Author: Pipit Zaenudin

  • BELAJAR MEMAHAMI TEKNIK PENYUSUNAN LAPORAN PAJAK

    Pada awal pelatihan keuangan Teknik Penyusunan  Laporan Pajak Badan, sesi 8—9, narasumber Hadi Prayitno, Ak.,CA, menyampaikan bahwa per 1 Maret 2022, laporan SPT PPh Badan secara manual sudah tidak digunakan lagi. Tak hanya itu, dari sisi penyusunan laporan pun ada perbedaan dengan sebelumnya, dan ada beberapa hal yang menyebabkan koreksi fiskal. Lantas, bagaimana cara mengimplementasikannya di laporan pajak badan?

    Negara kita sedang menuju ‘Indonesia Maju’, otomatis pemanfaatan teknologi semakin dioptimalkan, salah satunya soal pelaporan pajak. Jadi, korporasi maupun lembaga nirlaba, mau tak mau, harus beradaptasi dengan perubahan, dan terbiasa mengisi laporan melalui digital. Kini, laporan pajak orang pribadi dan badan, menggunakan aplikasi yang bisa dilihat di sini. 

    Pelatihan keuangan yang telah terlaksana pada tanggal 15—16 Maret 2022, via Zoom Meeting, bersama 2 narasumber, Hadi Prayitno, Ak.,CA., dan Ahmad Sofyan, serta fasilitator Paul Mario Ginting  yang juga berpengalaman di bidang keuangan organisasi, memang tidak mencapai 100 peserta. Namun, peserta yang tak pernah absen dari webinar dan pelatihan sesi 2—9, menunjukan keseriusan mereka untuk belajar dan siap beradaptasi, menyongsong masa depan yang kian penuh kompetisi dan juga kemudahan.

    Kembali ke materi di awal paragraf, laporan keuangan organisasi tidak serta-merta menjadi dasar untuk pelaporan pajak. Terlebih dahulu, harus rekonsiliasi fiskal atau bahasa mudahnya dikonversi sesuai standar akuntansi di Indonesia, menjadi laporan keuangan menurut UU pajak.

    Yang perlu diperhatikan, apabila penerimaan organisasi banyak dari donor, hibah, wakaf, dan lainnya, atau pengeluaran lebih besar dibandingkan penerimaan, maka tidak termasuk objek pajak, karena bukan penghasilan. Jika, organisasi punya pemasukan lain, misalkan dari fundraising, harus dicermati, apakah penerimaan lebih besar daripada biaya pengeluaran. Andaikan lebih besar, berarti organisasi kita harus membayar PPh badan sesuai tarif pada pasal 17 (22% X laba fiskal). Jadi, ketika membuat laporan keuangan, kita sudah dapat memprediksi, apakah organisasi kita akan dikenakan PPh badan atau tidak.

    Kemudian, Ahmad Sofyan, masih terkait  laporan keuangan, bercerita pengalamannya, 7 dari 10 orang keuangan yang ditemuinya tidak memahami UU pajak NGO. Dan, seorang keuangan  pun harus up-to-date. Hmm, rugi jika ada yang tidak ikut serial pelatihan ini, karena materi yang dipaparkan semuanya berdasarkan peraturan terbaru.

    Sebelum menghitung dan menyusun laporan keuangan UU pajak, kedua narasumber memberikan pemaparan. Sebab, tidak mungkin menyusun laporan keuangan tanpa adanya pemahaman tentang undang-undang, pengertian istilah, dan lain-lain.

    Yang seru dari serial pelatihan ini adalah ketika sesi tanya jawab. Nggak hanya tentang pajak atau keuangan, soal NPWP pun dapat dijawab oleh narasumber. Dan, pertanyaan terus bergulir, narasumber pun menceritakan kasus-kasus yang pernah ditemuinya. Selain itu, Paul Mario Ginting sebagai fasilitator, sukses memantik peserta untuk bertanya. Ia juga aktif bertanya yang menambah wawasan peserta.

    Pada akhir sesi 9, Hadi Prayitno, Ak.,CA dan Ahmad Sofyan mengucapkan apresiasi sebesar-besarnya kepada peserta  yang hadir dari awal sampai sesi akhir. Semoga   dapat menambah kemampuan para mitra dalam menyusun laporan keuangan organisasi nirlaba.

    Serial pelatihan keuangan kali ini digagas dan dilaksanakan Program Lingkar Madani yang dikelola Yayasan Penabulu dan didukung oleh The David and Lucile Packard Foundation. Tunggu, webinar dan pelatihan kami selanjutnya, ya.

  • PERBEDAAN PPH 23 DAN PASAL 4 AYAT 2

    Pelatihan Serial Keuangan Sesi 7 perihal Pajak Penghasilan berlanjut dengan 2 topik, yaitu PPh 23 dan Pasal 4 Ayat 2, yang digelar pada tanggal 10 Maret 2022, oleh Program LIngkar Madani yang dikelola Yayasan Penabulu, bersama narasumber Tax Trainer, Ahmad Sofyan.

    Ada perbedaan antara PPh 23 dan Pasal 4 Ayat 2 yang perlu dipahami OMS. Itulah yang ditekankan Ahmad Sofyan kepada peserta untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan pajak.

    PPh 23 adalah pajak pemotongan yang dikenakan pada penghasilan terkait penyertaan modal, sewa dan penggunaan harta selain tanah dan bangunan, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, bukan yang telah dipotong PPh 21. PPh 23 dikenakan atas penghasilan yang diterima oleh suatu badan, berbeda dengan PPh 21 yang dikenakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi.

