Author: admin

  • KENALI DIMENSI AKUNTABILITAS OMS SEBAGAI PRAKTIK AKUNTABILITAS DALAM ORGANISASI

    Pelatihan peningkatan kapasitas keorganisasian dengan tema \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\” kembali dilanjutkan pada Kamis, 6 Maret 2024, sesi kedua dengan topik \”Bagaimana Mempraktikkan Akuntabilitas Organisasi Masyarakat Sipil?\”. Masih bersama Sugiarto Arif Santoso (Direktur CSRO, Yayasan Penabulu) atau kerap disapa dengan mas Sugi, sebagai pelatih, di mana dihadiri 22 orang perwakilan OMS mitra Packard peserta program Lingkar Madani. Pelatihan intensif yang dilaksanakan secara online ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) jam dengan metode paparan dan diskusi interaktif melalui platform slido.

    \”Sebelum mengetahui cara praktik akuntabilitas terhadap OMS, kita perlu tahu dulu bagaimana situasi organisasi masyarakt sipil. Akuntabilitas organisasi ditunjukkan sejauh mana organisasi dapat mematuhi kebijakan eksternal yang mengatur dirinya dan nilai-nilai universal kemanusiaan, dan dapat mempromosikannya kepada pihak-pihak lainnya.\” ujar mas Sugi memulai pemaparan materinya.

    Ditengah paparan, mas Sugi mengajak para peserta untuk berdiskusi secara interantif melalui platform Slido. Salah satu pertanyaan yang diajukan lewat aplikasi tersebut adalah \”Apa tantangan organisasi untuk bisa menjadi organisasi yang akuntabel?\”. Peserta memberikan sejumlah jawaban di mana mengerucu pada organisasi harus memiliki keterbukaan, baik informasi, pengelolaan keuangan dan terkait pengelolaan sumber daya manusia, sehingga tidak ada yang hal yang perlu ditutupi dan transparansi organisasi bisa terjaga dengan baik.

    Melanjutkan diskusi asik tersebut, mas Sugi menambahkan beberapa hal yang perlu diingat terkait praktik akuntabilitas bagi OMS, yakni Akuntabilitas keuangan  yang mempertanggung-jawabkan penggunaansumber daya (dana) yang diperoleh dan dipercayakan kepadanya; akuntabilitas kinerja yang mendokumentasikandan melaporkan hasil-hasil yang diperoleh dan dibandingkan dengan standar-standarkualitas, sasaran, tujuan serta harapan-harapan yang ingin dicapai; akuntabilitas ucapan di mana kejujuran dan ketelitian mengenai apa yang disuarakan serta mempunyai otoritas untuk menyuarakannya; dan akuntabilitas untuk meningkatkan diri, yakni tanggap terhadap umpan-balik, melakukanevaluasi/assessment dan melaporkantindakan-tindakan yang diambil.

    Diakhir sesi kedua ini, mas Sugi memberikan penekanan bahwa partisipasi bermakna penting dalam akuntabilitas tata kelola organisasi. Melalui sebuah \”tangga partisipasi\” OMS terbantu untuk memahami bentuk-bentuk partisipasi dan keterlibatan seseorang dalam peningkatan akuntabilitas organisasi, mulai dari sebuah manipulasi yang dimaknai tidak berpartisipasi, hanya simbolisasi atau superfisial hingga pada partisipasi yang bermakna.

  • APA DAN MENGAPA AKUNTABILITAS TATA KELOLA BAGI ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL

    Mengawali tahun 2024, Lingkar Madani kembali meluncurkan pelatihan intensif terkait kapasitas keorganisasian dengan tema \”Akuntabilitas Tata Kelola Organisasi\”. Pelatihan ini akan diselenggarakan dalam 5 (lima) sesi, dengan menghadirkan pelatih Sugiarto Arif Santoso, Direktur CSRO Yayasan Penabulu.

