    2. Gunakan sebanyak mungkin bantuan untuk memudahkan pembaca, seperti infografis, foto, dan desain.

    “Ketika kita meneliti, kita menulis, dan kita berpikir seperti pembaca,” pesan Philipus kepada peserta, sebelum memberikan latihan soal.

    Siang harinya, materi dibawakan oleh Yandhie Arvian. Peserta mendapatkan latihan soal kembali. Kali ini, waktu yang diberikan cukup 5 menit. Peserta diminta membuat satu kalimat yang mencakup permasalahan atau pesan yang ingin disampaikan dan mengapa penting.

    Pembahasan selanjutnya, ia mencerahkan peserta perihal betapa pentingnya angle tulisan dan kesalahan penulisan yang sering kali terjadi.

    Pada hari ketiga (sesi 3), 24 Maret 2022, delapan hasil tulisan dari peserta yang telah masuk, disortir, lalu ditampilkan dan diulas oleh Philipus sehingga peserta dapat mempelajari bagian yang tepat dan tidak tepat.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 1 “KALIMAT EFEKTIF DAN SUNTING TULISAN LAPORAN EFEKTIF”

    Kita sudah tidak asing lagi dengan laporan, tapi apakah laporan yang kita tulis mudah dipahami pembaca? Laporan efektif pun tidak hanya dilihat dari sisi pemahaman, tapi juga kalimat efektif yang digunakan dan pesan yang tersampaikan. Berlatar belakang hal tersebut, Program Lingkar Madani berkolaborasi dengan Tempo Institute menggelar Serial Laporan Efektif sebanyak 6 sesi. Pada sesi pertama, 22 Maret 2022, topik yang dibawakan oleh pengajar kita adalah kalimat efektif dan menyunting tulisan.

    Awal pelatihan, Uu Suhardi, Editor dan Koordinator Redaksi Bahasa di Tempo Media Grup, memberikan kuis tentang kata baku, mana yang baku dan tidak, dari 20 pasangan kata. Mas Uu  lebih memilih box chat sebagai tempat peserta menjawabnya. Kumpulan kata baku yang diberikan itu sering kali bikin kecoh bila kita tidak mengenalinya, contoh: antara akta dan akte; resiko dan risiko; atau penalti dan pinalti. Kata tidak baku itu bukan berarti salah dan tidak boleh digunakan, tapi biasanya dipakai sebagai bahasa pergaulan atau bentuk tidak formil. Biar tidak tersesat antara baku dan tidak baku, kita bisa cek di laman:  https://kbbi.kemdikbud.go.id/

    Kemudian, Mas Uu menerangkan kalimat sempurna yang sekurang-kurangnya memiliki subjek (siapa) dan predikat (apa), yang bisa juga ditambahkan penjelasan (bagaimana dan mengapa). Contoh, kemarin saya pergi ke Gedung Tempo, Jakarta, menumpang mobil teman untuk mengikuti kelas menulis. Terlihat, kan, bagian subjek dan predikatnya?

    Kalimat efektif sendiri adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, dan lengkap serta cermat. Singkat berarti hanya menggunakan unsur yang diperlukan; padat, tidak berisi penggulangan kata; jelas, strukturnya teratur; lengkap, mengandung semua unsur pembentuk kalimat; dan cermat, menggunakan tanda baca dan pilihan kata yang tepat serta tidak menyimpang dari kaidah. Selain mengacu pada teori, tulisan yang efektif juga dilahirkan dari latihan menulis yang terus-menerus.

    Kalimat efektif pun tidak lepas dari penggunaan tanda baca. Kesalahan yang biasanya terjadi, misalkan dalam kalimat: Tahun ini, Joko sudah melakukan perjalanan ke Sumba, Flores dan Lombok. Yang  benar adalah “Tahun ini, Joko sudah melakukan perjalanan ke Sumba, Flores, dan Lombok.” Lebih jauh soal tanda baca, huruf kapital, kata serapan, dan lainnya, bisa kunjungi laman https://puebi.js.org/

    Tepat pukul dua belas, kegiatan dihentikan sementara untuk isoma, yang kemudian dilanjutkan pukul satu dengan  topik menyunting tulisan. Karena belajar menulis harus pratek, Mas Uu membagi beberapa kelompok untuk latihan menyunting. Tugas masing-masing kelompok langsung ditampilkan, loh biar peserta bisa belajar. Wah, seru banget pelatihan ini. Usai pelatihan bisa jadi editor, nih. Hehehe. Pastinya, setiap yang hadir pada pelatihan, mendapatkan materi yang diberikan via surel. Nyesel nggak ikutan?  Makanya, rajin cek surel dari kami, atau WAG Lingkar Madani.