    Sedangkan Pasal 4 ayat 2 berupa penghasilan:

    • – Bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;
    • – Hadiah undian;
    • – Transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;
    • – Transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan
      Penghasilan tertentu lainnya yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

    Kemudian, Ahmad Sofyan, ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman peserta terhadap penghitungan dengan memberi latihan contoh yang langsung dikerjakan bersama. Dilanjutkan cara mengisi Bukti Potong di aplikasi yang dapat diunduh via tautan https://klikpajak.id/aplikasi-pajak-online/e-bupot-unifikasi/.

    Pelatihan daring ini dimulai dari pukul 09.00 sampai 12.45 WIB, seperti kemarin, waktu kegiatan melewati batas yang ditentukan.

    Terima Kasih Ahmad Sofyan dan peserta dari Mitra Program Lingkar Madani yang aktif dan tak berhenti bertanya. Sampai jumpa di program coaching dan program lainnya.

  • PELATIHAN REFORMASI PAJAK PENGHASILAN UNDANG-UNDANG HARMONISISASI

    Edukasi dan sosialisasi Undang-undang Harmonisasi Peraturan Pajak (UU HPP) sejak 1 Januari 2022, merupakan reformasi Perpajakan Penghasilan (PPh), perlu digiatkan agar dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat, termasuk organisasi nirlaba. Untuk mengakomodirnya, Program Lingkar Madani melangsungkan Pelatihan Serial Keuangan Sesi 5 dan 6, bersama Ahmad Sofyan, Tax Trainer, dan Mario Ginting, fasilitator, dari Yayasan Penabulu, pada tanggal 8 – 9 Maret 2022, melalui Zoom meeting.

    Siapa dan apa saja yang dikenakan PPh terbaru tersebut dan bagaimana perhitungannya, inilah materi dalam pelatihan yang dilakukan selama 2 hari. Pada hari pertama, Ahmad menerangkan definisi dari kelompok: Pegawai Tetap dan Tidak Tetap; Bukan Pegawai; Penerima Pensiun Bulan; Bukan Pegawai Tertentu; dan lainnya, bersama contoh kasus. Misal, Yayasan Penabulu mempekerjakan seorang staf yang juga bekerja di tempat lain, apakah dikenakan pajak lebih besar atau kecil, apakah uang makan yang dimasukan ke dalam kategori biaya belanja dikenakan pajak, dan bagaimana syarat untuk pekerja yang single parent yang membantu orang tuanya agar tidak dikenakan pajak, dan contoh lainnya yang kemudian muncul banyak pertanyaan sehingga terjadi interaksi aktif antara narasumber dan peserta.

    Pada hari kedua, Ahmad memberikan contoh soal PPh 21 yang harus dikerjakan peserta secara kelompok. Peserta dibagi beberapa kelompok dan mengerjakan langsung bersama di breakout room, lebih dari 30 menit. Pada sesi ini, Ahmad Sofyan, berpindah dari ruang yang satu ke ruang lain, membantu peserta.

    Selesai sesi tersebut, narasumber melanjutkan contoh soal PPh 21 yang tadi diberikan. Bermacam profesi seperti pengacara, atlit, dewan pengawas, dan lainnya, atau seseorang yang banyak tanggungan, dibahas agar seluruh peserta memahami.

    Pelatihan dilanjutkan dengan cara pengisian pajak di e-SPT Pajak Penghasilan Pasal 21 – 26, yang terdapat e-Billing, surat setoran elektronik pajak. Terakhir, narasumber memberikan cara pengisian dalam file yang harus disimpan minimal selama 5 tahun, dan yang dilakukan adalah meng-upload SPT melalui e-filing di situs https://djponline.pajak.go.id/.

    Silakan mengunduh e-SPT PPh 21 di sini.

    Peraturan pajak memang kerap berubah beberapa kali, namun, UU No, 7 tahun 2021, tentang Harmonisasi Peraturan Pajak, menerapkan sistem pelaporan dan pembayaran perpajakan yang lebih sederhana dan efektif. Meskipun, terlebih dahulu mesti mempelajari kategori dan kriteria pekerja yang dikenakan potongan pajak dan yang tidak.

    Pelatihan hari kedua dimulai dari pukul 09.00 sampai 13.00 WIB, melewati batas waktu yang direncanakan. Sebelum pelatihan usai, pertanyaan masih terus membanjiri di ruang chat. Narasumber, Ahmad Sofyan menyadari masih banyaknya peserta yang masih bingung maka ia berkomitmen untuk melakukan coaching untuk para mitra—hal ini diperkuat oleh Mario Ginting sebelum pelatihan ditutup oleh Sudarwanto dari Program Lingkar Madani.

    Terima kasih kepada seluruh Mitra Program Lingkar Madani yang telah hadir dan dukungan The David and Lucile Packard Foundation. Pantau terus kegiatan kami untuk meningkatkan kapasitas kita semua.

    Tujuan reformasi Pajak Penghasilan pada UU HPP:
    Perbaikan defisit anggaran dan peningkatan rasio pajak yang antara lain dilakukan melalui penerapan kebijakan peningkatan kinerja penerimaan pajak, reformasi administrasi perpajakan, peningkatan basis perpajakan, penciptaan sistem perpajakan yang mengedepankan prinsip keadilan dan kepastian hukum, serta peningkatan kepatuhan sukarela wajib pajak.