    Pelatihan sesi 1 dilaksanakan pada Kamis, 28 Februari 2024 dengan topik \”Apa dan Mengapa Akuntabilitas Tata Kelola bagi Organisasi Masyarakat Sipil\”. Dihadiri oleh 21 orang perwakilan OMS Mitra Packard peserta program Lingkar Madani, Sugiarto Arif Santoso, kerap dipanggil dengan mas Sugi, mengupas dasar-dasar pentingnya akuntabilitas tata kelola bagi OMS.

    \”Akuntabilitas adalah suatu proses dimana suatu organisasi menganggap dirinya bertanggung jawab secara terbuka mengenai apa yang diyakininya, apa yang dilakukan, dan yang tidak dilakukannya, namun adapun tantangan yang dapat mendorong akuntabilitas yaitu kurangnya pengetahuan tentang tata kelola yang akuntabel, persepsi biaya yang mahal, Memakan waktu lama,\” ujar mas Sugi. Disamping itu, mas Sugi juga menjelaskan keberadaan akuntabilitas bagi OMS baik secara vertikal maupun horizontal.

    Lebih lanjut, mas Sugi memaparkan ragam tingkatan Akuntabilitas yakni secara personal, hubungan antar individu, kelompok, organisasi dan stakeholder. Kapasitas dengan tingkatan organisasi mencakup kinerja sebuah organisasi yang dilaksanakan atas dasar kerjasama kelompok dalam sebuah organisasi. Peran kelompok-kelompok ini, yang biasanya disebut divisi atau unit, menjadi penting dalam mencapai kinerja/ tujuan organisasi yang diharapkan.

    Melalui Slido, mas Sugi mengajak peserta untuk berdiskusi lebih dalam mengenai pengalaman dan situasi yang dialami oleh para peserta terkait akuntabilitas dan kinerja organisasi masing-masing. Salah satu yang muncul adalah pendapat peserta terkait minimnya sumber pendanaan yang mengakibatkan lemahnya upaya organisasi dalam meningkatkan tata kelola organisasinya. Hal menarik lainya dalam diskusi slido dan tanya jawab ini adalah besarnya perhatian peserta terkait peningkatan akuntabilitas tata kelola organisasi, di mana dari 3 pilihan; tata kelola, pendanaan, dan lainnya, 69% peserta memilih upaya peningkatan tata kelola organisasi.

    Di akhir sesi, mas Sugi memaparkan 6 manfaat menjalankan akuntabilitas bagi organisasi masyarakat sipil, yakni: (1) Memiliki sistem organisasi yang efektif, (2) Memiliki jaringan yang luas, (3) Mendapatkan pendanaan (domestik/ internasional), (4) Memperoleh kepercayaan dari stakeholder/ publik, (5) Memiliki posisi tawar, dan (6) Berkelanjutan.

  • WORKSHOP MENULIS LAPORAN EFEKTIF SESI 5-6 “MENGENAL DAN MERANCANG INFOGRAFIS DENGAN CANVA ATAU PIKTOCHART”

    Jika pelatihan kemarin, kita mempelajari aneka infografis, kali ini, Moerat Sitompul (Kepala Tempo Media Lab), pengajar serial pelatihan laporan efektif #5, memberikan gambaran infografis. Selain harus mengetahui jenis yang pas dengan cerita, infografis itu tidak harus kaku, tapi mesti leluasa.

    Entah berapa contoh infografis yang ditampilkan Moerat pada awal pelatihan. Grafik batang, garis, dan kue—paling sering digunakan desainer—masih ada balon, peta, diagram, dan hirarki, alur, simbol, serta pohon, kutipan, dan matriks. Satu desain infografis, bisa menggunakan grafik peta, kutipan, dan simbol, misalkan, bahkan dapat ditambahkan gambar atau foto orang yang terkait konten. Permainan warna pun penting, tidak hanya untuk menonjolkan melainkan memberikan perbedaan dari data yang telah dikelola.