  • STRATEGI KELOLA WEBSITE DAN E-MAIL RESMI LEMBAGA

    Narasumber pelatihan Online Presence for NGO, Sugeng Wibowo, 21 Maret 2022, mengajak setiap peserta untuk memperkenalkan diri kepada peserta lain. Peserta yang hadir cukup beragam, ada Koaksi Indonesia, Hutan Itu Indonesia, Photovoices International, GEMAPALA Fakfak, Planet Indonesia, dan banyak lagi.

    Sebagai ICT Spesialis, Sugeng ibarat mengajak peserta berjalan-jalan di dunia maya yang tidak berbeda dengan dunia nyata—ada rute, alamat rumah, tempat berkumpul, dan lainnya yang dianalogikan, misalnya, lahan itu server, bangunan itu website, domain itu alamat rumah—agar peserta mudah memahami. Nah, setelah punya rumah, kita harus merawatnya dengan baik, maksudnya dikelola secara baik.

    “Website yang tidak dikelola itu seperti rumah hantu,” ucap Sugeng Wibowo. Bagaimana mengelolanya agar muncul di mesin pencarian Google dan mengundang orang untuk berkunjung ke rumah kita?

    Semua itu harus didukung infrastruktur, sumber daya manusia, kebijakan lembaga, dan termasuk faktor eksternal. Menurut Sugeng, organisasi harus mengubah pandangan yang diikuti dengan mempersiapkan hal-hal tersebut, bertransformasi.

    Sugeng berbagi langkah yang terdiri dari visibility, credibility, dan agility. Visibility, berarti eksis. Manfaatnya besar, loh, keberadaan website ini. Pengunjung akan melihat informasi penting tentang lembaga dan lainnya yang kredibel, mudah menghubungi kita sehingga membuka potensi kolaborasi, bahkan pendanaan program.  Yang dimaksud dengan kredibel atau  Credibility adalah konten website yang menampilkan profil komprehensif, berbagi informasi yang akuntabel, dan lainnya, untuk membuat pengunjung percaya, kembali dan kembali ke website kita. Maka, lembaga mesti Agility, harus lincah!. Rajin berbagi informasi terbaru, respon cepat, berjejaring, dan tentu, berinteraksi via website ataupun e-mail. Sugeng menekankan bahwa lembaga tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama.

    Selain itu, ia tidak lupa memberikan langkah-langkah Mendesain Tata Letak Halaman Utama Website. Yang perlu diperhatikan adalah identifikasi komponen di halaman utama website.  Terdiri dari konten unggulan, konten dinamis, konten penting, konten visual, dan konten strategis. Yang sebelum itu, kita harus menyiapkan logo dan tagline lembaga; pilihan bahasa; navigasi; dan visualisasi identitas.

    Usai pemaparan, Sugeng mempersilakan peserta untuk berbagi pengalaman dan bertanya. Ternyata, hampir rata-rata telah memiliki website, tapi belum dikelola optimal. Ada pula yang SDM-nya merangkap mengelola website karena lembaga masih baru didirikan. Padahal, mengelola website itu perlu orang yang khusus, begitu pula dengan media sosial. Pastinya, lembaga harus membuat timeline pembangunan website dan editorial konten.

    Lembaga nirlaba saat ini sudah tak bisa lagi menghindari teknologi. Sudarwanto dari Program Lingkar Madani,kerap mengucapkan di setiap pelatihan, “Mari kita berproses bersama”. Jadi, tak usah malu, sungkan, apalagi malas untuk belajar demi masa depan yang lebih panjang.

    Cek terus kabar pelatihan terbaru kami di lingkarmadani.org atau e-mail kamu. Biar kita semua bisa memajukan program di era 5.0.