  • CERITA PELATIHAN SUSUN LAPORAN KEUANGAN DAN PERPAJAKAN SESUAI ISAK 35 ORGANISASI NIRLABA

    Orang Keuangan atau pimpinan organisasi, jangan sampai ketinggalan kereta soal keuangan.
    ~ Hadi Prayitno, Ak., CA

    Penyajian laporan keuangan berdasarkan ISAK  35 dan ragam regulasi terbaru untuk organisasi nirlaba, memiliki rumusnya tersendiri. Menginput data transaksi memang tidak mudah, tapi cukup memberikan tantangan bagi OMS, karena salah sedikit, salah semua. Instruktur pelatihan series “Menyusun Laporan Keuangan dan SPT PPh Badan sesuai ISAK 35”, Hadi Prayitno, Ak., CA, dengan kesabaranya membimbing peserta dari Mitra Program Lingkar Madani yang dikelola Yayasan Penabulu dan didukung oleh The David and Lucile Packard Foundation, selama 3 hari, dari tanggal 22–24 Februari 2022, melalui platform Zoom Meeting.

    Dari input data, membuat kode, penggunaan format pelaporan, sampai pemilihan software pelaporan keuangan, dibahas satu per satu. Pada hari pertama, Hadi, memperkenalkan cara menyajikan laporan keuangan sesuai ISAK 35, hari kedua, peserta sudah diminta menampilkan ‘PR-nya”, dan hari ketiga melanjutkan aktivitas hari kedua. Kita bisa melihat dari sesi tersebut, kesalahan-kesalahan pada saat menginput data transaksi.

    Rukmi Yati dari Yasiwa, Mitra Program Lingkar Madani, tidak sungkan, karena masih bingung di kolom mana harus menginput kumpulan dana pribadi, yang terdiri dari setoran anggota organisasi yang berada di pusat, yang disimpan sebagai dana pribadi. Termasuk pinjaman ke- dan pinjaman dari-, yang kemudian ditekankan oleh Hadi, bahwa kita harus bisa membedakan hal ini. Pun, uang program dan organisasi yang berbeda kolom dan kode. Apalagi, ia terbiasa menggunakan format laporan keuangan dari organisasi yang lebih sederhana dibandingkan format penyajian laporan yang diberikan Hadi. Namun, format yang biasa digunakan, tidak bisa memenuhi penyajian ISAK 35, mau tak mau Rukmi Yati akan menggunakan format terbaru dari Hadi. Wajar, Rukmi terus-terusan bertanya sampai ia memahaminya.

    Yoppy, peserta yang juga hadir, bertanya software apa yang baik untuk digunakan? “Pada intinya, apa pun software yang digunakan, asalkan sudah terdapat ISAK 35,” tegas Hadi, “jadi, terserah Anda atau organisasi mau pakai software apa, yang penting tidak kerja berulang-ulang.”

    Ada lagi, Iin dari SPKS, yang malah kesulitan pakai software dibandingkan manual. Sekali lagi, mau tak mau, sebagai orang keuangan atau pimpinan organisasi, harus menggunakan format yang ada ISAK 35.

    Setelah Iin, pertanyaaan atau komentar terus mendatangi, yang kemudian dilanjuti dengan Hadi yang membongkar template laporan keuangan untuk memperlihatkan kolom rumus-rumus, yang sebelumnya ia sembunyikan untuk menghindari kebingungan.

    Hadi juga mengingatkan kepada teman-teman peserta bahwa jika pakai excell, data dibuatkan dalam tabel, kemudian dikunci rumusnya. Kalau tidak dibuat, kita akan membuat lagi, mengulang-ulang pekerjaan.

    Ia berpesan agar kita selalu update keuangan dan rajin cari tahu, bisa melalui program Lingkar Madani, “Dengan senang hati, kami akan membantu teman-teman,” ucap Hadi Prayitno, Ak., CA, mengakhiri pelatihan.

    Simak video pelatihanHari 1 (sesi 2)Hari 2 (Sesi 3), dan Hari 3 (Sesi 4).

  • CERITA PELATIHAN SUSUN LAPORAN KEUANGAN DAN PERPAJAKAN SESUAI ISAK 35 ORGANISASI NIRLABA

    Orang Keuangan atau pimpinan organisasi, jangan sampai ketinggalan kereta soal keuangan.
    ~ Hadi Prayitno, Ak., CA

     

    Penyajian laporan keuangan berdasarkan ISAK  35 dan ragam regulasi terbaru untuk organisasi nirlaba, memiliki rumusnya tersendiri. Menginput data transaksi memang tidak mudah, tapi cukup memberikan tantangan bagi OMS, karena salah sedikit, salah semua. Instruktur pelatihan series “Menyusun Laporan Keuangan dan SPT PPh Badan sesuai ISAK 35”, Hadi Prayitno, Ak., CA, dengan kesabaranya membimbing peserta dari Mitra Program Lingkar Madani yang dikelola Yayasan Penabulu dan didukung oleh The David and Lucile Packard Foundation, selama 3 hari, dari tanggal 22–24 Februari 2022, melalui platform Zoom Meeting.

    Dari input data, membuat kode, penggunaan format pelaporan, sampai pemilihan software pelaporan keuangan, dibahas satu per satu. Pada hari pertama, Hadi, memperkenalkan cara menyajikan laporan keuangan sesuai ISAK 35, hari kedua, peserta sudah diminta menampilkan ‘PR-nya”, dan hari ketiga melanjutkan aktivitas hari kedua. Kita bisa melihat dari sesi tersebut, kesalahan-kesalahan pada saat menginput data transaksi.

    Rukmi Yati dari Yasiwa, Mitra Program Lingkar Madani, tidak sungkan, karena masih bingung di kolom mana harus menginput kumpulan dana pribadi, yang terdiri dari setoran anggota organisasi yang berada di pusat, yang disimpan sebagai dana pribadi. Termasuk pinjaman ke- dan pinjaman dari-, yang kemudian ditekankan oleh Hadi, bahwa kita harus bisa membedakan hal ini. Pun, uang program dan organisasi yang berbeda kolom dan kode. Apalagi, ia terbiasa menggunakan format laporan keuangan dari organisasi yang lebih sederhana dibandingkan format penyajian laporan yang diberikan Hadi. Namun, format yang biasa digunakan, tidak bisa memenuhi penyajian ISAK 35, mau tak mau Rukmi Yati akan menggunakan format terbaru dari Hadi. Wajar, Rukmi terus-terusan bertanya sampai ia memahaminya.