    Berdasarkan pengalamannya bekerja selama 22 tahun di Tempo, hal utama yang perlu dimiliki oleh seorang desainer adalah memahami persoalan dan data yang akan diangkat pada infografis. Jika tidak, itu akan buang energi.

    Kemudian, ia membagikan tautan tentang tips dan trik membuat infografis, satu di antaranya yakni: infografis harus bercerita tentang sesuatu; sumber terpercaya; periksa silang akurasinya; pilih visualisasi yang tepat; berikan label; dan ringkas. Lebih jelasnya, bisa klik tautan ini www.bit.ly/PictoTempo

    Bagian kedua pelatihan, siang hari, sesi dilanjutkan dengan latihan menggunakan canva. Bagi kita yang bukan berprofesi sebagai desainer, aplikasi Canva ini sangat bermanfaat. Istilahnya, dari yang tidak bisa desain, jadi bisa. Melalui breakout room di Zoom Meeting, peserta saling bekerja sama dalam merancang infografis.

    Keesokan harinya, evaluasi hasil kerja seperti yang dilakukan pada materi sebelumnya, pengajar memberikan ulasan dan saran. Ternyata, infografis peserta nggak kalah keren loh dengan buatan desainer. Penasaran dengan materi ini? Silakan saksikan videonya. Terima kasih Tempo Institute, terima kasih Moerat Sitompul dan peserta. Semoga materi yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi organisasi kita.

  • WORKSHOP #3 REVOLUSI DIGITAL KAMPANYE SOSIAL “MENGUKUR DAMPAK DAN EFEKTIVITAS KAMPANYE SOSIAL DIGITAL”

    Tidak sedikit kampanye sosial yang tersebar di media sosial, baik yang berhasil maupun yang tidak. Sebelum menjalankan kampanye, kita mesti tahu metode untuk mengukur dampak positif bahkan negatifnya. Pertanyaannya, mengapa hal ini penting?

    Nah, topik tersebut diangkat oleh Emilia Tiurma Savira, Impact Measurement Enthusiast dari Indika Foundation dan Siti Fatimah Ayuningdyah, Sponsorship Outreach Manager Campaign.com, saat  Workshop #3 Revolusi Digital Kampanye Sosial, Jumat, 1 April 2022.

    Emilia bilang, “Jumlah follower yang banyak atau penggunaan tools yang canggih, belum tentu menentukan keberhasilan kampanye sosial.”

    “media sosial hanya salah satu cara saja, tidak semua hasil dilihat dari hape,” sambungnya.

    Hal pertama yang penting dilakukan adalah menentukan apa (what), siapa (who), dan mengapa (why), baru bagaimana (how). Misalkan, kampanye apa yang akan dilakukan; siapa targetnya; dan mengapa kampanye tersebut penting untuk mereka, bukan organisasi. Metode ini sama dengan yang digunakan untuk pembuatan konten. Dan kita harus yakin—biasanya yang masih bingung dengan “how”, berarti masih belum jelas what, who, dan why-nya.

    Lantas, apa kaitan antara kampanye dan monitoring serta evaluasi? Menurut Emilia, pembicara pelatihan kali ini, monitoring dapat mengukur target atau tujuan, mendapatkan respon positif atau negatif, kampanye harus dilanjutkan atau tidak. Evaluasi sendiri tujuannya untuk melihat apakah kampanye tersebut membawa perubahan, entah itu dari segi perilaku maupun kebijakan, tergantung dari tujuan kampanye.

    Seperti target jumlah orang yang tanda tangan  dan besaran dukungan yang diharapkan, bisa diukur melalui alat ukur yang digunakan di website organisasi. Berapa kali yang melihat, satu orang bisa berapa  kali melihat. Kalau sudah beberapa kali, berarti  orang tersebut tertarik.

