Author: admin

  • Training Hacking and Managing Commitment: Utilize Scientific Factor for Team\’s Commitment bersama I\’m on My Way

    \"\"

    Pada 31 Maret 2021, Lingkar Madani bersama I’m on My Way melakukan pelatihan dengan tema Kepemimpinan dan Kemandirian. Pada seri pertama ini, mengambil topik Hacking and Managing Commitment: Utilize Scientific Factor for Team\’s Commitment yang dibawakan oleh Ali Zainal Abidin selaku trainer atau coach. Kegiatan selama 4 Jam ini diikuti oleh 7 orang peserta (4 Laki – laki dan 3 Perempuan ) dari 7 organisasi mitra Packard.

    Kegiatan dibuka oleh Intan Suhartini selaku Event Officer Lingkar Madani, dan dilanjutkan dengan pengantar oleh Elvita selaku perwakilan dari Divisi kurikulum.

    Ali, mengawali training dengan meminta peserta menuliskan lokasi lewat fitur chatbox, serta menjelaskan alur kegiatan. Dalam prosesnya, Ali memberikan kesempatan kepada peserta untuk langsung memberikan pertanyaan seputar materi. Pada materi ini Ia menjelaskan dengan detail agar peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang masing-masing faktor ilmiah yang mempengaruhi tingkat komitmen seseorang.

  • Webinar \”Health Care\”

    Jakarta, 12 Maret 2021, Lingkar Madani bekerjasama dengan Bali Usada menggelar serangkaian kelas dengan topik Selfcare.
    Bali Usada adalah sebuah pusat pelatihan meditasi kesehatan yang mengajarkan teknik meditasi kesehatan yang unik dan integratif agar dapat menjadi lebih sehat, tenang, dan bahagia. Bali Usada didirikan oleh Bapak Merta Ada selaku pendiri dan juga Guru Utama meditasi.
    Kelas meditasi diawali dengan Webinar “perkenalan untuk perawatan kesehatan” yang berlangsung selama 120 menit dan di hadiri oleh 62 peserta.

    Kegiatan ini dibuka oleh Nago Tejena selaku moderator, Nago mempersilahkan James Mc Caul dari OE The David and Lucille Packard Foundation, untuk sedikit memberikan kata sambutan sebelum di mulainya webinar “Perkenalan Untuk Perawatan Kesehatan” sebelum akhirnya memperkenalkan Bapak Merta Ada selaku Narasumber.

    Sesi pertama kegiatan, Bapak Merta Ada memberikan ceramah bagaimana teknik meditasi yang mana dalam meditasi ini kita menggerakkan dan melatih pikiran kita secara sadar agar bisa kita lebih bahagia. Tujuan dari meditasi adalah untuk menguatkan konsentrasi dan kesadaran.

    Sesi kedua adalah sesi pertanyaan, peserta di minta untuk menuliskan pertanyaan lewat fitur chat ataupun raisehand. Beberapa pertanyaan yang menarik di bacakan oleh Nago dan di jawab langsung oleh Bapak Merta Ada.

    Bapak Merta Ada, mengajak latihan bermeditasi di sesi ketiga, sebelumnya ia mengingatkan kembali bahwa meditasi ini adalah sebuah skill dan harus dilatih lebih sering. Pada saat meditasi, rilex adalah point penting dan juga berdoa menurut kepercayaan masing – masing.
    Sesi pertanyaan dibuka kembali setelah latihan meditasi. Diakhir acara, Bapak Merta Ada menyampaikan, agar melakukan pola hidup sehat saat melakukan meditasi.