    Yoppy, peserta yang juga hadir, bertanya software apa yang baik untuk digunakan? “Pada intinya, apa pun software yang digunakan, asalkan sudah terdapat ISAK 35,” tegas Hadi, “jadi, terserah Anda atau organisasi mau pakai software apa, yang penting tidak kerja berulang-ulang.”

    Ada lagi, Iin dari SPKS, yang malah kesulitan pakai software dibandingkan manual. Sekali lagi, mau tak mau, sebagai orang keuangan atau pimpinan organisasi, harus menggunakan format yang ada ISAK 35.

    Setelah Iin, pertanyaaan atau komentar terus mendatangi, yang kemudian dilanjuti dengan Hadi yang membongkar template laporan keuangan untuk memperlihatkan kolom rumus-rumus, yang sebelumnya ia sembunyikan untuk menghindari kebingungan.

    Hadi juga mengingatkan kepada teman-teman peserta bahwa jika pakai excell, data dibuatkan dalam tabel, kemudian dikunci rumusnya. Kalau tidak dibuat, kita akan membuat lagi, mengulang-ulang pekerjaan.

    Ia berpesan agar kita selalu update keuangan dan rajin cari tahu, bisa melalui program Lingkar Madani, “Dengan senang hati, kami akan membantu teman-teman,” ucap Hadi Prayitno, Ak., CA, mengakhiri pelatihan.

    Simak video pelatihanHari 1 (sesi 2)Hari 2 (Sesi 3), dan Hari 3 (Sesi 4).

  • PEMANFAATAN IKLAN DIGITAL UNTUK MEMAKSIMALKAN UPAYA PENGGALANGAN DANA

    Pada hari Rabu, tanggal 18 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan penggalangan dana secara digital, dengan judul “Pemanfaatan Iklan Digital untuk Memaksimalkan Upaya Penggalangan Dana.” Sesi pelatihan ini merupakan sesi ketiga dan terakhir dari serial Pelatihan ”Digital Fundraising” yang diselenggarakan oleh Program Lingkar Madani – Yayasan Penabulu bekerjasama dengan Kitabisa.com. Materi terakhir ini merupakan materi pelengkap dan support atas materi dari dua sesi pelatihan sebelumnya.

    Pelatihan dibawakan oleh Marsudi Wijaya—biasa dipanggil dengan nama singkat Didi—sebagai Pemateri, beliau merupakan Head of Performance Marketing di Kitabisa.com.

    Didi sebagai Pemateri lebih senang dianggap sebagai ”teman diskusi” daripada disebut sebagai Narasumber, oleh karena itu Didi meminta dan berharap agar sepanjang sesi para peserta lebih aktif dan suasana kelas interaktif, tidak ada batasan untuk tanya jawab dalam sesi, baik melalui raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.

    Sesi diawali dengan permintaan agar peserta membuka aplikasi menti.com, lalu interaksi dilakukan dengan membahas beberapa hal, di antaranya: berbagi feeling (suasana hati) dengan simbol, perkenalan diri dan lembaga serta job description masing-masing; apakah nama email telah sesuai dengan nama lembaga/organisasi (namakamu@namalembagamu); apakah lembaga telah memiliki akun media sosial; apakah lembaga telah memiliki situs resmi (website); apakah lembaga pernah membuat/menjalankan iklan; jika sudah pernah beriklan, di media apa; apakah pernah mendengar tentang ”Google Ads Grant”; dan apa ekspektasi peserta pada sesi kali ini.

    Didi kemudian mulai masuk pada materi dengan pembahasan tentang 4 strategi memulai penggalangan dana yang terdiri dari; (a) Motivation, (b) Story, (c) Channel, (d) Network, yang pada gilirannya diharapkan juga dapat menyesuaikan dengan ”Momentum”.

    Dan 4 aspek lain dari “the most effective activation initiatives based on selected variables”:

    1. a + b + c = Ads
    2. a + c + d = P2P Events
    3. a + b + d = Influencers
    4. a + d = Peer-Fundings

     

    Dan materi pada sesi ini akan fokus pada inisiatif atas iklan berbayar (a + b + c = Ads).
    Lalu 3 hal utama yang harus disiapkan sebelum melakukan promosi/marketing/branding, dengan apa yang disebut 3P adalah: (1) Produksi, (2) Pendistribusian, dan (3) Pengukuran.

    Measurement (Pengukuran) menjadi sangat menentukan, contoh pada iklan yang bisa bagus, termasuk tujuan, gambar, warna dan hal-hal lainnya, sebab: ”if you can not measure it, you can not improve it”—Peter Drucker, 1909-2005.

    Sebelum mengukur, tentukan tujuan (objective), dan pada konteks Ads terdiri atas awarenesstraffic dan conversion. Sebelum menentukan tujuan (objective), tentukan dahulu channel iklan yang sesuai, contoh pada Facebook AdsTiktok Ads, Google Ads. Lalu bagaimana cara menentukan channel iklan yang tepat, dapat dengan visualisasi: (1) pembeli belum memutuskan akan membeli apa, maka kita yang menawarkan; atau, (2) pembeli sudah memutuskan untuk membeli apa, namun belum memutuskan brand/merk yang mana.

    Struktur iklan seringnya berbeda istilah namun sama pengertiannya, contohnya pada penggunaan istilah objectivetargeting, dan content berbanding dengan awarenessconsideration, dan conversion.