    Monitoring media sosial bisa dilihat dari reach, impression, dan engagement, juga conversion to click dan conversation. Percakapan perlu monitor. Lantas, apa yang dievaluasi? Dibagi beberapa hal, yakni: return visit; sign up; upload foto; jumlah yang berdomasi;  dan active promoter.

    Sedangkan, monitoring non-medsos, misal: dukungan stakeholders kunci, bisa juga pelaku, dan page views.

    Sesi selanjutnya, Siti Fatimah Ayuningdyah, fasilitator workshop, menekankan pentingnya hasil monitoring dan evaluasi untuk investor atau pihak sponsor, apakah hasil kampanye memberikan dampak positif atau tidak. Jika mereka puas, tidak menutup kemungkinan, mereka akan kembali membantu program kampanye kita.

    Masih banyak lagi, pengetahuan dan strategi berkampanye sosial di digital yang dibagikan narasumber. Padat tapi mudah dipahami. Terima kasih Campaign.com, sampai jumpa di lain waktu.

  • Upskilling: Knowledge & Engagement Strategy for Non-Governmental Organization

    Berangkat dari kebutuhan OMS Mitra Lingkar Madani untuk dapat mengatasi tantangan di depan dalam keberlanjutan organisasi. Hal itu melingkupi aspek keuangan, resiliensi di tengah pandemi dan penguatan OMS.

    Atas kebutuhan tersebut, Lingkar Madani berinisiatif melakukan pelatihan pengembangan kapasitas internal bagi OMS Mitra di tanah Papua, yang mana dipandang perlu untuk mendukung kinerja dan keberlanjutan organisasi OMS Mitra dalam berbagai aspek, mulai dari aspek pendanaan/finansial, partisipasi publik, advokasi kebijakan, hingga strategi berjejaring dengan pemangku kepentingan.

    Pelatihan diselenggarakan secara luring (offline) pada 6 – 8 Maret 2023 di Sorong, Papua.

  • Pelatihan Luring: Penguatan Psikososial di Tempat Kerja, Bersama Angsamerah

    Di bulan yang identik dengan cinta ini, Lingkar Madani bersama Angasamerah telah melaksanankan Pelatihan bertajuk \” Work Life Balance\”.

    Work life Balance merupakan kegiatan luring pertama Lingkar Madani bersama 15 OMS Mitra terpilih di Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung dari13 sampai dengan 18 Februari itu, diikuti oleh para peserta yang merupakan pengelola sumber daya manusia (HRD) dan Staf dari masing-masing OMS. Komposisi pesertanya adalah 13 orang dari perwakilan HRD dan 27 orang dari perwakilan Staf.

    Dalam Work Life Balance para peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan memahami diri dan orang lain. Tiap peserta juga dibekali untuk mampu membangun sistem yang mendukung psikososial dan kesehatan mental di tempat kerja serta mampu berkolaborasi secara optimal dalam menjalankan roda organisasi.

    Tujuan pelatihan Work Life Balance itu sendiri adalah menciptakan keseimbangan, belajar membuat batasan dan menikmati gaya hidup yang memuaskan. Selain itu, para peserta diharapkan mencapai keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi yang berkorelasi positif dalam membantu mengelola stres dan menjalani hidup penuh cinta.

    A. TRAINING PENGELOLA SDM/HRD MEMBANGUN WELLBEING DI TEMPAT KERJA dalam MENCIPTAKAN WORK LIFE BALANCE

    Pelatihan ini disusun dan difokuskan bagi 15 manajer/pengelola sumber daya manusia (HRD). Mereka diajak untuk memahami peran diri dan professional, mengenal peran pengelola SDM/HRD, efektifitas serta batasan pengelola SDM dalam sebuah organisasi dan hal lain yang relevan;

    Harapannya, para pimpinan HRD dapat Memahami mekanisme dukungan pengelola SDM dan manajemen dalam menciptakan Work Life Balance, membangun sistem dukungan untuk karyawan sehingga lebih produktif dan Menyadari keuntungan dari keseimbangan kehidupan kerja.