  • Seri Pelatihan Resiliensi Finansial \”Strategi Finansial\”

    \"\"

    Menutup seri pelatihan Resiliensi Finansial bagi OMS, pada 15 s/d 19 Februari 2021, program Lingkar Madani menyelenggarakan pelatihan daring dengan tajuk “Strategi Finansial” melalui Learning Management System Lingkar Madani. Mengusung pendekatan belajar mandiri individu berbasis pendekatan teknologi. Para pengguna LMS Lingkar Madani telah mengakses materi pelatihan yang disampaikan oleh trainer dalam bentuk audio visual. Tak hanya itu, para pengguna juga dapat berinteraksi dengan para trainer melalui forum diskusi yang ada di dalam platform.

    Pertemuan daring yang diselenggarakan pada 19 Februari 2021 merupakan puncak dari pelatihan Strategi Finansial ini. Sebanyak 28 orang peserta representasi dari 15 OMS mitra David and Lucile Packard Foundation Indonesia, dipandu dengan trainer, Mario Ginting dan Subhan -yang lebih familiar dipanggil Bajay- mengulas habis, mengisi, dan melakukan analisa kesehatan finansial organiasi dengan menggunakan indikator-indikator yang ada di dashboard kesehatan finansial organisasi.

    Meski terkesan sangat teknis keuangan, dashboard kesehatan finansial organisasi merupakan alat bantu bagi OMS untuk pengambilan keputusan strategis yang akan mendukung penetapan strategi keberlanjutan finansial bagi organisasi selanjutnya. Para peserta pelatihan nampaknya juga mengamini hal ini, terbukti dengan antusiasme mereka pada saat mengikuti setiap proses pertemuan daring selama lebih dari 3 jam, dan umpan balik yang positif bagi kami sebagai penyelenggara. (TY)

  • Webinar \”Digital Fundraising\”

    Jakarta 09 Februari 2021, Program Lingkar Madani kembali menghelat webinar dengan tema “Strategi Penggalangan Dana Secara Digital bagi Organisasi Masyarakat Sipil”. Menghadirkan Sri Indiyastutik (Fundraising Director YAPIIKA-ActionAid) dan Linda Sukandar (Fundraising Direc-tor Plan International Indonesia) sebagai narasumber, kegiatan yang dimoderatori oleh Herman Simanjuntak (Resource Mobisation Specialist, TFCA Kalimantan), kegiatan selama 120 menit ini dihadiri oleh tak kurang dari 42 representasi dari OMS di Indonesia.

    Di sesi pertama, mbak Tutik – demikian Sri Indiyastutik biasa disapa- menjelaskan tentang bagaimana kanal digital menjadi bagian dari upaya fundraising yang dilakukan oleh YAPPIKA saat ini. Meski Indo-nesia menempati urutan ke-10 negara dengan tingkat kedermawanan tertinggi, khususnya yang berkaitan dengan isu keagamaan. Faktanya, OMS yang bukan berbasis keagamaan masih memiliki tantangan menembus “kedermawanan” masyarakat Indonesia, untuk pula peduli pada isu-isu sosial lainnya. Bebera-pa petikan pembelajaran menarik bagaimana menggalang dana ala YAPPIKA juga disampaikan mbak Tutik di sesi ini, seperti pentingnya riset untuk menetapkan target sasaran dan menyusun strategi pengga-langan dana, termasuk melibatkan melibatkan artis atau influencer untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

    Pada sesi kedua, Linda Sukandar menyampaikan pengalaman Plan Internasional Indonesia melakukan melakukan penggalangan dana dalam situasi pandemi. “Be A Hero”, sebuah kampanye dengan fokus pada perlindungan anak dan paramedis dari pandemi COVID-19 merupakan upaya Plan Internasional Indonesia melakukan penggalangan dana secara digital, ketika tehnik face to face tidak lagi mungkin dil-akukan di masa pandemi saat ini. Terus mengikuti tren yang terjadi merupakan salah satu tips yang disampaikan oleh mbak Linda dalam melakukan penggalangan dana, pada saat yang sama, melengkapi mbak Tutik, dia juga optimis, bahwasanya kanal digital memiliki potensi yang besar bagi OMS di Indone-sia untuk menggalang dana dari masyarakat secara luas.