    Pengukuran efektivitas iklan dapat dilihat dari funnel ads sebagai objective yang dianggap penting, karena dalam tim butuh ”clarity and improvement”, kaitannya juga dengan ”team content”. Funnel Ads sebagai measurement team indicator dalah hal yang dapat dikontrol dan diperbaiki untuk meningkatkan performa iklan, program sangat penting namun marketing pun sama pentingnya.

    Selanjutnya pemateri menekankan pentingnya penggunaan “conversion tracking”, karena tanpa itu ”iklan akan boncos”. Maka pada pengelolaan website disarankan untuk menggunakan Google Analytics, dan contoh pemasangannya dengan cara: buka Chrome Ads On, ke Google Tag Managers, lalu Tag Assistent LegacyAd di BrowserDefault InstallEnableReloadResult Tag Analytics.

    Pada kesempatan berikutnya, Pemateri sekaligus membantu menganalisa masing-masing website lembaga/organisasi peserta, kemudian memberikan masukan untuk semua alamat website tersebut dengan menggunakan Google Analytics.

    Berikutnya pemateri kembali melakukan brainstorming terkait bentuk lembaga/organisasi peserta. Kemudian berbagi informasi dan solusi ketika ketika OMS tidak memiliki budget iklan dan lalu apa yang dilakukan. Salah satu solusi yang memungkinkan diakses adalah voucher gratis sebesar 10.000 Dollar AS atau setara dengan Rp150.000.000 per bulan. Didi juga membekali pemahaman peserta tentang bagaimana cara memperolehnya, termasuk menginformasikan seabrek syarat-syarat yang harus dipenuhi.

    Informasi lain yang juga disampaikan Pemateri adalah mengenai penggunaan Google Workspace yang dapat menjadikan email peserta terkesan menjadi lebih profesional sebab selain dapat menggunakan nama pribadi dan nama lembaga sebagai alamat email (namakamu@namalembagamu.com), namun dapat pula menampung hingga 2.000 akun email. Bagaimana akses Techsoup Indonesia untuk Google for Non Profit, enam langkah untuk mendapatkan Google Ads Grant gratis, jasa manajemen Google Ads Grant Management (contoh. Ranks Monster, dll).

    Sesi Pemateri ditutup dengan penawaran untuk konsultasi terkait materi sekiranya peserta merasa masih diperlukan pendalaman, termasuk bantuan jasa paket Google for Non Profit Management dengan pembiayaan maksimal sebesar Rp10.000.000 sudah termasuk website OMS, landing page, email lembaga/organisasi, dll.

    Pelatihan yang diikuti oleh 22 orang peserta dari 10 organisasi ini ditutup oleh David dengan mengingatkan pengisian polling, info kegiatan Coaching/Klinik, ucapan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh peserta, sharing ilmu/pengetahuan dan pengalaman oleh Pemateri, dan diakhiri dengan foto bersama.

  • KEBERHASILAN KAMPANYE PENGGALANGAN DANA DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA PRAKTIS

    Pada hari Kamis, tanggal 12 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan penggalangan dana secara digital, dengan judul “Keberhasilan Kampanye Penggalangan Dana dengan Menggunakan Kerangka Kerja Praktis.”

    Pelatihan dibuka oleh Furi Rachmawati (Kitabisa.com) sebagai Moderator yang memberikan pengantar kegiatan, sekaligus memperkenalkan dan membacakan biodata Pemateri, yaitu Fahri Amirullah yang merupakan CEO dari ”Impacts Digital,” sebuah perusahaan branding creative agency yang memiliki kepedulian pada isu sosial dan merupakan grup dari Kitabisa.com.

    Fahri memulai sesi dengan perkenalan 15 peserta yang berasal dari 7 organisasi, termasuk asal dan domisili serta bidang isu dari masing-masing organisasinya, sekaligus membahas Norma Kelas dan kesepakatan sesi diskusi dalam kegiatan daring tersebut. Setelahnya, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan apa yang disebut sebagai ”Kerangka Kerja Praktis” dan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi: (1) Pengenalan Crowdfunding; (2) Strategi Crowdfunding; dan (3) Ekosistem Crowdfunding.

    Fahri kemudian mulai masuk pada materi bahasan pertama yakni Pengenalan Crowdfunding, dengan menceritakan kisah inspiratif yang ada di Kitabisa dari sosok Uus (Uswatun Hasanah), seorang anggota dari panitia penerimaan mahasiswa baru di IPB yang melakukan penggalangan dana UKT untuk Ridho, calon mahasiswa baru yang kurang mampu. Penggalangan dana tersebut tidak hanya berhasil karena jauh melampaui ekspektasi target pengumpulan dana dari 5,7 juta rupiah menjadi 73 juta rupiah, namun juga menjadi pemicu dan pemacu beberapa aksi penggalangan dana lainnya yang kemudian berdampak positif pada banyak mahasiswa dan perguruan tinggi lainnya serta masyarakat umum, yang turut berkontribusi hingga menghasilkan penggalangan dana hingga lebih dari 1 Milyar Rupiah.

    Fahri juga menunjukkan beberapa slide presentasi dan pemutaran video penggalangan dana ”Bansos Ceban” serta contoh penggalangan dana lainnya baik yang berhasil maupun kurang berhasil. Secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan penggalangan dana ini menunjukkan masifnya ”Tren Generasi Filantropis,” sehingga mendudukkan Indonesia sebagai ”Negara Paling Dermawan di Dunia” dan mengukuhkan misi crowdfunding sesungguhnya yaitu Menghubungkan Orang Baik.

    Materi pertama ditutup dengan kegiatan Kuis menggunakan Kahoot.it dengan menjawab 5 pertanyaan yang dibuat oleh Pemateri dan dimenangkan oleh peserta atas nama Prisillia Morley dari Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) yang berhak menerima merchandise berupa kaos dari Kitabisa.com.