    B. PSYCHOLOGY FIRST AID

    Pelatihan ini difokuskan bagi mereka yang bekerja dalam kapasitasnya sebagai staf. Dalam pelatihan ini, Staf telah mempelajari keterampilan hidup yang seimbang, baik secara mental maupun fisik, di tempat mereka bekerja.

    Tujuan dari sesi bagi staff adalah mereka mampu menciptakan kebiasaan yang membangun diri, menjadi pribadi yang produktif, kompromis, Belajar mengatakan TIDAK, Seni Delegasi dan Fleksibel dengan padatnya jadwal kerja. Peserta juga diharapkan mampu membantu dan mendorong orang lain untuk dapat mengakses bantuan professional dalam proses mitigasi stress,

    Harapannya, setiap staf mampu meningkatkan sikap dalam bekerja efektif dan mengelola stres yang berpotensi muncul dalam pekerjaan sehari-hari.

  • Work Life Balance

    Materi:

    1. Seberapa Mampu Aku Bertahan oleh Dr. Gina AnindyajatiDr. Gina Anindyajati
    2. Work Life Balance oleh Adhe Zamzam, S.Psi, C.CL CHt

    Dalam Webinar “Membangun Keselarasan Dunia Kerja dengan Kehidupan Pribadi dengan Peduli Pada Kondisi Diri – Work Life Balance”, Rabu 18 Januari 2023

  • Work Life Balance, Menyeimbangkan Kehidupan Kerja dan Pribadi

    Setiap manusia pasti mengalami stres. Bagi para pekerja, pekerjaan cenderung dianggap sebagai pemicu stres. Stres kerja adalah kondisi interaksi manusia dan pekerjaannya menciptakan adanya ketegangan dan ketidakseimbangan fisik serta psikis yang memengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seorang karyawan. Pendekatan individu dan organisasional dapat menjadi strategi dalam menciptakan keselarasan kehidupan pribadi dan pekerjaan, yang mana diperlukan teknik dan pola baru. Melihat kebutuhan ini, Yayasan Penabulu, melalui program Lingkar Madani, bekerja sama dengan Yayasan Angsamerah, menyelenggarakan webinar “Membangun Keselarasan Dunia Kerja dengan Kehidupan Pribadi dengan Peduli Pada Kondisi Diri – Work Life Balance, Rabu 18 Januari 2023, dengan menghadirkan Dr. Gina Anindyajati, Sp. KJ dan Adhe Zamzam, S.Psi, C.CL CHt.

    “Apa saja yang harus kita lakukan untuk menghadapi situasi pekerjaan agar tidak menjadi tekanan-tekanan tambahan yang membuat hidup kita semakin sulit”, ungkap Dr. Gina Anindyajati, yang biasa disapa dengan Dr. Gina, membuka paparanya tentang “Seberapa Mampu Aku Bertahan\” dengan beberapa contoh ungkapan curhat stres yang sering muncul di media sosial.

    Kenali apa itu ‘sehat’. Sehat itu sesungguhnya adalah suatu keadaan kondisi fisik, jiwa dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Demikian halnya bagi pekerja, ketiga hal ini menjadi acuan untuk melihat tingkat kesehatan dan kemampuannya dalam menghadapi berbagai tekanan atas kerja dan lingkungan pekerjaannya. Dengan kondisi fisik yang tidak fit maka akan memengaruhi suasana perasaan (jiwa) seseorang. Sebaliknya, dengan adanya gangguan ansietas, depresi dan tekanan perasaan lainnya yang mengakibatkan kondisi fisik yang tidak nyaman dan sakit. Kondisi inilah yang kemudian disebut sebagai gangguan psikomatis, yakni keadaan jiwa yang tidak sehat dan termanifestasikan pada kondisi fisik, seperti adanya sensasi “flying butterflies” di dalam perut, jantung berdebar lebih kencang dari biasanya, nyeri otot, dan imun tubuh melemah.