  • WORKSHOP #1 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “MENCIPTAKAN KAMPANYE YANG BERKELANJUTAN DI RUANG DIGITAL”

    Akun media sosial NGO selalu kalah dengan brand. Karena, tak ada komunikasi dua arah  dengan audiens. Brand lebih jago, kita tahu itu, tapi kita tidak mau terjun lebih lanjut.

    ~ Juris Bramantyo

    Juris Bramantyo mengajak peserta yang hadir untuk berkenalan dan menuliskan kampanye apa yang sedang dilakukan, melalui kotak percakapan di Zoom, pada sesi pertama serial pelatihan Revolusi Digital Kampanye Sosial, bertajuk Mengangkat Isu Keberlanjutan di Era Digital, 18 Maret 2022. Selanjutnya, Juris menggarisbawahi tema sesi ini mengenai bagaimana menciptakan kampanye yang berkelanjutan.

    Kampanye yang berkelanjutan berarti tidak hanya waktu singkat, loh, juga bukan sekedar projek atau eksistensi. Kampanye berkelanjutan itu harus ramah lingkungan, ramah sosial, dan menjamin ketahanan. Kampanye berkelanjutan bukan berarti hanya bicara lingkungan saja, tapi semua sektor. Malah, kampanye lingkungan belum tentu kampanye yang berkelanjutan jika tidak memenuhi hal tadi. Juris bilang inilah paradigma yang harus diubah tentang kampanye lingkungan adalah kampanye yang berkelanjutan.

    Berdasarkan KBBI, kosakata ‘berkelanjutan’  merupakan sinonim dari “lestari”, “tidak berubah”, “bertahan”, “kekal”. Nah, sebelum berkampanye, kita pahami terlebih dahulu definisinya, kita juga harus mengenal ‘arwah’ organisasi kita, seperti: isu khas organisasi; minat audiens; dan isu kesukaan kita pribadi—biasanya kita dengan mudah menciptakan kampanye kreatif, konsisten, dan melakukan kegiatan dalam kampanye, menjadikan kebiasaan, dan mendokumentasikan, lalu  membagikan ceritanya kepada audiens.

    Kita pun perlu hindari memetakan isu yang bisa bikin kampanye kita tidak berhasil dan tidak berkelanjutan. Menurut Julius, isu yang berdiri sendiri harus diubah menjadi isu mainstreaming, maksudnya, dikawinkan dengan masalah-masalah yang dekat dengan masyarakat, atau yang mudah dipahami, sehingga menjangkau audiens lebih luas,  misal isu kelapa sawit dengan kecantikan, isu krisis pangan dengan hobi makan enak, isu sampah dengan pariwisata, dan sebagainya.

    Serunya lagi, Julius membagikan cara membuat kampanye berkelanjutan, yaitu: SMART. Ini bukan nama aplikasi, ya. Melainkan, SMART (specific, measurable, achievable, relevant, time bound). Dan, Kunci sukses berdigital, yaitu:

    • – Bangun narasi yang kuat,
    • – Pilih kanal da aktivitas yang tepat,
    • – Produksi konten dan kegiatan yang memikat,
    • – Buka ruang untuk bereksperimen dengan kreativitas dan inovasi yang cepat. Misal di kalimantan ada giliran mati lampu, apa yang baik, misal buka kelas whatsapp.
    • – Bangun komunikasi dan interaksi dua arah agar audiens selalu merasa terlibat
    • – Pelajari ekosistemnya dan gunakan beragam alat
    • – Perbarui data dan terapkan strategi yang menguntungkan dengan cermat.
    • Hmm, masih banyak lagi yang dibeberkan secara detil oleh narasumber. Belum  ditambah kisi-kisi dari fasilitator Ahmad Azis (Engagement Lead, Campaign.com) dan Anugerah Putra (Outreach Manager, Campaign.com).

    Kamu kecewa karena nggak sempat bergabung? Tenang, masih ada workshop minggu depan, dan tugas yang akan dibahas pada kesempatan dan bisa dilihat di sini

    Pantau terus kegiatan Program Lingkar Madani di website ini. Kegiatan ini merupakan kerja sama Yayasan Penabulu dan Campaign.com.