Pelatihan

Workshop #1 Revolusi Digital Kampanye Sosial “Menciptakan Kampanye yang Berkelanjutan di Ruang Digital”

Akun media sosial NGO selalu kalah dengan brand. Karena, tak ada komunikasi dua arah  dengan audiens. Brand lebih jago, kita tahu itu, tapi kita tidak mau terjun lebih lanjut. 

~ Juris Bramantyo

 

Juris Bramantyo mengajak peserta yang hadir untuk berkenalan dan menuliskan kampanye apa yang sedang dilakukan, melalui kotak percakapan di Zoom, pada sesi pertama serial pelatihan Revolusi Digital Kampanye Sosial, bertajuk Mengangkat Isu Keberlanjutan di Era Digital, 18 Maret 2022. Selanjutnya, Juris menggarisbawahi tema sesi ini mengenai bagaimana menciptakan kampanye yang berkelanjutan

Kampanye yang berkelanjutan berarti tidak hanya waktu singkat, loh, juga bukan sekedar projek atau eksistensi. Kampanye berkelanjutan itu harus ramah lingkungan, ramah sosial, dan menjamin ketahanan. Kampanye berkelanjutan bukan berarti hanya bicara lingkungan saja, tapi semua sektor. Malah, kampanye lingkungan belum tentu kampanye yang berkelanjutan jika tidak memenuhi hal tadi. Juris bilang inilah paradigma yang harus diubah tentang kampanye lingkungan adalah kampanye yang berkelanjutan. 

Berdasarkan KBBI, kosakata ‘berkelanjutan’  merupakan sinonim dari “lestari”, “tidak berubah”, “bertahan”, “kekal”. Nah, sebelum berkampanye, kita pahami terlebih dahulu definisinya, kita juga harus mengenal ‘arwah’ organisasi kita, seperti: isu khas organisasi; minat audiens; dan isu kesukaan kita pribadi—biasanya kita dengan mudah menciptakan kampanye kreatif, konsisten, dan melakukan kegiatan dalam kampanye, menjadikan kebiasaan, dan mendokumentasikan, lalu  membagikan ceritanya kepada audiens. 

Kita pun perlu hindari memetakan isu yang bisa bikin kampanye kita tidak berhasil dan tidak berkelanjutan. Menurut Julius, isu yang berdiri sendiri harus diubah menjadi isu mainstreaming, maksudnya, dikawinkan dengan masalah-masalah yang dekat dengan masyarakat, atau yang mudah dipahami, sehingga menjangkau audiens lebih luas,  misal isu kelapa sawit dengan kecantikan, isu krisis pangan dengan hobi makan enak, isu sampah dengan pariwisata, dan sebagainya. 

Serunya lagi, Julius membagikan cara membuat kampanye berkelanjutan, yaitu: SMART. Ini bukan nama aplikasi, ya. Melainkan, SMART (specific, measurable, achievable, relevant, time bound). Dan, Kunci sukses berdigital, yaitu:

  • Bangun narasi yang kuat,
  • Pilih kanal da aktivitas yang tepat,
  • Produksi konten dan kegiatan yang memikat,
  • Buka ruang untuk bereksperimen dengan kreativitas dan inovasi yang cepat. Misal di kalimantan ada giliran mati lampu, apa yang baik, misal buka kelas whatsapp. 
  • Bangun komunikasi dan interaksi dua arah agar audiens selalu merasa terlibat
  • Pelajari ekosistemnya dan gunakan beragam alat
  • Perbarui data dan terapkan strategi yang menguntungkan dengan cermat. 

Hmm, masih banyak lagi yang dibeberkan secara detil oleh narasumber. Belum  ditambah kisi-kisi dari fasilitator Ahmad Azis (Engagement Lead, Campaign.com) dan Anugerah Putra (Outreach Manager, Campaign.com).

Kamu kecewa karena nggak sempat bergabung? Tenang, masih ada workshop minggu depan, dan tugas yang akan dibahas pada kesempatan dan bisa dilihat

Pantau terus kegiatan Program Lingkar Madani di website ini. Kegiatan ini merupakan kerja sama Yayasan Penabulu dan Campaign.com.

Lanjut baca: Workshop #2 Revolusi Digital Kampanye Sosial “Strategi Menyusun Amplifikasi Digital

Bagikan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Penyedia Layanan

Pakar/ Narasumber

Jumlah Peserta

21 Orang

Dokumen terkait

Berkas-berkas kegiatan ini hanya tersedia untuk para Organisasi Masyarakat Sipil yang terdaftar sebagai mitra program Organizational Effectiveness dari the David and Lucile Packard Foundation.

Jika Anda adalah salah satu dari mitra tersebut namun mengalami kesulitan dalam mengakses berkas, silakan layangkan email ke coaching.dlpf@penabulu.id dan berikan penjelasan Anda. Terima kasih!