    “Mengelola stres dapat mengurangi gejala gangguan psikomatis, dan bisa dilakukan diberbagai tingkatan; baik secara individu, organisasi dan juga melakukan skrining secara rutin”. Ungkap Dr Gina, yang juga adalah seorang prikiater di Angsamerah Clinic.

    Self-care (merawat diri); misalnya dengan melakukan olah raga secara rutin, seperti yoga, Latihan ketahanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Contoh lainnya dengan melakukan relaksasi dan mengerjakan suatu hobi. Dengan melakukan ini, kita menumbuhkan perspektif bahwa tidak ada yang tidak bisa dikerjakan, hanya terkadang kita belum tahu bagaimana mengerjakannya.

    Self-care kadang disamakan dengan menyendiri, memanjakan diri, mengutamakan kepentingan pribadi dan kadang membangun sebuah to-do list self-care.

    “Padahal sejatinya, self-care itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar fisik dan mental sehingga fisik dan jiwa menjadi lebih baik. Self-care juga bukan berarti pelarian atas suatu kondisi yang belum kita selesaikan, melainkan dalam self-care itu adalah menemukan ketenangan diri lewat perawatan diri hingga fit dan mampu menghadapi kondisi atau persoalan yang dihadapi.” Jelas Dr. Gina.

    Mengelola stres pada tingkat organisasi dapat dilakukan dengan mengubah sistem organisasi melalui penilaian faktor risiko terkait pekerjaan atau psikososial yang mampu memengaruhi kesehatan jiwa dan fisik pekerja. Misalnya penilaian atas jenis dan beban pekerjaan, jadwal kerja dan keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi, budaya organisasi dan hubungan antar rekan kerja. Komitmen organisasi untuk menyeimbangkan ini juga sebaiknya diimplementasikan mulai dari tahap perencaan, pelaksanaan hingga observasi.

    Adhe Zamzam, S.Psi, C.CL CHt, biasa dipanggil dengan mba Adhe, mengajak para peserta membangun “Work Life Balance” melalui beberapa hal, diantaranya:

    1. Mengidentifikasi peran dirinya baik di keluarga, lingkungan sosial dan di tempat kerja serta lingkungan lainya, sehingga mampu menghadapinya sesuai dengan peran yang dimiliki.
    2. Memberi apresiasi positif bagi diri sendiri atas apa yang sudah dikerjakan.
    3. Membangun keseimbangan diri terhadap kerja dan pribadi baik terkait waktu, keterlibatan dan kepuasan.

    “Menang-kalah dalam kehidupan sudah kita hadapi tapi usaha menang tetap harus diusahakan,” Begitu kata mba Adhe. Hal ini juga dilakukan untuk menemukan life balance antara kehidupan pribadi dan kerja. Tiga sudut segitiga kehidupan yang perlu diperhatikan yakni: relasi, pekerjaan dan self-care.

    Webinar yang dihadiri oleh 44 orang, dari perwakilan organisasi mitra program Lingkar Madani dan juga publik, baik secara individu maupun mewakili lembaganya, ini berlangsung selama dua jam dengan penuh antusias dari para peserta melalui tanggapan dan pertanyaan. Kedua narasumber merespon setiap pertanyaan secara langsung maupun melalui kolom chat box.

    “Dengan memahami posisi keseimbangan domain kehidupan, maka kita juga dapat menyeimbangkan dan menyelaraskan antara kehidupan kerja dan pribadi,” Ungkap mba Adhe menutup paparannya dan sesi webinar kali ini.