    Webinar kali ini ditutup dengan rangkuman keseluruhan proses yang dikemas secara apik bang Herman dalam “7 Cara Ampuh dalam Melakukan Digital Fundraising” yakni; (1) Mengetahui siapa yang akan kita libatkan, mengetahui isu yang akan dikampanyekan, (2) Bagaimana bekerjasama antar tim, (3) Melibatkan media untuk publikasi, (4) Melibatkan atau endorse dari pemerintah, (5) Melibatkan publik figur dan relawan, (6) Kesiapan lembaga (kanal informasi, tim digital fundraising, budget), (7) Transparan dalam pelaporan. (KSF)

  • Strategi Penggalangan Dana Secara Digital bagi Organisasi Masyarakat Sipil

    Program Lingkar Madani kembali menghelat webinar dengan tema “Strategi Penggalangan Dana Secara Digital bagi Organisasi Masyarakat Sipil”. Menghadirkan Sri Indiyastutik (Fundraising Director YAPIIKA-ActionAid) dan Linda Sukandar (Fundraising Director Plan International Indonesia) sebagai narasumber, kegiatan yang dimoderatori oleh Herman Simanjuntak (Resource Mobisation Specialist, TFCA Kalimantan), kegiatan, yang berlangsung selama 120 menit dalam platform Zoom Webinar, ini dihadiri oleh tak kurang dari 42 representasi dari Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia.

    Di sesi pertama, mbak Tutik – demikian Sri Indiyastutik biasa disapa- menjelaskan tentang bagaimana kanal digital menjadi bagian dari upaya fundraising yang dilakukan oleh YAPPIKA saat ini. Meski Indonesia menempati urutan ke-10 negara dengan tingkat kedermawanan tertinggi, khususnya terkait isu keagamaan, faktanya OMS yang bukan berbasis keagamaan masih memiliki tantangan menembus “kedermawanan” masyarakat Indonesia, untuk pula peduli pada isu-isu sosial lainnya. Beberapa petikan pembelajaran menarik bagaimana menggalang dana ala YAPPIKA juga disampaikan mbak Tutik di sesi ini, seperti pentingnya riset untuk menetapkan target sasaran dan menyusun strategi penggalangan dana, termasuk melibatkan melibatkan artis atau influencer untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

    Pada sesi kedua, Linda Sukandar menyampaikan pengalaman Plan Internasional Indonesia melakukan melakukan penggalangan dana dalam situasi pandemi. “Be A Hero”, sebuah kampanye dengan fokus pada perlindungan anak dan paramedis dari pandemi COVID-19 merupakan upaya Plan Internasional Indonesia melakukan penggalangan dana secara digital, ketika teknik face to face tidak lagi mungkin dilakukan di masa pandemi saat ini. Terus mengikuti tren yang terjadi merupakan salah satu tips yang disampaikan oleh mbak Linda dalam melakukan penggalangan dana, pada saat yang sama, melengkapi mbak Tutik, dia juga optimis, bahwasanya kanal digital memiliki potensi yang besar bagi OMS di Indonesia untuk menggalang dana dari masyarakat secara luas.

    Webinar kali ini ditutup dengan rangkuman keseluruhan proses yang dikemas secara apik bang Herman dalam “7 Cara Ampuh dalam Melakukan Digital Fundraising” yakni; (1) Mengetahui siapa yang akan kita libatkan, mengetahui isu yang akan dikampanyekan, (2) Bagaimana bekerjasama antar tim, (3) Melibatkan media untuk publikasi, (4) Melibatkan atau endorse dari pemerintah, (5) Melibatkan publik figur dan relawan, (6) Kesiapan lembaga (kanal informasi, tim digital fundraising, budget), (7) Transparan dalam pelaporan. [KSF]