    Lalu Materi kedua adalah Strategi Crowdfunding; dimulai dengan menampilkan perbedaan mendasar di antara online shopping versus online donating yang terletak pada bagaimana orang menggunakan fitur pencarian di internet (melalui Google), yang menghantarkan pada beberapa aspek bahasan lainnya meliputi: Motivation, Story, Channel, Network, dan Momentum. Dijelaskan bahwa suatu penggalangan dana dapat menggunakan beberapa strategi, di antaranya: dengan menggunakan Influencer Campaign, Peer Funding Campaign, P2P Event-Campaign, dan Ads (Iklan).

    Adapun urutan sumber donasi yang dikaji oleh Kitabisa berdasarkan jumlah yaitu: Organik (dari motivasi internal, berita, media sosial), Iklan (Facebook/Instagram/Tiktok), Network/Peer-funding (teman, temannya teman, teman temannya teman), dan Influencer (dari followers-nya). Paparan materi kedua ini ditutup dengan tanya-jawab dan membahas beberapa hal, di antaranya tentang isu yang paling cepat dapat donasi untuk crowdfunding dengan isu utama adalah terkait Kesehatan, Bencana, Keagamaan, dan Aktivisme. Rata-rata modal (persentase) crowdfunding untuk membuat Ads (Iklan) di media sosial memiliki return of expense di kisaran 20%, atau 1:4 sampai 1:5.

    Adapun materi ketiga sekaligus terakhir adalah Ekosistem Crowdfunding. Di sini Pemateri memberikan gambaran besar kembali tentang betapa dermawannya masyarakat Indonesia. Sebagai contoh adalah kegiatan penggalangan dana di isu kesehatan dan sosial “Tanggap Covid19” yang melibatkan berbagai aspek sektor dan unsur komunitas, mulai dari: vendors, pemerintah, media, sektor kreatif, influencers, komunitas dan masyarakat, rumah sakit, OMS, brands, universitas dan event organizers. Maka penting untuk kita mengingat ”give, give, give, and take.” Salah satu contoh yang dimaksud give adalah bahwa dalam narasi dan/atau komunikasi yang dibangun untuk penggalangan dana, lebih baik “memberi bukan meminta,” misalnya, dengan membantu menjembatani isu/event yang menjadi keresahan dan atau yang disukai oleh influencergimmick apa yang disukai networks/influencers/brands/partners, lalu mencari/menemukan alasan mengapa mereka ingin mendukung penggalangan dana yang kita buat dan lakukan.

    Sesi ditutup dengan motivasi bahwa kedisiplinan sangat diperlukan pada konteks Penggalangan Dana. Hal ini bisa dimulai dengan kepemilikan lembaga/organisasi atas master dokumen yang terpusat, terus menerus melakukan latihan pemetaan sumber dukungan untuk program dan menjaga motivasi tinggi yang harus terus dipupuk-rawat serta lestarikan.

    Proses pelatihan ini ditutup oleh Moderator dengan menyampaikan pengumuman bahwa sesi terakhir pelatihan akan dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2021 jam 09.00–12.00 WIB dengan Pemateri Marsudi Wijaya (Head of Performance Marketing Kitabisa.com). Sesi diakhiri dengan melakukan foto bersama.

  • STRATEGI KOMUNIKASI FUNDAMENTAL UNTUK ORGANISASI NIRLABA

    Pada hari Senin tanggal 09 Agustus 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan Pelatihan Daring bertemakan Penggalangan Dana secara Digital, dengan judul “Strategi Komunikasi Fundamental untuk Organisasi Nirlaba”. Pada pelatihan kali ini, pemateri yang dihadirkan adalah Iqbal Hariadi yang merupakan Head of Brand and Communication Kitabisa.com

    Kegiatan dibuka oleh Furi Rachmawati (Kitabisa.com) sebagai Moderator yang memberikan pengantar kegiatan, sekaligus memperkenalkan dan membacakan biodata Pemateri.

    Mas Iqbal dalam hal ini sebagai pemateri kemudian melanjutkan dengan menginformasikan bahwa pada hari ini akan membawakan/ menyampaikan 4 modul, meliputi:

    1. 1. Communication strategy and brand positioning on social media;
    2. 2. Build social media persona;
    3. 3. Principles of content marketing;
    4. 4. Content creation and management.
    5. Beliau juga menjelaskan aturan main selama sesi berlangsung, termasuk tanya jawab yang dapat dilakukan spontan saat sesi berlangsung dengan mengisi kolom komentar di chat box, dan/atau menekan tombol ”raise hand.” Selain itu, dari keempat modul tersebut akan ada sesi break setelah Modul 2 selesai disampaikan.

    Modul 1 dimulai dengan pembahasan tentang “Branding and Social Media Marketing 101 for NGO” yang saat ini termasuk Dasar Fundamental untuk Organisasi, lalu beliau menceritakan sejarah singkat kitabisa.com, serta kemudian mengajak peserta menonton video bertema ”Diversity”, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

    Modul 2 adalah ”Build Social Media Personal,” dimulai dengan menyampaikan sebuah kata-kata motivasi dari Panji Pragiwaksono yaitu: “Sedikit lebih beda, lebih baik dari sedikit lebih baik.” Lalu Pemateri melanjutkan dengan membahas tentang tips ”tampil beda,” di antaranya dengan:

    1. 1. Menentukan persona target;
    2. 2. Menentukan masalah dan kebutuhan target;
    3. 3. Menentukan gaya komunikasi;
    4. 4. Menentukan format dan tujuan konten.
    5. Modul 2 diakhiri dengan sesi tanya jawab, dan break (istirahat) selama sekitar 10 menit.