  • Coping Mechanism

    Dipaparkan oleh Dr. Baby Siti Salamah, M.Psi., Psikolog dalam Webinar \”Mengenal dan Membangun Coping Stress\” pada tanggal 9 Agustus 2022

  • Kenali Stress dan Cara Mengelolanya

    Setiap manusia tanpa memandang status, usia, pendidikan, pasti mengalami stress, bahkan hewan pun merasakannya. Yang membedakan adalah bentuk, tingkat, dan cara menghadapi stress. Saat seseorang mampu mengelola stress dengan baik, kualitas hidupnya akan meningkat. Itulah sebab Lingkar Madani dan Angsamerah merasa penting mengajak Baby Jim Aditya menjadi narasumber dalam webinar “Mengenal dan Membangun Coping Stress”, Selasa, 9 Agustus 2022.

    Tubuh, pikiran, dan jiwa saling berkaitan dengan perilaku, dan saling memberikan efek, baik itu positif maupun negatif. Jika manusia berpikir keras, tak hanya tubuh yang mendapatkan impak, melainkan jiwa akan terganggu, dan otomatis perilaku berubah. Disinilah Coping stress mechanism berperan untuk menyimbangkan, karena hidup harus seimbang, karena manusia diberikan akal dan pikiran.

    Pertama yang harus dilakukan adalah mendeteksi stress. Langkah ini kemudian langsung dipraktikkan moderator, Adhe Zamzam, kepada seluruh peserta untuk mengutarakan perasaannya saat itu, menggunakan aplikasi menti.com. Kebanyakan dari peserta menuliskan “lelah” sebagai perasaannya, hal ini menunjukan kemampuan kita mendeteksi dan menuangkan perasaan. Tapi, stress itu bukan berdampak negatif saja, loh.

    \"\"

    Dr. Baby Siti Salamah, M.Psi., Psikolog, yang lebih dikenal dengan nama Baby Jim Aditya, menerangkan bahwa stress itu ada 2 macam, negatif (distress) dan positif (eustress). Eustress malah dapat meningkatkan semangat dan pencapaian kerja, bahkan kepuasan hidup. Seorang yang mengalami stress bisa menyalurkan dengan pikiran yang positif, dia justru bertambah semangat, mengalihkan pikiran negatif ke perilaku yang positif. 

    Distress bisa diubah menjadi eustress,” tegas Dr. Baby Siti Salamah, narasumber webinar kali ini, ‘tergantung pilihan kita,” sambungnya. Jadi pelabelan stress yang dihubungkan stress, harus mulai kita hilangkan. 

    Narasumber pun menceritakan kenyataan yang sering dibahas orang-orang itu ialah Psychological distress, yaitu perasaan yang tidak nyaman, ketidaknyaman jiwa, yang dapat berdampak pada pandangan negatif terhadap orang lain, lingkungan dan diri sendiri, juga kesedihan, kecemasan, bahkan sampai mengalami gangguan jiwa. 

    Lantas, bagaimana atasi stress menggunakan Coping stress mechanism?

    1. Appraisal focused. Langsung  menantang asumsi dan adaptif kognitif pada pikiran individu—terjadi jika individu memodifikasi cara berpikirnya, salah satu contoh: mengambil jarak dari masalah. 
    2. Problem focused. Bertujuan mengurangi sumber stress atau mengubahnya. Caranya: menemukan sumber masalah dan belajar cara baru untuk mengelolanya , mengendalikan, mencari info dan menimbang pro–kontra. 
    3. Emotion focused. Bertujuan  menantang emosi seseorang, belajar mengekspresikan perasaan dengan cara tepat, mengalihkan perasaan, mengelola perasaan yang keliru, mengelola perasaan, meditasi, relaksasi–bernafas itu penting, master of everything.


    Setiap manusia  punya kendali terhadap diri sendiri. Kita yang harus baik dan memberikan penghargaan pada diri sendiri. Dan mengelola stress itu harus latihan. Eits, ini ternyata ada ada kelasnya, loh. Tapi khusus buat Mitra Lingkar Madani, ya. Agar hidup makin menarik dan jauh lebih ringan. Sebelum webinar selesai, narasumber mengatakan, “Kalau stress tidak bisa dikendalikan sendiri dan
    support system, silakan cari bantuan profesional.”