  • Crafting Meaningful Online Meetings & Workshops

    26-27 Januari 2021. Yayasan Penabulu menyelenggarakan pelatihan “Crafting Meaningful Online Meeting & Workshops” selama dua hari, pada Rabu 26 Januari dan Kamis 27 Januari 2021. Penyelenggaraan pelatihan ini bekerjasama dengan InsightPact didukung oleh The David and Lucile Packard Foundation (Packard) dalam program Organizational Effectiveness. Pelatihan ini termasuk dalam tema Digital Learning yang bertujuan untuk penguatan organisasi mitra Packard di Indonesia menghadapi situasi pandemi agar tetap dapat menjaga dan meningkatkan kualitas kerjanya. Terdapat 77 peserta mitra Packard yang hadir. Meski diselenggarakan secara daring, pelatihan berjalan interaktif, dinamis dan memberikan pengetahuan yang solutif dan aplikatif untuk para mitra.

    Pelatihan diberikan oleh Irene Laochaisri selaku Co-Founder InsightPact yang memiliki pengalaman fasilitator, design researcher, dan merupakan development practitioner berbasis di Bangkok, Boston, and Berlin. Ada pula Michou Tchana-Hyman selaku co-trainer yang juga memiliki pengalaman multi isu social entrepreneurship, youth development dan social innovation.

    Di hari pertama diskusi berjalan sangat dinamis. Pelatihan dibuka melalui perkenalan seluruh peserta dengan cara yang unik: yaitu menyebutkan satu fakta menarik tentang diri kita. Lalu dilanjutkan dengan pengenalan InsightPact, kebutuhan teknis dan agenda yang akan dibicarakan dalam pelatihan.

    Pelatihan pada hari pertama bertujuan untuk berbagi dan menumbuhkan ide tentang pendekatan dalam memfasilitasi kegiatan daring untuk bisa menjadi fasilitator terbaik. Kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi dan tukar ide tentang praktik baik yang pernah dilakukan masing-masing peserta.

    Peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk diskusi dengan metode simulasi kasus. Setiap kelompok diberikan kasus yang berbeda, masing-masing menarik dan pernah terjadi dalam keadaan nyata. Kemudian kelompok mempresentasikan rencana mereka terhadap kasus tersebut.

    Di hari kedua, pelatihan bertujuan supaya peserta bisa membentuk rencana online event atau meeting dengan assessment tools yang diberikan oleh InsightPact yaitu dialogue canvas.

    Mengingat banyaknya aktivitas secara daring yang gampang membosankan, Dialogue Canvas yang diberikan sangat solutif dan aplikatif untuk dijadikan acuan minimum dalam penyelenggaraan event secara online bagi para mitra.

  • Seri Resiliensi Finansial \”Lanskap Pendanaan dan Diversifikasi Pendapatan”

    Pelatihan ini merupakan rangkaian dari Program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang di inisiasi oleh Yayasan Penabulu dan Packard Foundation yang merupakan Seri dari Pelatihan Resiliensi Finansial.

    Pelatihan yang berdurasi 120 menit dimoderatori oleh M. Suhud Ridwan dan meghadirkan 2 (dua) narasumber ahli yaitu; Paul Mario Ginting dan Subhan dari Yayasan Penabulu. Pelatihan ini membahas 2 hal ; (1) Lanskap Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil, dan (2) Diversifikasi Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil.

    Kedua materi ini hanyalah sebagai pengantar untuk menuju seri pelatihan selanjutnya yaitu Strategi Finance Mengahadapi Covid 19. Dari paparan kedua narasumber, dapat dipetik beberapa point penting yakni:

    1. Organisasi Masyarakat Sipil mengalami perubahan dalam konteks pendanaan -yang awalnya pendanaan organisasi hanya bersumber dari lembaga donor saja-, saat ini banyak juga organisasi yang mulai mengembangkan peluang pendanaan organisasinya melalui bisnis social dengan membangun koperasi, menjadi lembaga sertivikasi dan lain-lainnya.
    2. Untuk mengembangkan keragaman pendanaan organisasi, sebaiknya sebuah organisasi melakukan;
      • Identifikasi pendana potensial di luar lembaga donor
      • Bagaimana menjangkau pendana potensial ini
      • Bagaimana mempertahankan pendana ini agar terus mendanai organisasi, dan
      • Bagaimana mengoptimalkan dana tersebut untuk keberlanjutan organisasi
    3. Sebuah organisasi harus mengecek kesehatan keuangan organisasinya minimal dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh ketergantungan sebuah organisasi anda terhadap donor serta dengan dana cadangan yang ada berapa lama oragnisasi ini bias bertahan.

    Pelatihan ini diikuti oleh 9 dari 34 oraganisasi mitra DLPF diantaranya; AMAN, Barunastra, Fitra Riau, Coaction Indonesia, YP3SP, Traction Energy Asia, LTKL, PPMA dan IOJI. Walaupun demikian, pelatihan ini memberi wawasan kepada peserta pelatihan betapa pentingnya sebuah organisasi untuk berkembang dan beradaptasi dengan kondisi pendanaan yang ada. Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan spesifik yang dilontarkan para peserta kepada kedua narasumber.

  • Seri Pelatihan Resiliensi Finansial \”Lanskap Pendanan dan Diversifikasi Pendanaan”

    \"\"

    Pelatihan ini merupakan rangkaian dari Program “Strengthening Effectiveness COVID-19 Response Program for Civil Society Partner in Indonesia” yang di inisiasi oleh Yayasan Penabulu dan Packard Foundation yang merupakan Seri dari Pelatihan Resiliensi Finansial.
    Pelatihan yang berdurasi 120 menit di moderatori oleh M. Suhud Ridwan yang meghadirkan 2 narasumber ahli yaitu; Paul Mario Ginting dan Subhan dari Yayasan Penabulu. Pelatihan ini membahas 2 hal ;

    1. Lanskap Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil, dan
    2. Diversifikasi Pendanaan bagi Organisasi Masyarakat Sipil

    2 materi ini hanya sebagai pengantar untuk menuju seri pelatihan selanjutnya yaitu Strategi Finance Menghadapi Covid 19.
    Dari paparan kedua narasumber, ada beberapa point penting yang kami catat ;

    1. Organisasi Masyarakat Sipil mengalami perubahan dalam konteks pendanaan yang awalnya pendanaan organisasi hanya bersumber dari lembaga donor saja, saat ini banyak juga organisasi yang mulai mengembangkan peluang pendanaan organisasinya melalui bisnis sosial dengan membangun koperasi, menjadi lembaga sertifikasi dan lain-lainnya.
    2. Untuk mengembangkan keragaman pendanaan organisasi, sebaiknya sebuah organisasi melakukan;
      1. Identifikasi pendana potensial di luar lembaga donor
      2. Bagaimana menjangkau pendana potensial ini
      3. Bagaimana mempertahankan pendana ini agar terus mendanai organisasi, dan
      4. Bagaimana mengoptimalkan dana tersebut untuk keberlanjutan organisasi
    3. Sebuah organisasi harus mengecek kesehatan keuangan organisasinya minimal dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh ketergantungan sebuah organisasi anda terhadap donor serta dengan dana cadangan yang ada berapa lama organisasi ini bisa bertahan.

    Pelatihan ini diikuti oleh 9 organisasi mitra Packard diantaranya; AMAN, Barunastra, Fitra Riau, Coaction Indonesia, YP3SP, Traction Energy Asia, LTKL, PPMA dan IOJI. Walaupun yang hadir hanya 9 Organisasi dari 34 organisasi Mitra Packard, pelatihan ini cukup memberi wawasan kepada peserta pelatihan tentang pentingnya sebuah organisasi untuk berkembang dan beradaptasi dengan kondisi pendanaan yang ada.  Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan spesifik yang dilontarkan para peserta kepada kedua narasumber.