    Modul 3 dimulai jam 10.30 WIB, membahas tentang “Principles of Content Marketing” dan sharing session tentang beberapa hal, di antaranya : Pertama, Prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam membuat konten; Kedua, Nonton bareng video tentang social experiment dengan tema ”ngobrol pertama kali dengan teman tuli” –> gestur (body language) itu penting; Ketiga, Mindset Pillars –> having media company mentalityoptimize marketing funnel (corong), and balance; dan Keempat, Sesi tanya jawab.

    Modul 4 membahas tentang “Content Creation and Management” dan kuncinya adalah:

    1. 1. Consistent content (asosiasi/ top of mind);
    2. 2. Experiment and iterate (mencari irisan yang akan disampaikan dan diterima oleh audiens).
    3. Lalu sesi diskusi dan penugasan mandiri untuk para peserta selama 10 menit yang dilanjutkan dengan presentasi dari perwakilan peserta. Modul 4 diakhiri dengan closing statement dari Pemateri.

    Moderator mengambil alih kembali sesi untuk kemudian menyampaikan beberapa hal, seperti ucapan terima kasih atas partisipasi aktif peserta serta pengumuman tentang sesi selanjutnya yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2021 oleh Fahri Amirullah (CEO Impacts Digital), bertajuk “Keberhasilan Kampanye Penggalangan Dana dengan Menggunakan Kerangka Kerja Praktis”.

    Suasana pelatihan berlangsung nyaman, hangat dan interaktif, diikuti oleh 20 orang peserta yang hadir dari awal hingga akhir sesi secara konsisten.

  • MENDESAIN DAN MENGINTERNALISASI BUDAYA ORGANISASI

    Pada hari Rabu, tanggal 28 Juli 2021, Yayasan Penabulu kembali menyelenggarakan pelatihan daring bertemakan Pembangunan Budaya Organisasi (Building Organisation Culture), dengan judul “Mendesain dan Menginternalisasi Budaya Organisasi.” Pelatihan dibuka langsung dan dibawakan oleh Pemateri, yaitu Ali Zaenal Abidin yang merupakan Co-founder dari ”I’m On My Way”. Pembukaan sesi pelatihan dimulai dengan perkenalan Pemateri, perkenalan dari keseluruhan 35 orang peserta, termasuk asal domisili dari masing-masing organisasinya, sekaligus membahas Norma Kelas dan kesepakatan sesi tanya jawab langsung dengan menekan tombol raise hand dan open mic maupun melalui chat box dan Q&A.

    Setelah itu, Pemateri mulai masuk kepada substansi pelatihan dengan paparan tentang tiga poin pembelajaran (learning point) yang meliputi: (1) Organization Identity; (2) Culture; dan (3) Internalization.

    Ali memulai penjabaran ketiga poin tersebut dengan membahas tentang Organization Identity (Zoom Out) yang merupakan Identitas, Elemen, Nama, serta Visual dan berfungsi untuk mengidentifikasi, melakukan/menarik, mencoba dan atau menguji/evaluasi (meyakinkan), pengambilan keputusan jangka pendek, utamanya dalam membangun hubungan. Disampaikan juga tentang unseen reality (fenomena gunung es) dengan mencuplik perkataan dari seorang filsuf sekaligus sufi ternama, yaitu Jalalludin Rumi yang mengatakan “everything you see has will roots in the unseen.” Ali juga menjelaskan bahwa semua hal bisa dinamakan atau diberi nama, baik hal tersebut bisa dilihat secara visual, maupun non-visual.

    Pembahasan langsung diikuti dengan sesi tanya-jawab yang beberapa rangkuman dari bahasan di sesi ini antara lain: setiap individu punya keunikan masing-masing (positif); kita mengetahui orang lain karena kita mengenalinya (dinamakan juga “interaksi produktif”); serta penjelasan tentang Quantity vs Quality di mana juga dijelaskan tentang peran dan pembeda antara Refleksi dan/atau Kontemplasi. Di sesi ini, Ali sebagai pemateri juga mengulang sekaligus mempertegas pembahasan tentang hal-hal non-visual/yang tidak terlihat namun dapat dirasakan/disadari keberadaannya dengan menambahkan bahwa pada akhirnya yang dianggap berarti adalah values (nilai/manfaat), serta jasa. Sesi ini ditutup dengan break time selama sekitar 7 menit untuk memberi ruang kepada peserta ‘mengendapkan’ apa yang baru saja mereka serap dalam sesi paparan dan diskusi.

    Setelah cukup dengan rehat sejenak, sesi pelatihan dilanjutkan dengan pembahasan tentang Culture (Zoom In) yang definisinya adalah sekumpulan dari nilai-nilai yang diimplementasikan secara konsisten oleh mayoritas atau keseluruhan populasi. Di dalamnya terdapat perilaku (behaviors) yang juga bisa dimaknai sebagai karakter dari budaya. Disampaikan bahwa nilai-nilai (values) bukan sekedar baik atau tidak, namun juga cocok atau tidak karena menyangkut pula dengan karakter, kepribadian dan juga kebiasaan di mana hal-hal ini lah yang juga menuntun perilaku, aksi, dan keputusan yang kita buat. Di ujung pembahasan ditegaskan bahwa mudah untuk menduplikasi produk, tapi tidak mudah melakukannya dengan budaya. Sesi ini ditutup dengan tanya jawab terkait beberapa hal, beberapa yang dibahas di sesi ini antara lain adalah kebijakan mengikuti budaya, bukan sebaliknya. Oleh sebab itu, disampaikan pula bahwa layanan yang diberikan oleh organisasi adalah juga merupakan produk dari budaya yang diinternalisasi.

