Setiap manusia tanpa memandang status, usia, pendidikan, pasti mengalami stress, bahkan hewan pun merasakannya. Yang membedakan adalah bentuk, tingkat, dan cara menghadapi stress. Saat seseorang mampu mengelola stress dengan baik, kualitas hidupnya akan meningkat. Itulah sebab Lingkar Madani dan Angsamerah merasa penting mengajak Baby Jim Aditya menjadi narasumber dalam webinar “Mengenal dan Membangun Coping Stress”, Selasa, 9 Agustus 2022.
Tubuh, pikiran, dan jiwa saling berkaitan dengan perilaku, dan saling memberikan efek, baik itu positif maupun negatif. Jika manusia berpikir keras, tak hanya tubuh yang mendapatkan impak, melainkan jiwa akan terganggu, dan otomatis perilaku berubah. Disinilah Coping stress mechanism berperan untuk menyimbangkan, karena hidup harus seimbang, karena manusia diberikan akal dan pikiran.
Pertama yang harus dilakukan adalah mendeteksi stress. Langkah ini kemudian langsung dipraktikkan moderator, Adhe Zamzam, kepada seluruh peserta untuk mengutarakan perasaannya saat itu, menggunakan aplikasi menti.com. Kebanyakan dari peserta menuliskan “lelah” sebagai perasaannya, hal ini menunjukan kemampuan kita mendeteksi dan menuangkan perasaan. Tapi, stress itu bukan berdampak negatif saja, loh.
Dr. Baby Siti Salamah, M.Psi., Psikolog, yang lebih dikenal dengan nama Baby Jim Aditya, menerangkan bahwa stress itu ada 2 macam, negatif (distress) dan positif (eustress). Eustress malah dapat meningkatkan semangat dan pencapaian kerja, bahkan kepuasan hidup. Seorang yang mengalami stress bisa menyalurkan dengan pikiran yang positif, dia justru bertambah semangat, mengalihkan pikiran negatif ke perilaku yang positif.
“Distress bisa diubah menjadi eustress,” tegas Dr. Baby Siti Salamah, narasumber webinar kali ini, ‘tergantung pilihan kita,” sambungnya. Jadi pelabelan stress yang dihubungkan stress, harus mulai kita hilangkan.
Narasumber pun menceritakan kenyataan yang sering dibahas orang-orang itu ialah Psychological distress, yaitu perasaan yang tidak nyaman, ketidaknyaman jiwa, yang dapat berdampak pada pandangan negatif terhadap orang lain, lingkungan dan diri sendiri, juga kesedihan, kecemasan, bahkan sampai mengalami gangguan jiwa.
Lantas, bagaimana atasi stress menggunakan Coping stress mechanism?
- Appraisal focused. Langsung menantang asumsi dan adaptif kognitif pada pikiran individu—terjadi jika individu memodifikasi cara berpikirnya, salah satu contoh: mengambil jarak dari masalah.
- Problem focused. Bertujuan mengurangi sumber stress atau mengubahnya. Caranya: menemukan sumber masalah dan belajar cara baru untuk mengelolanya , mengendalikan, mencari info dan menimbang pro–kontra.
- Emotion focused. Bertujuan menantang emosi seseorang, belajar mengekspresikan perasaan dengan cara tepat, mengalihkan perasaan, mengelola perasaan yang keliru, mengelola perasaan, meditasi, relaksasi–bernafas itu penting, master of everything.
Setiap manusia punya kendali terhadap diri sendiri. Kita yang harus baik dan memberikan penghargaan pada diri sendiri. Dan mengelola stress itu harus latihan. Eits, ini ternyata ada ada kelasnya, loh. Tapi khusus buat Mitra Lingkar Madani, ya. Agar hidup makin menarik dan jauh lebih ringan. Sebelum webinar selesai, narasumber mengatakan, “Kalau stress tidak bisa dikendalikan sendiri dan support system, silakan cari bantuan profesional.”