    Pembahasan terakhir tersebut menjadi jembatan untuk segmen terakhir yang membahas tentang Internalization (Super Zoom). Diawali dengan paparan tentang cetak biru untuk internalisasi (blueprint for internalization), maka proses yang berlangsung di dalam suatu organisasi bisa dibagi menjadi dua hal: mesin (engine) dan komunikasi. Engine sendiri dapat dijabarkan menjadi: (a) Proses rekrutmen teknis dan non-teknis yang menyesuaikan dengan nilai organisasi. Patut dicermati bahwa sebaik-baiknya pemilihan adalah orang yang baik secara teknis dan nilai (value). Namun apabila harus memilih yang terburuk, maka minimal kriteria rekrutmen adalah pemilihan yang secara teknis kurang baik namun secara value baik.

    Berikutnya adalah tentang Appraisal yang dapat dilakukan dengan mengukur deskripsi/keterangan detail pekerjaan (job desc),  juga seberapa jauh staf menerapkan/berkonsentrasi kepada value yang telah ada dan atau didesain di Organisasi. Oleh sebabnya, diperlukan juga tahapan pelatihan dan pengembangan yang mampu membangun kepedulian pada perkembangan organisasi/SDM melalui nilai-nilai yang konsisten, bukan basa-basi, mengedepankan hospitality yang berujung kepada service excellence. Juga perlunya Penghargaan dan Pengakuan terhadap hasil kerja. Keempat hal tersebut merupakan proses di dalam organisasi yang bisa dimaknai sebagaimana mesin (Engine) yang menjaga keselarasan value dan kemudian mengubahnya menjadi Sistem.

    Hal yang kedua adalah tentang komunikasi (Communication) yang baik, berlangsung dua arah serta dipraktikkan secara berkelanjutan/reguler dan bukan pengumuman (announcement) semata. Paparan tentang internalisasi dalam organisasi ini ditutup dengan sebuah adagium, yakni ”Action Speaks Louder than Words” yang kemudian diikuti dengan sesi tanya jawab, terkait bebarapa hal di antaranya tentang bahwa Penghargaan dan Pengakuan kaitannya adalah berkaitan erat dengan hierarki dalam organisasi, di mana diberikan contoh bahwa jika terkadang atasan lah yang melakukan pelanggaran, maka akan menciptakan kesenjangan (gap) antara budaya serta value yang tertulis/termuat/tercetak/tertempel. Sesi ini ditutup dengan penyampaian bahwa “pemimpin ideal siap mengambil keputusan terbaik dan adil kendati tidak populer;” yang juga merupakan kata penutup dari Pemateri.

    Keseluruhan proses pelatihan ditutup oleh Rukita dari Tim Lingkar Madani dengan menyampaikan terima kasih serta apresiasi atas partisipasi aktif dari seluruh peserta, sekaligus menginformasikan tentang coaching/klinik, juga mengenai jadwal pelatihan selanjutnya dan diakhiri dengan foto bersama.

  • KIAT MENULIS UNTUK PERUBAHAN SOSIAL

    Pada 23 Juli 2021, Yayasan Penabulu menyelenggarakan pelatihan virtual “Kiat Menulis untuk Perubahan Sosial” sebagai. Dalam pelatihan ini Arief Aziz (salah satu pendiri dan Country Director dari Change.org Indonesia), selaku trainer, menjelaskan komponen penting terkait menulis untuk perubahan sosial, disertai studi kasus dan simulasi menulis.

    Disampaikan bahwa terdapat enam komponen penting dalam menulis untuk perubahan sosial. Pertama adalah JUDUL, dalam sebuah artikel atau subjek e-mail, disarankan untuk membuat judul yang membuat calon pembaca penasaran untuk membuka artikel atau undangan tersebut.

    Setelah judul, ada LEDE, yaitu kalimat pembuka sebuah tulisan, yang sebaiknya dibuat menohok agar pembaca tertarik untuk meneruskan membaca tulisan atau malah menutup browser. Tanpa LEDE yang menarik, kita bisa saja kehilangan separuh potensi audience.

    Ketiga, memberikan PERSONAL STORY. Dengannya, audience akan merasa lebih terhubung untuk mendukung atau membuat perubahan atas situasi yang sedang dianggap sebagai masalah. PERSONAL STORY memberikan sense of emotion kepada pembaca untuk kemudian tergugah dan memberikan dukungan terhadap perubahan.

    Komponen keempat adalah CRISIS atau masalah. Dalam menyampaikan pesan perubahan, penulis mesti menempatkan diri sebagai orang awam yang belum pernah terpapar isu tersebut. Perlu diingat, tujuan dari membuat tulisan melalui petisi adalah memperoleh dukungan dari masyarakat seluas-luasnya. Maka, tulisan sebaiknya dibuat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua orang. CRISIS juga akan lebih baik bila dilengkapi dengan data-data terkait kasus yang sedang dibahas dalam tulisan. Setiap masalah memiliki berbagai angle dan dalam menjabarkan CRISIS, penulis bisa memilih satu angle. Misalnya, dari sudut pandang pihak yang dirugikan atau sudut pandang objek kasus dengan metode personifikasi.

    Komponen kelima adalah SOLUSI. Setelah menjabarkan CRISIS dengan satu angle yang konsisten, maka penulis mesti menawarkan SOLUSI terkait permasalahan tersebut. Menceritakan CRISIS dengan satu angle dapat mempermudah penulis memberikan suatu SOLUSI yang konkrit. Terakhir adalah AJAKAN (call to action). Bentuk AJAKAN bisa berupa aksi tertentu, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan bisa juga ajakan untuk menandatangani dan menyebarkan petisi.

    Durasi training yang compact dan suasana pelatihan yang interaktif membuat 32 peserta yang hadir mampu secara konsisten mengikutinya dengan intens dari awal hingga selesai.